Kisah Nabi Jarjis Dihukum Mati Berkali-kali Tapi selalu Dihidupkan Allah

1 day ago 4

harapanrakyat.com,- Sejarah nabi terdahulu banyak yang menakjubkan, salah satunya kisah Nabi Jarjis. Utusan Allah tersebut memiliki keistimewaan meski disiksa dan dibunuh berkali-kali, namun dihidupkan lagi oleh Allah untuk bisa berdakwah. 

Berdasarkan referensi dari berbagai sumber, kisah ini diperkirakan terjadi pada masa fatrah. Masa ini adalah kekosongan wahyu antara diangkatnya Nabi Isa AS dan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sementara lokasinya berada di wilayah Mosul (Irak) atau Syam. 

Baca juga: Sejarah Kaligrafi Islam, Jejak Seni Spiritual yang Mampu Melintasi Zaman

Nabi Jarjis diutus seorang diri untuk menyadarkan seorang raja tiran penyembah berhala. Raja tersebut memaksa rakyatnya murtad dengan ancaman siksaan api yang mengerikan.

Kisah Nabi Jarjis Menghadapi Raja Dadan yang Kejam

Raja Dadan (dalam beberapa riwayat disebut Dadyanah) dikenal sangat sadis. Sebab, ia memiliki patung berhala bernama Aflah yang wajib disembah oleh setiap penduduk negerinya. Siapapun yang menolak sujud pada patung tersebut akan dilempar ke dalam parit api yang menyala-nyala. Bahkan ia tega menyiksa dengan siraman minyak mendidih dan timah panas.

Nabi Jarjis sebenarnya datang sebagai seorang saudagar kaya raya yang beriman. Namun ia rela membagikan seluruh harta kekayaannya kepada fakir miskin sebelum menghadap raja. Di hadapan penguasa zalim itu, ia dengan lantang mengajaknya untuk bertaubat serta menyembah Allah Yang Maha Esa semata.

Baca juga: Sejarah Imam Malik bin Anas, Penulis Kitab Al-Muwatta yang Tak Mau Naik Kuda di Tanah Madinah

Raja yang murka mendengar seruan tauhid tersebut memerintahkan para pengawal untuk menyiksa Jarjis dengan berbagai alat penyiksaan yang sangat mengerikan. Tubuh sang nabi disisir dengan sikat besi hingga dagingnya terkelupas dari tulang. Lalu disiram dengan cuka asam dan garam agar rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.

Meskipun mengalami penderitaan fisik yang tak terbayangkan, Nabi Jarjis tidak pernah sedikitpun mengeluh atau mencabut kata-katanya untuk membenarkan berhala raja. Keteguhan hatinya membuat raja semakin geram dan memutuskan untuk membunuhnya dengan cara yang paling sadis. Hal ini agar Sang Nabi tidak bisa bangkit lagi selamanya.

Dalam riwayat kitab Qishashul Anbiya, disebutkan bahwa tubuh beliau pernah digergaji menjadi dua bagian. Pertama dibakar hingga menjadi abu, dan abunya dibuang ke sungai deras. Namun setiap kali nyawanya melayang, Allah mengutus malaikat. Kemudian malaikat memulihkan tubuhnya menjadi utuh kembali seperti sedia kala tanpa ada bekas luka sedikitpun.

Kematian Berulang hingga Tujuh Puluh Kali

Nabi Jarjis kemudian bangkit berdiri dari kematiannya dan kembali mendatangi istana raja untuk menyampaikan dakwah yang sama tanpa rasa takut sedikitpun di wajahnya. Ia berkata bahwa Allah yang ia sembah memiliki kekuasaan mutlak untuk menghidupkan yang mati, sebuah bukti nyata yang terjadi pada dirinya sendiri di hadapan mata kepala sang raja.

Fenomena mati suri yang terjadi berulang kali hingga puluhan kali ini membuat ribuan rakyat yang menyaksikannya menjadi takjub dan hatinya bergetar hebat. Mereka yang awalnya takut pada ancaman raja, perlahan mulai mendapatkan keberanian dan akhirnya menyatakan beriman kepada Allah secara diam-diam maupun terang-terangan.

Baca juga: Kisah Nabi Armiya dan Nebukadnezar, dari Penjara hingga Tawaran Takhta

Sang raja yang putus asa melihat mukjizat ini akhirnya menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa melenyapkan Nabi Jarjis dengan cara kekerasan fisik semata. Kematian Nabi Jarjis yang sesungguhnya baru terjadi setelah ia berdoa memohon kepada Allah untuk diwafatkan agar tugas dakwahnya selesai dan kaumnya diselamatkan dari fitnah yang lebih besar.

Keteguhan iman tauhid Nabi Jarjis memberikan pelajaran berharga bahwa kebenaran tidak akan pernah mati meskipun fisik dihancurkan berkali-kali oleh musuh yang memiliki kekuasaan duniawi. Selain itu, kisah heroik ini menjadi bukti kekuasaan Allah yang mampu menghidupkan yang mati untuk menegakkan hujjah di hadapan kaum yang ingkar dan sombong. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |