harapanrakyat.com,- Melonjaknya harga sejumlah bahan baku secara signifikan membuat para pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor pengrajin tahu dan tempe kini berada di posisi yang kian terjepit. Kenaikan biaya produksi yang tidak sebanding dengan pendapatan, membuat keuntungan para perajin tahu tempe kian menipis.
Baca Juga: Hadapi Tekanan Berat, Pengrajin Tempe di Cimahi Terjepit Harga Kedelai
Seperti yang dialami Imin Muslimin, pengusaha tahu dan tempe di Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, yang mempunyai 8 orang karyawan. Ia harus memutar otak untuk mengejar-ngejar keuntungan, agar usahanya tetap stabil di tengah harga bahan baku yang semakin ugal-ugalan dampak melemahnya rupiah.
Imin mengungkapkan, bahwa hampir seluruh komponen bahan baku mengalami kenaikan harga yang terus melonjak tajam. Kondisi ini membuat keberlangsungan usaha mereka menjadi terancam akibat hilangnya margin keuntungan.
Seperti kedelai harganya naik dari Rp 9.000 menjadi Rp 11.000 per kilogram. Kemudian plastik kemasan dari Rp 700 ribu per bal, sekarang menjadi Rp 1.050.000 per bal. Kemudian, garam borosok dari Rp 90.000, sekarang harganya mencapai Rp 150.000 per bal. “Biaya bahan bakar juga naik. Dari Rp 1,4 juta per truk menjadi Rp 2 juta,” ungkapnya saat ditemui di tempat produksinya, Rabu (20/5/2026).
Harga Tetap, Untung Menyusut; Dilema Pengusaha Tahu Tempe di Tasikmalaya
Meskipun dihadapkan pada situasi pelik, Imin mengaku tidak berani menaikkan harga jual tahu ke pasaran. Hal tersebut lantaran kebijakan menaikkan harga tidak bisa dilakukan secara sepihak, melainkan harus diputuskan secara serentak oleh seluruh pedagang tahu dan tempe di wilayah tersebut.
“Pokoknya harga jual masih normal, ukuran timbangan juga normal. Alasan tidak menaikkan harga, karena kalau menaikkan sendiri otomatis akan ditinggal oleh pelanggan. Jadi harus kompak seluruh penjual tahu dan tempe,” jelasnya.
Sedangkan untuk menyiasati pembengkakan biaya operasional dan menjaga usaha tetap berjalan, Imin terpaksa mengambil langkah pahit, dengan mengurangi jumlah karyawannya. Langkah ini diambil karena pendapatan yang masuk sudah tidak lagi sebanding dengan beban pengeluaran.
Ia menggambarkan kondisi keuangan usahanya saat ini kian memprihatinkan, akibat dampak pelemahan ekonomi yang sangat terasa di tingkat bawah. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan belanja bahan baku terakhir, pengusaha tahu tempe asal Kecamatan Mangkubumi ini mengaku sempat mengalami kekurangan modal hingga jutaan rupiah.
“Pendapatannya semakin tipis setipis tisu, susah sekali cari untung. Kemarin saja waktu belanja sampai punya tunggakan kekurangan Rp 4 juta. Pelemahan nilai tukar rupiah ini sungguh sangat terasa dampaknya bagi kami,” keluhnya.
Melalui situasi sulit ini, para pengusaha berharap ada langkah nyata dan intervensi dari instansi pemerintah, terkait untuk menyelamatkan sektor UMKM yang sedang bertahan di tengah himpitan ekonomi.
Baca Juga: Harga Kedelai Stabil, Pengusaha Tahu Sumedang Justru Keluhkan Naiknya Minyak Goreng
“Harapannya bagi pemerintah, mohon bantu kami para UMKM pengusaha tahu tempe. Saat ini keuntungan kami sangat minim. Mau tidak melanjutkan usaha, ini sudah jadi mata pencaharian utama. Bagaimana dengan nasib karyawan yang punya tanggung jawab menghidupi anak istri mereka? Kami bertahan dan berharap ke depannya harga kembali normal dan ada perhatian dari pemerintah,” pungkasnya. (Apip/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

17 hours ago
9

















































