harapanrakyat.com,- Jejak Benua Sundaland yang menjadi cikal bakal kepulauan yang ada di Indonesia masih menjadi teka-teki. Apalagi adanya teori kontroversi mengenai Benua Atlantis yang hilang di wilayah tropis Asia Tenggara pada zaman es terakhir.
Sebagaimana kutipan dari berbagai sumber penelitian ilmiah, puluhan ribu tahun yang lalu, kepulauan Indonesia sebenarnya adalah sebuah daratan raksasa yang menyatu tanpa terpisahkan oleh lautan. Konsep geografis ini dikenal sebagai Sundaland, sebuah benua hilang yang memungkinkan nenek moyang kita berjalan kaki dari Jakarta langsung ke Singapura.
Untuk mengetahui lebih jauh soal benua ini, ada beberapa fakta hasil penelitian yang menggambar bagaimana kondisi geografis pada zaman dulu.
Menelusuri Jejak Nama Benua Sundaland
Istilah Sundaland atau Kawasan Sunda memiliki latar belakang penamaan yang melibatkan aspek geologis, sejarah, dan etimologi kuno. Nama ini bukan sekadar label modern, melainkan warisan penamaan yang panjang.
Secara ilmiah, istilah “Soendaland” (bahasa Belanda) pertama kali dicetuskan pada tahun 1919 oleh ahli geologi Hindia Belanda, Gustaaf Adolf Frederik Molengraaff. Ia mengamati bahwa kedalaman laut di wilayah ini hampir seragam. Hal ini menunjukkan adanya peneplain (dataran rendah akibat erosi) purba yang tenggelam akibat banjir besar saat es mencair. Nama ini kemudian dipopulerkan kembali dalam buku Geography of Indonesia karya Reinout Willem van Bemmelen pada tahun 1949.
Baca juga: Jejak Misterius Manusia Purba Flores Homo floresiensis, Sang Hobbit dari Nusa Tenggara
Namun, akar kata “Sunda” sendiri jauh lebih tua. Diyakini berasal dari kata Sansekerta Cuddha yang berarti bersih, suci, putih, atau murni. Nama ini bahkan sudah muncul dalam catatan geografi Ptolemy sekitar tahun 150 Masehi.
Sementara itu, Guru Besar Geologi Universitas Padjadjaran, Prof. Adjat, juga menyebutkan bahwa nama ini merupakan julukan dari bangsa Portugis. Kala itu Pulau Jawa dikuasai oleh Kerajaan Sunda. Sehingga, wilayah ini disebut Sundaland. Istilah ini mengacu pada Paparan Sunda (Sunda Shelf), perpanjangan landas kontinen Asia Tenggara yang menjadi dasar geologisnya.
Benua Sundaland Menyatukan Asia Tenggara
Setelah mengetahui asal usul penamaannya, ternyata Sundaland bukanlah sekadar mitos atau legenda semata. Akan tetapi, benua ini adalah fakta geologis. Sundaland adalah sebuah daratan seluas 1,8 juta kilometer persegi yang pernah ada. Daratan ini terbentuk dari paparan benua Eurasia yang terekspos. Hal ini akibat penurunan permukaan air laut global secara drastis hingga 120 meter pada puncak zaman es.
Kondisi ini menyatukan wilayah yang kini kita kenal sebagai Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Semenanjung Malaya menjadi satu kesatuan wilayah daratan yang utuh. Hewan dan manusia purba pada masa itu dapat bermigrasi dengan bebas melintasi wilayah ini. Mereka tidak perlu membuat perahu untuk menyeberangi selat.
Baca juga: Pegunungan Tertua di Dunia Jadi Laboratorium untuk Mengungkap Awal Kehidupan
Dunia yang hilang ini tenggelam secara perlahan seiring dengan mencairnya es di kutub utara. Ini menaikkan volume air laut dunia secara signifikan. Pesisir pantai yang dulunya daratan luas kini berubah menjadi Laut Jawa dan Selat Malaka yang dangkal. Hal ini memisahkan pulau-pulau tersebut selamanya.
Laut Jawa Dulunya Padang Rumput Savana
Penemuan serbuk sari purba di gua-gua Kalimantan Timur mengubah pandangan ilmuwan tentang Sundaland. Dulu, wilayah ini dianggap sebagai hutan hujan tropis yang lebat dan basah. Namun, ternyata sebagian besar wilayah yang kini menjadi dasar Laut Jawa dulunya adalah padang rumput. Padang rumput luas ini mirip dengan alam Afrika.
Dataran rendah ini dialiri oleh sistem sungai purba raksasa yang menyatukan aliran Sungai Musi dari Sumatera dan Sungai Kapuas dari Kalimantan. Sungai-sungai ini dulunya menyatu menjadi arteri air raksasa. Mereka mengalir ratusan kilometer di tengah padang rumput sebelum bermuara di Laut Cina Selatan.
Kondisi alam terbuka ini menjadi habitat ideal bagi megafauna. Hewan-hewan raksasa zaman es seperti Gajah Stegodon, Harimau bergigi pedang, dan Kerbau purba hidup subur di sana. Fosil-fosil mereka yang ditemukan di berbagai pulau menjadi bukti. Itu adalah bukti bahwa mereka pernah hidup berdampingan dalam satu ekosistem daratan yang sama.
Tentu saja, manusia purba juga ikut menghuni wilayah subur ini. Mereka berburu hewan di sepanjang tepian sungai purba tersebut. Ahli paleontologi meyakini bahwa masih banyak jejak pemukiman manusia purba. Kini, jejak itu tersembunyi dan terkubur di dasar Laut Jawa yang dangkal.
Spekulasi Teori Atlantis di Nusantara
Tenggelamnya daratan Sundaland memicu lahirnya teori migrasi “Out of Sundaland”. Teori ini menyebutkan bahwa banjir besar memaksa penduduknya menyebar ke berbagai penjuru dunia. Teori itu menantang konsensus umum yang menyatakan bahwa leluhur kita berasal dari migrasi Taiwan ke selatan.
Beberapa peneliti seperti Prof. Arysio Santos berspekulasi bahwa Sundaland adalah lokasi sebenarnya dari peradaban Atlantis yang hilang seperti diceritakan Plato. Bencana banjir besar yang menenggelamkan benua ini dianggap memiliki kesamaan narasi dengan kisah kehancuran Atlantis yang legendaris itu.
Baca juga: Ketahui Perbedaan Neanderthal dengan Homo Sapiens
Meskipun teori Atlantis ini masih menjadi perdebatan sengit di kalangan ilmuwan arus utama, kekayaan hayati Indonesia saat ini adalah bukti tak terbantahkan. Warisan Sundaland tercermin dalam hutan hujan tropis Sumatera dan Kalimantan yang tersisa. Hutan ini adalah peninggalan langsung dari ekosistem purba tertua di muka bumi.
Dari ulasan soal jejak Benua Sundaland di atas, mengajarkan kita bahwa geografi bumi tidaklah statis. Bumi selalu berubah seiring berjalannya waktu geologis yang panjang. Di bawah laut yang tenang, tersimpan sejarah epik tentang benua yang pernah menjadi pusat kehidupan sebelum akhirnya hilang ditelan samudra. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 days ago
17

















































