Saham BUMN melemah jadi kabar yang ramai dibicarakan. Setelah peluncuran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), harga saham sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami penurunan.
Baca Juga: Cara Beli Saham Meta Facebook untuk Investasi
Menanggapi hal ini, Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa penurunan tersebut bukanlah fenomena baru dan telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Ia meyakini bahwa saham-saham BUMN akan kembali menguat, mengingat fundamental perusahaan yang kuat dan valuasi yang menarik. Rosan juga menekankan pentingnya melihat kondisi fundamental perusahaan dalam berinvestasi.
Penjelasan Rosan Roeslani Terkait Saham BUMN Melemah
Rosan Roeslani memberikan penjelasan terkait penurunan harga saham BUMN setelah peluncuran BPI Danantara. Menurutnya, tren penurunan harga saham sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir dan bukan fenomena baru.
Ia menyoroti bahwa koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun hingga di bawah level 7.000 bukanlah kejadian mendadak, melainkan hasil dari beberapa faktor yang memengaruhi pasar dalam kurun waktu tertentu.
“Ada faktor. Banyak faktor, faktor teknikal, ada (juga) faktor fundamental, faktor market, dan yang lain-lain,” ucap Rosan dalam wawancara CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 di daerah Jakarta, pada Kamis (27/2/2025). Menyatakan bahwa saham BUMN melemah karena ada banyak faktornya.
Optimis Kondisi Pasar Akan Kembali Membaik
Meskipun demikian, Kepala BKPM, Rosan Roeslani, tetap optimis bahwa kondisi pasar saham akan segera membaik. Ia menilai bahwa penurunan harga saham dapat menciptakan peluang investasi, karena valuasi sejumlah saham big cap penggerak indeks menjadi lebih menarik bagi investor.
“Saya yakini bahwa kedepannya saham kita akan naik. Kenapa? Karena valuasi dari saham-saham kita ini sudah menjadi sangat affordable, sangat-sangat baik,” tuturnya.
IHSG Turun Dalam Sepekan
IHSG turun dalam sepekan terakhir, yakni sekitar 2,8%. Koreksi ini mampu membawa tekanan indeks 6,7% sepanjang tahun berjalan. Rosan Roeslani menyoroti adanya faktor eksternal, khususnya pada langkah Morgan Stanley yang mana memangkas peringkat atau rating MSCI Indonesia. Ini karena adanya ketidakpastian iklim ekonomi domestik.
Dalam dokumen Morgan Stanley pada tanggal 9 Februari 2025 lalu, peringkat saham MSCI Indonesia telah dipangkas dari equal weight, kemudian menjadi underweight. Rosan pun menekankan pergerakan saham, baik naik atau turun, ialah suatu hal yang wajar dalam dinamika pasar modal. Jadi, saham BUMN melemah adalah suatu hal yang biasa juga.
Saham BUMN Tertekan, IHSG Terimbas
Pelemahan IHSG ini disebabkan oleh koreksi harga saham sejumlah emiten BUMN. Adapun perusahaan tersebut seperti, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun ke 1,1% ke Rp 4.970.
Baca Juga: Rp 4 Triliun Lebih Aliran Modal Asing Masuk, Saham RI Terbang Tinggi!
Sementara itu, saham milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. turun 0,77% ke Rp 3.870, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. turun 1,54% ke Rp 2.560.
Investasi Bukan untuk Jangka Pendek
Roslan Roeslani mengingatkan bahwa investasi di pasar modal tujuannya bukan untuk jangka pendek, tetapi harus masyarakat lihat dalam perspektif jangka menengah hingga panjang.
“Saya meyakini ini saham kita akan rebound kembali, akan kembali naik. Karena kenapa? Kalau saya ini investasi, saya percaya dengan fundamental,” tuturnya lagi.
Peluncuran Awal
Peluncuran Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto menandai adanya langkah strategis pemerintah Indonesia dalam mengelola aset milik negara.
Adanya proyeksi dana awal yang mencapai USD 20 Miliar, Danantara diharapkan menjadi salah satu badan pengelola investasi yang terbesar di dunia. Akan tetapi, alih-alih memicu euforia di pasar modal, justru peluncurannya diiringi koreksi pada IHSG dan juga saham BUMN melemah.
Ini terjadi sebab IHSG menguat 13,582 poin atau 0,20% ke level 6.816,584 pada hari pertama peluncuran. Akan tetapi, hingga penutupan, IHSG justru melemah 53,40 point atau 0,70% ke level 6.749,60.
Seperti penjelasan sebelumnya, yang mana saham milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) telah mengalami penurunan yang signifikan. Ini sejalan dengan adanya kekhawatiran para investor terhadap kebijakan dividen serta perubahan struktur kepemilikan.
Selain itu, kredibilitas dan independensi manajemen Danantara ini menjadi sorotan. Analisis pun menekankan pentingnya pemilihan pemimpin yang profesional serta bebas dari afiliasi politik. Tujuannya adalah untuk memastikan adanya transparansi dan akuntabilitas dalam hal pengelolaan investasi.
Baca Juga: Laba Bank Mandiri dan BRI Tembus Rp 115,5 T, Saham Meroket
Jika posisi strategis ini terisi oleh individu dengan adanya hubungan politik atau afiliasi birokrasi dan tanpa adanya keahlian, akan muncul risiko moral hazard. Ini pada gilirannya pun mampu memengaruhi stabilitas IHSG dan juga nilai tukar rupiah. Ini pula yang menjadi kekhawatiran saham BUMN melemah pada akhirnya. (R10/HR-Online)