Ambisi Raden Suriadiwangsa menjadi catatan kelam dalam sejarah Kerajaan Sumedang Larang. Suriadiwangsa yang kala itu bergelar Raden Rangga Gempol I memiliki ambisi besar hingga mengkhianati Sultan Agung. Dari sinilah titik akhir keberadaan Sumedang Larang yang kemudian harus tunduk ke Kerajaan Mataram.
Baca Juga: Sejarah Telaga Wendit Malang, Jejak Panjang dari Kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit
Sejarah tanah Sunda pada abad ke-17 memang penuh dengan pergolakan politik rumit. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Priangan harus menghadapi tekanan dari kekuatan besar di sekelilingnya. Para penguasa lokal berada dalam posisi sulit. Antara memilih bertahan sendiri, menjalin persekutuan, atau tunduk kepada kerajaan yang lebih kuat.
Deretan Ambisi Raden Suriadiwangsa dengan Langkah yang Keliru
Ambisi besar Suriadiwangsa tidak bisa lepas dari posisi politiknya yang terjepit sejak awal. Ia merupakan anak tiri dari Prabu Geusan Ulun, raja besar Sumedang Larang. Setelah Prabu Geusan Ulun wafat, kerajaan tidak ia wariskan secara utuh. Wilayah kekuasaan justru terpecah menjadi dua bagian besar. Pertama Dayeuh Luhur di bawah pimpinan Pangeran Rangga Gede. Sedangkan Tegal Kalong milik Pangeran Suriadiwangsa.
Perpecahan itu membuat posisi Suriadiwangsa tidak pernah benar-benar aman. Ia harus berbagi kekuasaan dengan keluarga sendiri, sementara ancaman dari luar semakin besar. Situasi geopolitik Priangan saat itu sangat menekan. Di barat berdiri Kesultanan Banten yang agresif memperluas pengaruhnya.
Di timur terdapat Cirebon yang memiliki hubungan kuat dengan Mataram Islam. Sementara di pesisir utara Jawa Barat, VOC mulai memperkuat kedudukannya di Batavia setelah merebut Jayakarta. Dalam keadaan seperti itu, Raden Suriadiwangsa merasa membutuhkan pelindung yang lebih kuat guna mewujudkan ambisi.
Baca Juga: Sejarah Prasasti Canggal di Magelang Bukti Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno
Ia kemudian memilih mendekati Kesultanan Mataram yang sedang berada di puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Pada tahun 1620, Suriadiwangsa menghadap Sultan Agung dan menyatakan tunduk kepada Mataram. Keputusan itu membawa keuntungan besar baginya. Sultan Agung memberinya gelar Bupati Wedana Priangan.
Wedana Priangan merupakan sebuah jabatan terhormat yang membuatnya menjadi koordinator wilayah Priangan di bawah kekuasaan Mataram. Jabatan tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan posisi strategis yang memberikan kekuasaan luas atas daerah-daerah Sunda di Priangan.
Namun, di sinilah kesalahan besar Suriadiwangsa bermula. Ia mengira pengakuan terhadap Mataram hanyalah strategi politik untuk memperkuat posisinya sendiri. Ia tampaknya tidak menyadari bahwa sejak menerima gelar tersebut, dirinya telah menjadi bagian dari struktur kekuasaan Mataram. Setiap tindakannya bukan lagi urusan pribadi, melainkan menyangkut kehormatan dan stabilitas kerajaan Mataram.
Bekerja Sama dengan Banten
Seiring waktu, ambisi Raden Suriadiwangsa untuk menyingkirkan saudaranya sendiri semakin mendorongnya mengambil langkah berbahaya. Dalam upayanya memperkuat kekuasaan, ia justru menjalin komunikasi dengan Kesultanan Banten. Padahal, Banten merupakan musuh besar Mataram pada masa itu.
Kedua kerajaan sedang bersaing memperebutkan pengaruh di wilayah barat Jawa dan jalur perdagangan menuju Batavia. Keputusan mengundang campur tangan Banten menunjukkan bahwa Suriadiwangsa salah membaca situasi politik. Ia terlalu fokus pada konflik internal keluarganya hingga mengabaikan persaingan geopolitik antara kerajaan-kerajaan besar.
Bagi Mataram, tindakan itu adalah bentuk pengkhianatan karena membuka jalan bagi musuh masuk ke wilayah pengaruhnya. Langkahnya juga memperlihatkan betapa rapuhnya posisi penguasa lokal Sunda saat itu. Demi mempertahankan kekuasaan pribadi, mereka sering terjebak dalam permainan politik kerajaan besar yang jauh lebih licik.
Rencana Penyerangan Berantakan
Ambisi Raden Suriadiwangsa untuk memperoleh dukungan militer dari Banten ternyata tidak berjalan mulus. Kesultanan Banten memiliki agenda politiknya sendiri. Ketika pasukan Banten masuk, mereka tidak benar-benar membantu menyerang Rangga Gede. Sebaliknya, pasukan Banten justru memanfaatkan situasi untuk memperluas pengaruhnya ke wilayah kekuasaan Mataram.
Pasukan menyerobot daerah strategis seperti Karawang dan Pamanukan. Langkah ini membuat posisi Mataram di wilayah barat Jawa kian terancam. Peristiwa tersebut menunjukkan perhitungan politik Suriadiwangsa sangat keliru. Ia gagal mengantisipasi kepentingan tersembunyi Banten yang memang ingin melemahkan Mataram.
Rencana yang semula bermaksud memperkuat kedudukannya justru berubah jadi ancaman besar. Terutama bagi Kerajaan Mataram yang telah memberinya perlindungan dan jabatan. Tindakannya tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga mengguncang stabilitas politik Priangan secara keseluruhan.
Kemarahan Sultan Agung
Bagi Sultan Agung, peristiwa itu tentu menjadi penghinaan besar terhadap wibawa Mataram. Wilayah kekuasaan Mataram di barat Jawa justru hilang akibat ulah seorang bawahan. Padahal seharusnya menjaga kepentingan kerajaan. Sebagai raja besar yang sedang membangun dominasi atas Pulau Jawa, Sultan Agung tidak mungkin membiarkan tindakan seperti itu tanpa hukuman.
Suriadiwangsa akhirnya kehilangan jabatan Bupati Wedana Priangan. Ia kemudian menghadap ke ibu kota Mataram untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Dalam tradisi politik kerajaan Jawa pada masa itu, pengkhianatan terhadap raja adalah kejahatan berat. Sehingga sulit mendapat toleransi.
Sekitar tahun 1624 hingga 1625, Suriadiwangsa mendapat hukuman mati dengan cara pancung. Hukuman itu menjadi simbol ketegasan Sultan Agung dalam menjaga loyalitas para bawahannya. Tidak peduli sebesar apa jasa seseorang sebelumnya, pengkhianatan tetap harus dibayar mahal. Eksekusi tersebut sekaligus menandai berakhirnya kemandirian Sumedang Larang.
Baca Juga: Prasasti Harinjing Kediri, Bukti Peradaban Kerajaan Mataram Kuno
Kisah Raden Suriadiwangsa menjadi gambaran tragis tentang ambisi politik yang melampaui perhitungan. Tragedi ambisi Raden Suriadiwangsa ini juga jadi titik penting dalam sejarah Sunda. Sejak runtuhnya kemandirian Sumedang Larang, pengaruh Mataram di Priangan semakin kuat. Sistem pemerintahan, budaya bangsawan, hingga struktur sosial Sunda perlahan mendapat pengaruh Jawa Mataram. (R10/HR-Online)

18 hours ago
16

















































