harapanrakyat.com,- Nabi Muhammad dan Kerajaan Tarumanegara yang ada di Bogor ternyata sama-sama dalam satu garis waktu sejarah dunia. Karena jarak ribuan kilometer memisahkan antara gurun pasir Arab yang tandus dan hutan tropis Bogor. Hal ini seolah menciptakan dua dunia yang tak terhubung.
Padahal, jika melihat pada tahun kehidupan Nabi dan kekuasaan kerajaan tersebut, ternyata masih satu masa meski berbeda wilayah. Faktanya, keduanya itu sama-sama berada di abad ke-6 hingga ke-7 Masehi.
Hingga saat ini, masih banyak orang modern tidak menyadari bahwa peradaban Islam awal di Mekkah dan kejayaan Hindu di Nusantara berjalan beriringan. Mereka tidak saling mengetahui satu sama lain secara langsung. Ketika wahyu suci turun di Gua Hira, di tanah Jawa para raja Tarumanegara sedang sibuk mempertahankan hegemoni kekuasaan mereka di sekitar daerah aliran sungai Citarum.
Sinkronisasi Linimasa Nabi Muhammad Hidup dan Kerajaan Tarumanegara
Berdasarkan data sejarah dari berbagai sumber, Nabi Muhammad SAW lahir pada Tahun Gajah atau sekitar tahun 571 Masehi di kota Mekkah. Pada rentang waktu yang sama, Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat sedang berada di bawah pemerintahan Raja ke-8 mereka yang bernama Kertawarman.
Baca juga: Mengenal Warisan Kerajaan Tarumanegara Candi Serut Karawang
Raja Kertawarman tercatat memerintah Tarumanegara dalam kurun waktu yang sangat panjang, yakni dari tahun 561 Masehi hingga 628 Masehi. Artinya, seluruh masa kecil dan remaja, hingga masa kenabian Muhammad di Mekkah berlangsung pada masa kepemimpinan raja ini di Bogor. Periode Madinah Muhammad juga terjadi saat itu.
Ketika Nabi Muhammad menerima wahyu pertama pada tahun 610 Masehi, Raja Kertawarman sudah memasuki usia senja kekuasaannya. Namun, kerajaan masih berdiri tegak. Dua peradaban ini membangun sistem hukum dan tata nilai masing-masing. Keduanya terletak di dua ujung benua yang berbeda dengan cara yang sangat kontras namun unik.
Raja Kertawarman kemudian wafat pada tahun 628 Masehi, hanya berselang empat tahun sebelum wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 632 Masehi di Madinah. Tampuk kekuasaan Tarumanegara kemudian dilanjutkan oleh Raja Sudhawarman (628-639 M). Ia memerintah sezaman dengan peristiwa Fathu Makkah dan masa Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar dan Umar).
Tarumanegara sendiri akhirnya runtuh secara resmi pada tahun 669 Masehi di masa pemerintahan Raja Linggawarman. Hal ini terjadi dengan digantikan oleh Kerajaan Galuh dan Sunda. Runtuhnya kerajaan tertua di Jawa Barat ini terjadi bersamaan. Itu adalah masa transisi kekuasaan Islam dari Khulafaur Rasyidin ke Dinasti Bani Umayyah di Damaskus.
Baca juga: Sejarah Turunnya Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW dan Hikmah yang Bisa Diambil
Prasasti-prasasti peninggalan Tarumanegara seperti Prasasti Ciaruteun dan Jambu menjadi bukti otentik. Ini menandakan eksistensi peradaban tulis yang maju di Nusantara pada masa itu. Meskipun Purnawarman (raja ke-3) memerintah jauh sebelumnya (395-434 M), warisan budayanya tetap lestari. Ini berlanjut hingga masa Kertawarman yang sezaman dengan Nabi.
Jejak Perdagangan Kuno yang Menghubungkan Dua Dunia
Meskipun belum ada bukti kontak diplomatik langsung antara Nabi dan Raja Tarumanegara, jalur perdagangan laut internasional sebenarnya sudah terbuka sangat lebar saat itu. Pedagang Arab dari Yaman dan Persia sudah lama mengetahui keberadaan kepulauan Nusantara. Mereka mencari komoditas langka seperti kapur barus dan rempah.
Kapur barus dari pelabuhan Barus di Sumatera bahkan digunakan dalam proses pemuliaan jenazah di Timur Tengah pada masa itu sebagai wewangian terbaik dan termahal. Fakta ini membuktikan bahwa hasil bumi Nusantara sudah sampai ke tanah Arab. Mereka digunakan oleh bangsa Quraisy. Hal ini terjadi jauh sebelum agama Islam masuk secara resmi ke kepulauan ini.
Baca juga: Sejarah Maulid Nabi, Kisah Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Catatan sejarah Tiongkok dari Dinasti Tang juga menyebutkan adanya pemukiman orang Arab atau Ta-Shih di pesisir barat Sumatera pada pertengahan abad ke-7 Masehi. Keberadaan pemukiman ini memperkuat dugaan. Berita tentang kenabian mungkin sudah sayup-sayup terdengar. Para pelaut Nusantara mendengar ini melalui perantara pedagang asing yang singgah.
Selain itu, Kerajaan Tarumanegara sendiri dikenal aktif mengirimkan utusan dagang ke China yang disebut To-lo-mo. Ini tercatat dalam kronik dinasti Sui dan Tang. Jalur pelayaran To-lo-mo ini pasti bersinggungan dengan jalur pedagang Muslim. Mereka juga mulai mendominasi Rute Sutra Laut pada abad ke-7.
Mengetahui fakta bahwa Nabi Muhammad dan Kerajaan Tarumanegara berada dalam satu kurun waktu ini. Memberikan perspektif sejarah Indonesia lebih global dan lebih luas serta saling terkoneksi. Sejarah dunia ternyata tidak berdiri sendiri-sendiri. Wahyu di gurun dan prasasti di hutan tropis menjadi penanda zaman yang agung bagi peradaban manusia. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 days ago
13

















































