harapanrakyat.com,- Batu-batu besar berdiri tegak menantang laju waktu di tengah keheningan hutan Cisolok. Situs Tugu Gede di Sukabumi ini berada di Kampung Cengkuk, Desa Cengkuk, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, merupakan kompleks megalitikum menakjubkan.
Orang-orang dulu memanfaatkan menhir-menhir raksasa ini untuk memuja arwah leluhur serta matahari. Lokasinya yang tersembunyi di kawasan perbukitan ini justru menambahkan aura mistis. Situs Tugu Gede ini menjadi salah satu bukti bisu bahwa peradaban yang menyembah kekuatan alam sudah mapan di tanah Sunda jauh sebelum agama modern masuk.
Menelusuri Jejak Megalitikum Situs Tugu Gede Cisolok
Kompleks purbakala ini berada di lereng selatan Gunung Halimun, tepatnya pada ketinggian sekitar empat ratus enam puluh tujuh meter di atas permukaan laut. Area seluas kurang lebih dua hektar ini menyimpan banyak peninggalan zaman batu besar.
Peninggalan tersebut tersusun rapi membentuk pola-pola ritual tertentu. Objek paling mencolok di Situs Tugu Gede Cisolok adalah menhir atau batu tegak raksasa yang tingginya mencapai lebih dari tiga meter. Batu utama ini dikelilingi oleh dolmen atau batu datar yang arkeolog duga berfungsi sebagai meja persembahan atau altar pemujaan pada masa lampau.
Baca juga: Menelusuri Jejak Manusia Pawon Bandung, Benarkah Leluhur Orang Sunda dari Sini?
Para arkeolog memperkirakan bahwa situs ini berasal dari masa prasejarah. Mereka menempatkannya pada tradisi megalitik muda yang berkembang sekitar 2000 hingga 3000 tahun sebelum Masehi. Masyarakat pendukung budaya megalitikum ini menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Mereka meyakini bahwa roh nenek moyang bersemayam di puncak gunung atau tempat yang lebih tinggi.
Karena keyakinan itu, tata letak batu-batu di situs ini umumnya menghadap ke arah puncak Gunung Halimun Salak. Mereka meyakini Gunung Halimun sebagai tempat tinggal para hyang atau roh suci.
Selain membantu pemujaan arwah, susunan batu ini arkeolog duga memiliki kaitan erat dengan pengamatan astronomi kuno. Pengamatan ini berguna untuk menentukan musim tanam pertanian.
Baca juga: Jejak Misterius Manusia Purba Flores Homo floresiensis, Sang Hobbit dari Nusa Tenggara
Warga lokal secara turun-temurun menamai batu-batu ini sebagai Tugu Gede. Penamaan ini muncul karena ukurannya memang jauh di luar kewajaran ukuran batu sungai biasa. Legenda lokal sering mengaitkan keberadaan batu-batu di Situs Tugu Gede Cisolok ini dengan kekuatan supranatural atau sisa-sisa petilasan dari tokoh sakti yang pernah berkuasa di wilayah tersebut.
Menjaga Warisan Spiritual di Kaki Halimun
Selain menhir, peneliti juga menemukan struktur punden berundak sederhana. Struktur ini menjadi ciri khas arsitektur tempat pemujaan asli Nusantara sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha. Struktur berteras menunjukkan adanya hierarki kesucian, semakin tinggi tempatnya, semakin sakral nilai spiritual yang terkandung.
Baca juga: Situs Pangguyangan Sukabumi, Peninggalan Sejarah yang Mirip Piramida Kuno
Berkat penjagaan juru pelihara dan kesadaran masyarakat adat, khususnya yang dekat dengan Kasepuhan Ciptagelar, kondisi situs saat ini masih terawat dengan baik. Nuansa adat dan kearifan lokal terasa sangat kental di sekitar area situs. Namun, pihak pengelola menghadapi tantangan besar dari ancaman vandalisme pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Pelapukan batuan alami akibat cuaca ekstrem juga mengancam kelestarian cagar budaya ini.
Sementara itu, pemerintah dan pihak terkait perlu memperketat upaya perlindungan zonasi. Langkah ini penting agar warisan leluhur yang tak ternilai harganya tidak rusak atau hilang dicuri. Mengunjungi situs budaya ini menawarkan sensasi perjalanan waktu ke masa silam, saat manusia hidup selaras dengan alam dan menghormati kekuatan semesta. Warisan Situs Tugu Gede Cisolok bukan hanya tumpukan batu mati, melainkan monumen spiritual yang merekam jejak keyakinan purba masyarakat Sunda. (Muhafid/R6/HR-Online)

1 day ago
8

















































