Kisah Pierre Tendean, Cinta yang Tak Sampai dan Pengorbanan untuk A.H Nasution

2 days ago 16

harapanrakyat.com,- Kisah Pierre Tendean menyimpan cerita pilu bagi bangsa Indonesia. Wajah tampannya yang blasteran itu membuat siapa saja teriris hatinya karena ia gugur demi menyelamatkan atasannya, A.H Nasution. 

Berdasarkan catatan sejarah Indonesia, yang lebih memilukan lagi selain ia membuktikan kesetiaan sejati sebagai seorang ajudan, ia juga tak sampai mewujudkan pernikahan dengan pujaan hatinya.

Kapten anumerta Pierre Tendean dikenal sebagai sosok perwira muda yang cerdas, ramah, dan menjadi idola banyak gadis pada zamannya. Apalagi paras blasteran Indo-Eropa begitu rupawan. Namun, di balik senyum manisnya, ia menyimpan jiwa patriotisme baja yang rela menukar nyawa sendiri demi melindungi simbol negara dan pimpinan angkatan bersenjata.

Kisah Pierre Tendean di Malam Penculikan Cakrabirawa

Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, ketenangan rumah Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar pecah oleh suara tembakan dan bentakan pasukan Cakrabirawa. Pierre yang saat itu sedang beristirahat di paviliun ajudan, terbangun kaget. Ia segera menyambar senjata laras panjangnya untuk memeriksa keadaan di luar rumah.

Baca juga: Kapten Pierre Tendean, Pahlawan Muda Penuh Keberanian

Tanpa rasa takut sedikitpun, ia melangkah keluar menghadapi gerombolan tentara bersenjata lengkap. Mereka sedang mengepung rumah dengan beringas mencari sang jenderal. 

Saat ditanya dengan kasar “Di mana Nasution?”, dengan tenang dan tegas ia menjawab “Saya Nasution.” Hal ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian para penculik tersebut.

Pengakuan heroik ini memberikan waktu berharga bagi Jenderal Nasution yang asli untuk meloloskan diri. Nasution melompati tembok kedutaan besar Irak di sebelah rumah. Pierre sadar betul bahwa kebohongan tersebut akan membahayakan nyawanya sendiri. Namun ia memilih pasang badan demi keselamatan atasannya yang ia anggap seperti ayah sendiri.

Pasukan penculik yang terkecoh kemudian menggelandang Pierre ke dalam truk militer dan membawanya menuju Lubang Buaya di daerah Pondok Gede. Di tempat itulah ia mengalami penyiksaan fisik yang sangat kejam. Saat itu ia bersama enam jenderal angkatan darat lainnya sebelum akhirnya dieksekusi mati dan dimasukkan ke dalam sumur tua.

Tragedi ini menjadi semakin memilukan karena sebenarnya Pierre tidak termasuk dalam daftar target operasi penculikan yang direncanakan. Mereka keliru menculik Pierre karena keberaniannya yang luar biasa. Ia melindungi pimpinannya di saat-saat genting yang menentukan sejarah bangsa ini.

Kisah Cinta Rukmini yang Berakhir Duka

Sementara itu, di balik seragam militernya yang gagah, Pierre adalah seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara dengan gadis pujaan hatinya bernama Rukmini Chaimin. Mereka berdua sebenarnya sudah merencanakan pernikahan yang akan digelar pada bulan November 1965. Waktu tersebut hanya sebulan setelah tragedi berdarah itu terjadi.

Cinta mereka bukanlah cinta biasa, melainkan hubungan jarak jauh yang penuh perjuangan dan kesetiaan. Pasalnya, Rukmini tinggal di Medan, sementara Pierre bertugas di Jakarta. Setiap kali ada kesempatan cuti, Pierre selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kekasihnya dan merajut mimpi masa depan bersama membangun keluarga kecil bahagia.

Baca juga: Pierre Andreas Tendean, Pengawal AH Nasution yang Jadi Korban G30S PKI

Bahkan pada saat kejadian, Pierre sebenarnya berencana pulang ke Semarang untuk merayakan ulang tahun ibunya. Ia ingin menemui keluarga guna mematangkan rencana pernikahan. Namun takdir berkata lain, tugas negara memanggilnya untuk terakhir kali. Peristiwa ini memisahkan dua sejoli ini untuk selamanya di dunia fana.

Atas tragedi ini, Rukmini harus menerima kenyataan pahit. Calon suaminya pulang tinggal nama sebagai pahlawan revolusi yang gugur membela pancasila. Kisah cinta mereka yang kandas di tengah jalan menjadi salah satu romansa paling tragis dalam lembaran sejarah kelam republik ini.

Dari kisah Pierre Tendean yang terkenal dalam sejarah PKI ini, kita belajar bahwa cinta tanah air dan kesetiaan pada tugas kadang menuntut harga yang sangat mahal. Bahkan melebihi cinta kepada kekasih. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |