Benteng Fort Rotterdam merupakan salah satu tempat yang kaya akan sejarah di Makassar. Tempat ini merupakan situs budaya yang kini berfungsi menjadi pusat kegiatan kebudayaan dan ruang pertunjukan seni. Berikut akan kita bahas lebih lanjut tentang gambaran tempat ini dan bagaimana sejarahnya yang panjang.
Baca Juga: Situs Raja Mawikng Dikembangkan Jadi Cagar Budaya, Jaga Warisan Leluhur
Sejarah Benteng Fort Rotterdam dari Era Kerajaan Gowa-Tallo, Belanda, dan Jepang
Benteng Fort Rotterdam merupakan banguan bersejarah yang ada sejak kerajaan Gowa-Tallo hingga kemerdekaan Indonesia. Awalnya tempat ini memiliki nama Bentang Ujung Pandang atau Benteng Jumpandang. Nama Fort Rotterdam mulai digunakan setelah Belanda berhasil mengambil alih tempat ini dari tangan kerajaan Gowa-Tallo.
Benteng ini memiliki tampilan khas dengan tembok tebal hampir 2 meter dan tinggi hampir 5 meter. Gerbang utamanya tampak megah dengan sebuah papan nama bertulisan Fort Rotterdam sebagai identitasnya. Dari ketinggian, area benteng ini terlihat seperti penyu yang lengkap dengan bagian kepala dan kaki.
Baca Juga: Sejarah Candi Gatotkaca, Peninggalan Abad Kedelapan di Dataran Tinggi Dieng
Saat memasuki area benteng ini, pengunjung bisa melihat 16 bangunan tua dengan arsitektur khas Eropa. Bangunan tersebut tampak estetik karena tinggi dengan atap pelana dan memiliki banyak pintu serta jendela. Bagian tengah benteng ini sendiri merupakan taman terbuka hijau yang rapi dan sangat tertata.
Peninggalan Dari Kerajaan Gowa-Tallo
Benteng Fort Rotterdam merupakan bangunan peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun pada tahun 1545. Tokoh yang membangunnya adalah Raja Gowa ke-10 yaitu I-Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang bergelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Benteng ini dulunya berfungsi untuk mengawasi kedatangan tentara Belanda dari arah pantai.
Pada tahun 1655-1667, benteng ini hancur karena Perang Makassar saat Kesultanan Gowa melawan Belanda. Puncak peperangan terjadi pada 18 November 1667 yang mana Kesultanan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin kalah. Sultan Hasanuddin pun terpaksa menyerahkan benteng ini pada Belanda dan menandatangani Perjanjian Bongaya.
Pembangunan Ulang Oleh Belanda
Setelah jatuh ke tangan Belanda, pihak Belanda kemudian membangun ulang tempat ini dengan konstruksi berbeda. Belanda membangun ulang bangunan di benteng ini dengan gaya arsitektur Eropa yang kita lihat saat ini. Kemudian namanya berubah menjadi Benteng Fort Rotterdam sesuai tempat kelahiran pemimpin VOC Gubernur Jenderal Admira Cornelis Janszoon Speelman.
Di tangan Belanda, benteng ini memiliki beberapa fungsi seperti sebagai markas komando pertahanan dan kantor perdagangan. Selain itu juga menjadi kediaman bagi pejabat tinggi dan pusat pemerintahan di wilayah Timur Indonesia. Di sekitar benteng ini pun mulai muncul pemukiman penduduk hingga menjadi kota yang ramai.
Jatuh Ke Tangan Jepang pada Tahun 1942
Ketika Jepang mulai menginvasi Indonesia, tempat ini pun akhirnya berhasil jatuh ke tangan Jepang tahun 1942. Selama masa Perang Dunia II, Jepang menggunakan tempat ini sebagai kamp tawanan perang. Selain itu Jepang juga memanfaatkannya sebagai pusat penelitian ilmu pengetahuan dan bahasa.
Kembali Dikuasai Belanda pada Tahun 1945
Setelah Jepang menyerah pada sekutu, Belanda kembali menguasai Benteng Fort Rotterdam tahun 1945-1949. Mereka menggunakan tempat ini sebagai pangkalan militer untuk menumpas gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan. Namun setelah pengakuan kedaulatan pada tahun 1950 fungsinya beralih menjadi tempat tinggal TNI dan warga.
Menjadi Pusat Kebudayaan dan Wisata Sejarah
Pada tahun 1970, bangunan ini kemudian diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemerintah Indonesia kemudian memugar tempat ini tanpa merusak bentuk aslinya untuk mempertahankan peninggalan sejarah. Tempat ini pun menjadi pusat kebudayaan, pendidikan, pusat penampilan kesenian, sekaligus tujuan wisata sejarah.
Pemerintah Sulawesi Selatan kemudian mengubah salah satu gedung di kompleks benteng ini menjadi museum bernama La Galigo. Di dalamnya terdapat sekitar 5.000 koleksi yang terdiri atas naskah kuno dan berbagai artefak bersejarah. Pengunjung bisa memasuki museum ini dan melihat berbagai koleksi bersejarahnya secara langsung.
Baca Juga: Sejarah Situs Batujaya Kompleks Candi Tertua di Karawang Jawa Barat
Benteng Fort Rotterdam menjadi peninggalan sejarah yang memiliki kisah sangat panjang. Tempat ini pun menjadi saksi pergantian kekuasaan dari Kerajaan Gowa Tallo, Belanda, Jepang, dan Indonesia. Selain itu tempat ini pun menjadi saksi perjuangan rakyat Indonesia demi kemerdekaan. Kini Benteng Fort Rotterdam menjadi wisata sejarah sekaligus pusat budaya dan seni yang selalu ramai pengunjung. (R10/HR-Online)

9 hours ago
8

















































