Beda keracunan dan alergi makanan pada anak sering kali sulit orang tua kenali karena gejalanya hampir mirip. Keduanya memang sama-sama bisa menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan serta kondisi tubuh anak jadi tidak nyaman. Akan tetapi, penyebab dan mekanismenya berbeda. Berikut ialah penjelasannya.
Baca Juga: Bedak untuk Gatal Alergi yang Efektif dan Nyaman di Kulit
Beda Keracunan dan Alergi Makanan, Begini Prosesnya Kejadiannya
Keracunan dan alergi makanan tidaklah sama. Dalam hal ini, keracunan makanan bisa terjadi ketika anak mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, parasit, atau zat berbahaya. Kontaminasi ini biasanya berasal dari proses pengolahan atau penyimpanan makanan yang tidak higienis.
Sementara itu, alergi makanan merupakan reaksi sistem imun terhadap jenis makanan tertentu. Pada kasusnya, tubuh akhirnya menganggap protein dalam makanan sebagai ancaman. Hingga pada akhirnya proses tersebut bisa memicu reaksi berlebihan meskipun makanan tersebut sebenarnya aman bagi kebanyakan orang.
Penyebab Keracunan dan Alergi Makanan
Penyebab utama keracunan makanan adalah mikroorganisme seperti Salmonella, E. coli, atau Norovirus. Selain itu, makanan yang tidak melalui proses masak secara sempurna, sudah kedaluwarsa, atau tersimpan lama dalam suhu tidak tepat menjadi faktor risiko utamanya.
Lalu, kebersihan alat makan dan tangan juga punay pengaruh besar. Sebab, makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan pencernaan dalam waktu singkat setelah anak-anak mengonsumsinya.
Baca Juga: Ciri Batuk Alergi Dingin Beserta Cara Mengatasi dan Mencegahnya
Beda keracunan dan alergi makanan, alergi makanan justru pemicunya karena respons sistem imun terhadap bahan tertentu seperti susu, telur, kacang, atau seafood. Nah reaksi ini bersifat individual dan bisa berbeda pada setiap anak.
Gejala Keracunan dan Alergi Makanan
Untuk gejala keracunan makanan pada anak biasanya muncul beberapa jam setelah mereka makan. Ciri-ciri yang sering terlihat seperti halnya mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam ringan. Kondisi ini bisa berlangsung selama beberapa hari tergantung tingkat keparahannya.
Bahkan pada beberapa kasus, keracunan makanan juga bisa menyebabkan dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh yang cukup banyak. Kondisi ini perlu perhatian lebih agar tidak membahayakan kesehatan anak.
Sementara itu, alergi makanan sering muncul lebih cepat, bahkan dalam hitungan menit hingga dua jam setelah konsumsi. Gejalanya bisa berupa ruam kulit, gatal, bengkak pada wajah, sesak napas, hingga gangguan pencernaan ringan.
Penanganan Keracunan dan Alergi pada Anak
Beda keracunan dan alergi makanan juga terjadi pada penanganannya. Penanganan keracunan makanan pada anak umumnya berfokus pada penggantian cairan tubuh. Mengonsumsi air putih atau oralit yang sering sangat dianjurkan untuk mencegah dehidrasi.
Selain itu, istirahat yang cukup juga membantu mempercepat pemulihan. Sebab, pengawasan kondisi anak menjadi penting untuk memastikan tidak terjadi komplikasi. Namun, pada kasus berat, penanganan medis lebih lanjut harus dilakukan.
Sementara alergi makanan, langkah utama menanganinya adalah dengan menghindari makanan pemicunya. Jika reaksinya cukup berat, maka obat antihistamin atau penanganan darurat mungkin sangat perlu.
Baca Juga: Gatal Karena Alergi Air Hujan, Begini Penjelasannya
Beda keracunan dan alergi makanan pada anak terletak pada penyebab, gejala, dan cara penanganannya. Penyebab keracunan makanan terjadi karena kontaminasi, sedangkan alergi berasal dari reaksi sistem imun terhadap makanan tertentu. Pemahaman beda keracunan dan alergi makanan ini sangat penting supaya penanganan yang diberikan tepat serta tidak terlambat. (R10/HR-Online)

12 hours ago
14

















































