harapanrakyat.com,- Sejarah Imam Malik yang terkenal sebagai ulama tersohor dalam sejarah Islam ternyata tidak terlepas rasa hormatnya kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan kisah penghormatannya itu sangat melegenda di kalangan ulama hadis klasik.
Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber, Ia tidak pernah mau menaiki hewan tunggangan di Madinah. Pasalnya ia merasa malu menginjak tanah yang di dalamnya bersemayam jasad mulia Rasulullah SAW.
Baca juga: Kisah Nabi Armiya dan Nebukadnezar, dari Penjara hingga Tawaran Takhta
Kecintaannya terhadap Kota Nabi begitu dalam hingga mempengaruhi setiap aspek kehidupan sehari-harinya secara detail. Ulama besar ini lahir pada tahun 93 Hijriah atau 711 Masehi. Ia menghabiskan hampir seluruh usianya untuk menjaga kemurnian hadits di kota suci tersebut.
Sejarah Imam Malik bin Anas sebagai Imam Darul Hijrah
Imam Malik dikenal luas dengan julukan Imam Darul Hijrah karena keteguhannya untuk tidak pernah meninggalkan Kota Madinah seumur hidup. Ia hanya pergi ke Mekkah untuk haji. Ia berpendapat bahwa Madinah adalah tempat turunnya wahyu dan tempat tinggal anak cucu sahabat yang paling murni sanad keilmuannya.
Majelis ilmunya yang digelar di Masjid Nabawi menjadi tujuan utama para pencari ilmu dari seluruh penjuru dunia Islam. Ini terjadi pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Ribuan murid, termasuk Imam Syafi’i muda, datang berbondong-bondong. Mereka datang hanya untuk mendengar satu hadits yang diriwayatkan langsung dari lisan sang imam besar.
Ketegasannya dalam berfatwa sangat disegani oleh kawan maupun lawan, bahkan oleh para penguasa seperti Khalifah Harun Ar-Rasyid yang sangat menghormatinya.
Baca juga: Sejarah Kaligrafi Islam, Jejak Seni Spiritual yang Mampu Melintasi Zaman
Tak hanya itu, Ia dengan berani pernah menolak permintaan sang khalifah untuk menggantung kitab Al-Muwatta di dinding Ka’bah. Permintaan itu adalah agar kitab dijadikan satu-satunya hukum positif negara.
Alasannya sangat bijaksana. Para sahabat Nabi telah menyebar ke berbagai negeri membawa sunnah dan ijtihad yang berbeda-beda sesuai konteksnya. Memaksa satu pendapat mazhab saja kepada seluruh umat Islam di dunia justru akan menyempitkan rahmat Allah yang sangat luas.
Metode pengajarannya juga sangat unik, karena ia selalu mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik sebelum membacakan hadits Nabi. Hal ini dilakukan semata-mata sebagai adab dan untuk mengagungkan ucapan Rasulullah agar memiliki wibawa di hati para pendengarnya.
Mahakarya Kitab Al-Muwatta yang Menjadi Rujukan Dunia
Kitab Al-Muwatta adalah karya monumental Ia yang berisi ribuan hadits pilihan. Ini telah disaring dengan seleksi sangat ketat selama empat puluh tahun lamanya. Nama Al-Muwatta sendiri memiliki arti “yang disepakati” atau “yang dimudahkan”. Ini bagi masyarakat Madinah pada masa itu untuk dipelajari.
Dalam menyusun kitab ini, Ia tidak hanya mengandalkan hafalan teks semata. Akan tetapi juga melakukan validasi praktik amal penduduk Madinah sehari-hari. Metode ini dikenal sebagai Amal Ahlul Madinah yang dianggapnya lebih kuat daripada hadits ahad. Sebab tradisi ini diwariskan turun temurun secara massal sejak zaman Nabi.
Baca juga: Kisah Talut dan Jalut, Bukti Kekuatan Iman Mengalahkan Kedzaliman
Imam Syafi’i yang merupakan murid kecintaannya pernah berkata dengan tegas bahwa tidak ada kitab di muka bumi yang lebih shahih setelah Al-Quran selain Al-Muwatta. Pengakuan tulus ini menunjukkan betapa tingginya standar ilmiah dan kejujuran. Ini diterapkan oleh sang guru dalam meriwayatkan setiap sabda Nabi.
Dari sejarah hidup Imam Malik bin Anas ini mengajarkan bahwa adab kepada Rasulullah harus didahulukan jauh sebelum seseorang menuntut ilmunya. Warisan ilmu pengetahuan darinya tetap abadi hingga kini. Ini menjadi pelita terang bagi umat yang ingin meneladani jejak langkah Nabi di tanah suci. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 days ago
9

















































