harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Pawon menyimpan banyak kisah penting tentang peradaban zaman dulu di Indonesia. Meski ukurannya terlihat kecil, namun fungsinya ternyata sangat vital. Bahkan tak tergantikan dalam tata letak kosmologi ritual Buddha kuno di Tanah Jawa.
Nama Pawon atau sering disebut Pawuan diyakini kuat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra, ayah dari Samaratungga. Nama Pawon juga bukanlah nama asli yang diberikan oleh pembuatnya pada masa lalu. Akan tetapi penamaan tersebut berasal dari masyarakat setempat.
Asal-usul Sejarah Candi Pawon
Secara etimologi bahasa Jawa, kata Pawon berasal dari kata dasar Awu yang berarti abu. Kemudian mendapat awalan Pa- dan akhiran -an menjadi Pawuan. Istilah Pawuan ini kemudian mengalami pergeseran bunyi dalam pengucapan sehari-hari menjadi Pawon yang memiliki arti tempat perabuan atau tempat pembakaran. Penafsiran juga ini diperkuat oleh pendapat ahli epigrafi J.G. de Casparis. Ia menafsirkan nama asli candi ini berdasarkan Prasasti Karangtengah tahun 824 Masehi.
Baca juga: Sejarah Candi Mendut, Permata Tersembunyi yang Lebih Tua dari Borobudur
Dalam prasasti tersebut disebutkan sebuah bangunan suci bernama Vajranalan yang merupakan gabungan kata Vajra (halilintar/senjata dewa Indra) dan Anala (api). Casparis menyimpulkan bahwa candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan sekaligus penyimpanan abu jenazah Raja Indra dari Dinasti Syailendra.
Perlu diketahui, Raja Indra adalah sosok penguasa besar yang dianggap telah mencapai tingkat kesucian tertentu setara dengan Dewa Indra dalam konsep dewaraja. Oleh karena itu, Candi Pawon tidak bisa dipandang sebelah mata hanya karena ukurannya yang kecil. Ini karena di sinilah roh sang raja disucikan melalui elemen api.
Sementara itu, fungsi sebagai tempat perabuan ini juga didukung oleh adanya lubang angin atau ventilasi pada bilik utama candi. Ventilasi ini tidak lazim ditemukan pada candi lain. Ventilasi ini diduga kuat berfungsi sebagai saluran pembuangan asap. Ini terjadi saat prosesi upacara pembakaran dupa atau ritual api homa dilaksanakan di dalam ruangan.
Poros Imajiner yang Menghubungkan Tiga Candi Suci
Kemudian, salah satu fakta paling menarik dari sejarah Candi Pawon ini adalah letak geografisnya yang sangat presisi dan tidak acak. Candi ini berada tepat di tengah garis lurus imajiner yang menarik sumbu antara Candi Mendut di timur dan Candi Borobudur di barat.
Posisi strategis ini menandakan bahwa ketiga candi tersebut merupakan satu kesatuan tunggal. Dalam prosesi ritual keagamaan Buddha Mahayana pada masa itu, umat Buddha kuno diyakini melakukan perjalanan ziarah. Mereka memulai dari Candi Mendut untuk mempersiapkan diri secara mental dan spiritual.
Setelah dari Mendut, mereka akan singgah di Candi Pawon untuk melakukan penyucian diri dari segala kotoran batin dan dosa duniawi. Elemen api yang disimbolkan oleh Candi Pawon berfungsi untuk membakar segala hawa nafsu dan ketidaksucian. Ini terjadi sebelum peziarah melangkah ke tahap selanjutnya.
Baca juga: Misteri Candi Rambut Monte Blitar, Ada Telaga Hijau yang Dihuni Ikan Dewa Abadi
Hanya setelah melewati proses penyucian di Pawon inilah, seorang peziarah dianggap layak untuk mendaki Candi Borobudur menuju pencerahan atau Nirwana. Tanpa keberadaan Candi Pawon sebagai “gerbang penyucian”, rangkaian ritual menuju kesempurnaan di Borobudur dianggap tidak sah atau tidak lengkap secara spiritual.
Permata Seni Bangunan Jawa
Meskipun tubuhnya ramping, arsitektur Candi Pawon sering dipuji sebagai permata seni bangunan Jawa. Hal itu karena proporsinya yang sangat harmonis dan detail. Bangunan ini berdiri di atas batur atau kaki candi setinggi 1,5 meter dengan denah dasar berbentuk bujur sangkar yang simetris.
Sementara Dinding luar candi dihiasi oleh relief-relief yang dipahat dengan sangat halus. Relief ini memiliki makna simbolis yang mendalam tentang kekayaan alam surgawi. Salah satu relief yang paling menonjol adalah pohon Hayat atau Kalpataru yang diapit oleh pundi-pundi uang dan makhluk kinara-kinari (makhluk setengah manusia setengah burung).
Di sisi lain, relief Kalpataru dan pundi-pundi uang ini melambangkan kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan abadi. Ini dianugerahkan kepada kerajaan dan rakyatnya. Sementara makhluk kinara-kinari yang digambarkan sedang bermain alat musik menyimbolkan kebahagiaan surgawi. Kebahagiaan ini senantiasa melingkupi tempat suci tersebut.
Pada bagian atap candi, terdapat hiasan berupa stupa-stupa kecil dan ratna yang memahkotai puncaknya dengan anggun. Sayangnya, banyak bagian dari ornamen asli candi ini yang sudah hilang atau rusak termakan usia sebelum proses pemugaran dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Namun, sisa-sisa kemegahan yang ada saat ini sudah cukup untuk menunjukkan betapa tingginya selera seni dan kemampuan teknis para arsitek Dinasti Syailendra. Candi Pawon adalah bukti bahwa keindahan tidak selalu harus berukuran raksasa. Keindahan bisa hadir dalam detail kecil yang penuh makna filosofis.
Sosok Raja Indra dalam Sejarah Syailendra
Membahas sejarah Candi Pawon tidak akan lengkap tanpa mengenal sosok Raja Indra yang menjadi alasan di balik pembangunan monumen ini. Raja Indra adalah salah satu penguasa paling berpengaruh dari Wangsa Syailendra. Beliau berhasil memperluas kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno hingga ke luar Jawa.
Di bawah pemerintahannya, pengaruh budaya dan agama Buddha berkembang pesat dan mencapai masa keemasannya di Nusantara. Ia juga dikenal sebagai ayah dari Samaratungga, raja yang kemudian memprakarsai pembangunan Candi Borobudur yang fenomenal itu.
Pembangunan Candi Pawon kemungkinan besar dilakukan oleh Samaratungga sebagai bentuk bakti seorang anak kepada ayahnya yang telah wafat. Ini adalah monumen penghormatan leluhur yang lazim dilakukan oleh raja-raja Jawa untuk melegitimasi kekuasaan mereka sebagai penerus tahta yang sah.
Dengan demikian, Candi Pawon bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga monumen politik dan genealogi yang memiliki sejarah. Monumen ini menegaskan garis keturunan suci para penguasa. Memahami posisi Raja Indra membantu kita mengerti mengapa situs budaya sekecil ini ditempatkan di jalur sumbu imajiner yang sangat sakral. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 days ago
17

















































