Surat As Saffat 103 merupakan bagian dari kitab suci Al Quran yang sangat penting untuk umat Muslim pahami. Meski terbilang pendek, ayat 103 dalam Surat As Saffat sejatinya memiliki makna mendalam. Ayatnya menjadi salah satu puncak kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS jelang perintah kurban.
Baca Juga: Ayat Tentang Ghanimah, Harta Rampasan Saat Perang
Memahami Isi Kandungan Surat As Saffat 103
As Saffat adalah surah ke-37 di Al Quran yang terdiri atas 182 ayat. As Saffat termasuk golongan surah Makkiyah karena turun di Kota Makkah. Surah ini menegaskan keesaan Allah, menyucikan-Nya dari segala tuduhan kaum musyrikin, serta membantah keyakinan keliru mengenai malaikat dan jin.
Selain itu, di dalamnya turut mengabadikan berbagai kisah para nabi dan rasul sebagai teladan bagi seluruh umat manusia. Di antara cerita yang paling terkenal adalah kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Allah menggambarkan kesabaran, ketaatan, sekaligus keikhlasan mereka dalam menjalankan perintah-Nya.
Dalam rangkaian As Saffat ayat 101 hingga 107, tertulis secara jelas bahwa Nabi Ibrahim AS telah lama mendambakan keturunan. Sampai akhirnya mendapat seorang anak yang sholeh, yakni Ismail AS. Namun, kebahagiaan itu menemui ujian pasca datang permintaan Allah SWT yang sangat berat. Apalagi jika bukan perintah untuk menyembelih anaknya sendiri sebagai bentuk ujian keimanan.
Keikhlasan dalam Menjalankan Perintah
Khusus pada As Saffat 103, tergambar bagaimana momen puncak dari ketaatan Nabi Ibrahim AS. Dalam tafsirnya, Ibrahim AS mendapat perintah untuk melaksanakan penyembelihan terhadap putranya, Ismail. Meski awalnya ragu dan sedih, ia tetap menjalankan perintah tersebut dengan penuh keikhlasan.

Ibrahim AS kemudian membaringkan Ismail dengan posisi siap untuk melaksanakan perintah Allah. Dalam sebagian riwayat tafsir, dijelaskan bahwa Ismail AS juga menunjukkan ketundukan luar biasa. Ia menerima perintah tersebut dengan lapang dada. Bahkan menunjukkan sikap sabar dan rela demi ketaatan sang ayah kepada Allah SWT.
Baca Juga: Ayat Tentang Futur dan Cara Mengatasinya
Keajaiban Datang sebagai Bentuk Rahmat
Setelah Ibrahim AS menunjukkan ketaatan dan kesiapannya menjalankan perintah Allah, datanglah pertolongan tak terduga. Sebagaimana tertulis dalam lanjutan Surat As Saffat ayat 103 sampai 105, Allah memanggil Nabi Ibrahim AS. Allah menyatakan bahwa Ibrahim telah membenarkan mimpinya sebagai bentuk ketaatan yang sempurna.
Sebagai pengganti Ismail AS, Allah SWT kemudian menghadirkan seekor hewan sembelihan. Dalam beberapa riwayat tafsir tertulis bahwa hewan pengganti Ismail AS adalah seekor kambing atau domba dari surga. Hewan tersebut digambarkan sebagai kambing gibasy berwarna putih, bertanduk besar, serta bertubuh gemuk dan sehat.
Sebagian ulama menyebut gibasy sebagai domba jantan terkuat dan berkualitas sangat baik untuk menjadi hewan sembelihan. Kejadian itu menunjukkan bahwa Allah tidak pernah bermaksud menyakiti hamba-Nya. Melainkan hanya menguji sejauh mana keimanan dan ketundukan seorang hamba kepada-Nya.
Peristiwa dalam Surat As Saffat 103 ini pun menjadi dasar utama dalam pelaksanaan kurban. Ibadah yang umat Islam lakukan setahun sekali setiap Idul Adha. Kisah ini menegaskan bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Lebih dari itu, sejarahnya menunjukkan simbol ketulusan, pengorbanan, sekaligus kepatuhan kepada Allah SWT tanpa keraguan.
Keutamaan Meneladani Ayat 103 dari As Saffat
Ibrahim AS dan Ismail AS telah memberikan teladan bahwa cinta Allah harus berada di atas segala bentuk kecintaan duniawi. Termasuk cinta kepada keluarga, bahkan anak sendiri yang telah dinantikan sejak lama. Meneladani As Saffat 103 berarti belajar untuk berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT dalam segala keadaan.
Kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan sejati tidak selalu mudah, tetapi tetap membawa kebaikan yang besar di baliknya. Ibrahim AS dan Ismail AS menunjukkan bahwa ketika keduanya berserah diri, patuh, serta bertawakal, maka Allah menggantinya dengan keindahan. Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap ujian hidup memiliki hikmah. Meskipun sering kali tidak langsung dapat manusia pahami.
Baca Juga: Surat dalam Al Quran yang Tidak Pakai Bismillah Beserta Hikmah di Baliknya
Terakhir, ayat 103 dalam Surat As Saffat ini turut mengajarkan pentingnya keikhlasan beribadah. Begitu juga kesabaran dalam menghadapi ujian serta keyakinan bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa. Kisah Ibrahim AS dan Ismail AS di Surat As Saffat 103 layak jadi teladan. Terutama tentang bagaimana keikhlasan serta ketaatan mampu mengangkat derajat manusia di sisi Allah SWT. (R10/HR-Online)

5 hours ago
8

















































