harapanrakyat.com,- Banyak wisatawan datang ke Situs Ratu Boko di Sleman, Yogyakarta, hanya demi mengejar foto matahari terbenam yang ikonik di gerbang utamanya yang megah. Padahal, penelusuran sejarah Candi Ratu Boko menyimpan fakta mengejutkan bahwa situs budaya ini sejatinya bukanlah candi peribadatan murni, melainkan reruntuhan keraton atau kompleks istana.
Situs ini berdiri gagah di atas bukit dengan pemandangan yang memukau. Di balik keindahan visualnya saat senja, tersimpan lapisan sejarah peradaban kerajaan Jawa Kuno yang kompleks dan penuh teka-teki.
Fakta Sejarah Candi Ratu Boko
Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs seluas 25 hektar ini adalah sisa-sisa kompleks istana (keraton hunian), berbeda fungsi dengan Borobudur atau Prambanan yang murni tempat peribadatan. Bukti kuat terlihat dari adanya sisa bangunan profan, seperti paseban (balai audiensi), pendopo, hingga kaputren yang merupakan tempat tinggal putri raja.
Baca juga: Mengungkap Misteri Sejarah Candi Ijo yang Menyimpan Mantra Kutukan Kehancuran
Penemuan inskripsi bertuliskan Panabwara di gerbang utama semakin mempertegas status Situs Ratu Boko sebagai hunian kaum bangsawan pada masanya. Inskripsi tersebut merujuk pada keturunan Rakai Panangkaran, penguasa besar dari Wangsa Syailendra yang pernah berjaya di tanah Mataram Kuno.
Awalnya, situs ini didirikan pada tahun 792 Masehi sebagai vihara Buddha bernama Abhayagiriwihara oleh Rakai Panangkaran sendiri. Nama Sansekerta tersebut, yang berarti biara di bukit yang bebas dari bahaya, menandakan tujuan awalnya untuk mencari ketenangan spiritual.
Rakai Panangkaran membangun tempat ini setelah memutuskan mengundurkan diri dari hiruk pikuk kekuasaan duniawi. Fondasi awalnya murni hasrat seorang penguasa tua untuk menemukan kedamaian batin di masa pensiunnya.
Baca juga: Sejarah Candi Mendut, Permata Tersembunyi yang Lebih Tua dari Borobudur
Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi dan kepemilikan kompleks ini mengalami perubahan drastis mengikuti dinamika politik dan agama Kerajaan Mataram Kuno. Pada masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kombayoni yang beragama Hindu, nama tempat suci ini kemudian diubah menjadi Kraton Walaing.
Transformasi Fungsi dan Mitos Air Awet Muda
Perubahan fungsi ini dibuktikan dengan ditemukannya arca-arca bernuansa Hindu seperti Durga, Ganesha, dan Yoni di lokasi yang sama. Ratu Boko menjadi saksi bisu akulturasi budaya, tempat dua agama besar pernah hidup bergantian meninggalkan jejak dalam harmoni arsitektur.
Lokasinya yang berada di ketinggian 195,97 meter di atas permukaan laut bukanlah sebuah kebetulan. Prasasti Siwagrha (856 M) menggambarkan tempat ini sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan ratusan batu yang dibangun oleh Balaputra.
Sisa dinding tebal dan parit kering yang mengelilingi kompleks menjadi bukti nyata fungsi gandanya sebagai benteng yang sulit ditembus musuh. Selain sebagai tempat tinggal yang nyaman dan sejuk, keraton di atas bukit ini dirancang untuk menahan serangan militer dari luar.
Baca juga: Sejarah Candi Kalasan dan Teknologi Kuno Vajralepa yang Membuat Ukiran Awet Berabad-abad
Mitos lokal juga turut mewarnai keberadaan situs ini, terutama yang berkaitan dengan legenda populer Roro Jonggrang, di mana Raja Boko konon adalah ayahnya. Ada kepercayaan mistis bahwa pasangan kekasih yang datang ke sini hubungannya bisa kandas. Namun, terdapat sumber air kuno di dalam kompleks yang dipercaya memiliki tuah magis untuk membuat awet muda.
Ratu Boko adalah palimpses sejarah yang merekam jejak spiritualitas, kekuasaan, dan pertahanan dalam satu lokasi. Memahami kompleksitas sejarah Candi Ratu Boko akan menambah ilmu pengetahuan Anda saat menatap gerbang batunya yang bisu namun bercerita banyak hal. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 days ago
8

















































