harapanrakyat.com,- Semangat menjaga sejarah dan tradisi terus hidup di tengah masyarakat Desa Batumalang, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pada Kamis, 7 Mei 2026, desa tersebut genap berusia 42 tahun sejak resmi berdiri pada tahun 1984.
Peringatan Milangkala Desa Batumalang tahun ini berlangsung meriah dengan nuansa budaya yang kental. Beragam pertunjukan seni tradisional ditampilkan, mulai dari pencak silat hingga tari jaipong yang dibawakan anak-anak sekolah dasar setempat. Kehadiran generasi muda dalam acara itu menjadi simbol bahwa warisan budaya dan sejarah desa tetap dijaga lintas generasi.
Baca Juga: Truk Bermuatan Batok Kelapa Tabrak Warung Seblak di Pangandaran hingga Hancur
Tokoh pemuda Batumalang, Nurman Arifin mengatakan, masyarakat memiliki komitmen untuk tidak melupakan asal-usul desa. Menurutnya, keberadaan para sesepuh dan padepokan di wilayah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga nilai sejarah dan tradisi masyarakat.
“Alhamdulillah, hingga sekarang masih banyak generasi penerus yang peduli terhadap budaya dan sejarah desa,” kata Nurman, Kamis 7 Mei 2026.
Dalam momen Milangkala itu, para kepala desa dari masa ke masa juga turut dikenang. Bagi tokoh yang telah wafat, kehadirannya diwakili oleh pihak keluarga sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya membangun desa.
Sejarah Singkat Batumalang, Salah Satu Desa di Pangandaran
Selain pentas budaya, acara juga diisi dengan pembacaan sejarah singkat berdirinya Desa Batumalang oleh Tim Penyusun Sejarah Desa. Ketua tim, Hendri Oktapriatna, menjelaskan bahwa lahirnya Desa Batumalang berawal dari keinginan masyarakat di empat dusun, yakni Gadog, Lebaksari, Citarik, dan Sodong, untuk mendapatkan pelayanan pemerintahan yang lebih dekat dan efektif.
Kala itu, wilayah tersebut masih berada di bawah pemerintahan Desa Legokjawa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis. Setelah Kecamatan Cimerak resmi dimekarkan pada 22 September 1979, aspirasi pembentukan desa baru semakin menguat.
“Jarak pelayanan yang cukup jauh menjadi alasan utama masyarakat mengusulkan pemekaran wilayah,” kata Hendri saat membacakan sejarah pada Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menjelaskan, sebelum resmi menjadi desa definitif, pelayanan pemerintahan sementara dilakukan di rumah seorang warga bernama Yunus di Dusun Gadog. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai cikal bakal lahirnya Pemerintahan Desa Batumalang.
Nama Batumalang sendiri dipilih karena dianggap memiliki filosofi kekuatan wilayah dan berada di titik tengah empat dusun yang mengusulkan pemekaran.
Meski sempat menghadapi kendala pembebasan lahan untuk pembangunan kantor desa, pemerintah akhirnya menetapkan pusat pemerintahan berada di wilayah Gadog, yang kini menjadi lokasi kantor Desa Batumalang.
Sejak berdiri hingga saat ini, Desa Batumalang telah dipimpin enam kepala desa, yakni H. Ahdia, H. Muhidin, H. Danu, H. Suharto, Jaja Jaedi, dan Yusup Tajiri.
Hendri berharap semangat Milangkala menjadi pengingat pentingnya persatuan dan gotong royong dalam membangun desa.
“Semoga Batumalang semakin mandiri, maju, dan mampu bersaing dengan tetap menjaga semangat kebersamaan serta tidak melupakan sejarah,” ujarnya. (Kiki/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

4 hours ago
9

















































