Kisah Ari dan Andi Bertahan di Tengah Sepinya Pasar Ciamis

12 hours ago 10

harapanrakyat.com,- Koridor Pasar Manis Ciamis, Jawa Barat tampak lengang pada Jumat (22/5/2026). Tak banyak lagi suara tawar-menawar atau langkah kaki pengunjung yang dulu saling bersahutan memenuhi lorong pasar. Di salah satu sudut los Pasar Ciamis yang tetap tertata rapi, seorang wanita dengan senyum ramah masih setia menunggu pembeli yang sesekali melirik dagangannya. Ia adalah Ari Handayani (37), pemilik toko alas kaki dan tas ‘Ari and Andi’.

Bersama sang suami, Andi Ari Sandi (40), warga Linggasari, Kecamatan Ciamis ini telah melewati pasang surut dunia perdagangan selama dua dekade. Langkah kaki mereka bermula di tahun 2006, tepat setelah janji suci pernikahan diucapkan.

“Awalnya cuma jualan sandal doang di kaki lima,” kenang Ari sambil membenarkan letak beberapa tas pajangan di tokonya.

Ketekunan berbuah manis. Saat desas-desus rencana pembongkaran dan revitalisasi Pasar Manis berhembus pada 2016 lalu, Ari dan Andi melihat peluang. Di saat harga lapak atau jongko sedang miring dalam proses lelang, ia memantapkan diri untuk membeli aset. Kini, dua los strategis di dalam pasar megah tersebut sudah menjadi milik mereka sendiri.

Prinsip dagang yang mereka pegang sangat sederhana, ‘ngereuyeuh’ begitu Ari menyebutnya. “Jadi sedikit demi sedikit, pelan aja, biar untung sedikit, yang penting perputaran uang lancar dan pelanggan kembali datang,” kata Ari.

Baca Juga: Dari Lapak Sembako di Pasar Ciamis, Ajat Sulap Cuan BRILink Jadi Usaha Laundry dan Kontrakan

Ari dan Andi Terpaksa Pangkas Karyawan karena Pasar Ciamis Sepi

Ironisnya, tantangan terberat bukan datang saat badai pandemi Covid-19 melanda pada 2020 lalu. Andi Sri Sandi, sang suami menuturkan, masa-masa pembatasan sosial justru menyisakan cerita kejayaan di mana omsetnya tetap terjaga. 

Badai sesungguhnya justru datang di era pasca-pandemi, saat arus digitalisasi dan pasar online (e-commerce) menerjang tanpa ampun. “Sekarang mah menurun banget, Aa. Kerasa banget,” tutur Andi.

Dampak lesunya pasar konvensional ini bukan isapan jempol belaka. Andi terpaksa mengambil keputusan getir untuk merampingkan operasional usahanya. “Tadinya pegawai ada enam orang, sekarang tinggal sisa dua. Bayangin coba,” keluhnya.

Baik Ari maupun Andi, keduanya sebenarnya tidak menutup mata pada perkembangan teknologi. Toko ‘Ari and And’ sempat menjajal peruntungan di pasar online. Namun, tingginya potongan biaya aplikasi dan pajak platform digital membuat margin keuntungan mereka terkikis habis, hingga akhirnya jalur itu tak lagi bisa diandalkan sebagai roda penggerak utama.

Transaksi Digital Lewat QRIS Jadi Penyelamat

Meskipun pasar digital global terasa mencekik, Andi menemukan secercah kemudahan pada digitalisasi pembayaran di meja kasirnya. Sejak setahun terakhir, tepatnya di tahun 2025, Toko ‘Ari and Andi’ mulai menyediakan fasilitas pembayaran menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Langkah adaptasi ini berawal dari kejelian Andi melihat pergeseran perilaku konsumen masa kini yang enggan membawa uang tunai. “Biar gampang, sekarang kan yang beli itu pengennya ditransfer, lebih mudah,” jelasnya.

Selain mengikuti tren cara bayar kekinian, kehadiran lembaran barcode QRIS BRI di tokonya menjadi penyelamat dari salah satu momok menakutkan pedagang pasar, yakni uang palsu.

Andi mengenang, masa-masa menjelang bulan suci Ramadan atau hari raya selalu menjadi momen rawan di mana ia kerap kecolongan mendapatkan uang palsu di tengah riuhnya kepungan pembeli.

Baca Juga: Soto Ayam Kampung Khidmat Ciamis, Mengikat Pelanggan Lewat Rasa Otentik

“Dulu mah sering banget dapet uang palsu, terutama pas lagi musim rame menjelang Lebaran. Alhamdulillah, sekarang dengan adanya QRIS terbantu banget, jadi lebih aman,” ungkapnya lega.

Sinergi dengan BRI tidak berhenti di urusan transaksi harian. Guna menjaga napas usaha di tengah ketatnya persaingan, Andi juga memanfaatkan dukungan permodalan dari bank pelat merah tersebut. Melalui pendampingan dan sosialisasi yang diberikan petugas bank, Andi merasa didorong untuk terus memeras keringat mempertahankan eksistensi usahanya.

“Harus banting tulang banget sekarang mah. Punya komitmen dengan BRI juga jadi motivasi biar kita enggak boleh menyerah,” pungkas Andi sembari tersenyum optimis.

Manfaat QRIS BRI

Sementara itu, penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjadi salah satu solusi pembayaran digital yang mempermudah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Ciamis, seperti halnya di Toko ‘Ari and Andi’. Selain membuat transaksi lebih praktis, sistem pembayaran digital ini juga dinilai mampu membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Manajer Bisnis Mikro BRI Branch Office Ciamis, Mochamad Heru Yudha mengatakan, penggunaan QRIS memberikan banyak manfaat bagi para pelaku usaha, terutama dalam mempermudah proses transaksi pembayaran. Pelanggan kini dapat melakukan pembayaran menggunakan berbagai aplikasi mobile banking maupun dompet digital hanya dengan memindai satu kode QR.

“Dengan QRIS, transaksi menjadi lebih cepat dan praktis karena pembeli tidak perlu lagi menyiapkan uang tunai atau menunggu uang kembalian,” ujarnya.

Selain itu, kehadiran QRIS juga dinilai mampu membantu meningkatkan penjualan. Pasalnya, saat ini masyarakat cenderung lebih menyukai metode pembayaran digital yang dianggap lebih mudah dan efisien.

Tak hanya soal kemudahan transaksi, penggunaan QRIS juga memberikan keamanan lebih baik bagi pedagang. Risiko menerima uang palsu, kehilangan uang tunai, hingga kesalahan penghitungan uang dapat diminimalkan.

Heru menambahkan, sistem pembayaran digital ini juga membantu pelaku UMKM dalam melakukan pencatatan transaksi secara otomatis. Seluruh riwayat pembayaran tersimpan secara digital sehingga memudahkan pelaku usaha dalam pembukuan maupun pengelolaan keuangan.

“Penggunaan QRIS juga menjadi bagian dari digitalisasi usaha sehingga usaha terlihat lebih modern dan profesional,” katanya.

Baca Juga: Kisah Sukses Ani di Pasar Sindangkasih Ciamis, Dari Jualan Nasi Jinggo Hingga Punya Toko Sembako dan Kontrakan

BRI sendiri terus mendorong para pelaku UMKM untuk memanfaatkan layanan pembayaran digital sebagai langkah adaptasi menghadapi perubahan perilaku konsumen di era digital saat ini. Kini jumlah pengguna QRIS yang telah terdaftar di wilayah Ciamis mencapai sekitar 23 ribu nasabah. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen merupakan nasabah pelaku UMKM. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |