Sejarah rempah kayu manis kerap menjadi pembahasan menarik. Bagaimana tidak, kayu manis digadang-gadang sebagai rempah tertua yang manusia temukan bahkan memiliki nilai penting dalam sejarah perdagangan dunia. Aroma serta rasa khas membuatnya tidak hanya untuk bumbu masakan, tetapi juga obat, pelengkap ritual, hingga simbol kemewahan.
Baca Juga: Sejarah Jalur Rempah Nusantara di Pulau Jawa
Selama ribuan tahun, bahan tersebut telah diperebutkan oleh berbagai bangsa. Menariknya, komoditi ini turut mendasari alasan di balik terbukanya jalur perdagangan lintas benua. Mari kita ulas lebih detail.
Sejarah Rempah Kayu Manis yang Jarang Orang Tahu
Seperti namanya, kayu manis adalah rempah yang berasal dari kulit bagian dalam pohon kayu manis. Tanaman tersebut termasuk ke dalam genus Cinnamomum dan famili Lauraceae.
Beberapa spesies yang populer antara lain Cinnamomum zeylanicum (kayu manis Sri Lanka) dan Cinnamomum cassia atau kayu manis China.
Proses menghasilkannya yakni dari kupasan kulit pohon yang dikeringkan. Setelah itu, para petani menggulung secara alami hingga membentuk batang kayu manis yang umum kita jumpai di pasaran.
Kayu Manis di Zaman Mesir Kuno
Dalam catatan sejarah, kayu manis sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Mereka tercatat pertama kali diimpor ke Mesir sekitar tahun 2000 SM.
Pada masa itu, kayu manis merupakan komoditas bernilai tinggi dan sering menjadi hadiah bagi keluarga kerajaan.
Pahatan kuno juga mencatat bahwa kayu manis, termasuk Cinnamomum cassia, berperan penting sebagai persembahan bagi dewa-dewi. Salah satunya Apollo di Miletus.
Secara umum, di Mesir kuno, kulit kayu manis berfungsi untuk pembalseman mumi. Berlanjut ke era Ptolemy, rempah ini kemudian menjadi bahan utama saat pembuatan kyphi, dupa khas Mesir Kuno untuk ritual keagamaan.
Konon, sejarah rempah kayu manis pada masa ini sengaja para pedagang Mediterania rahasiakan untuk menjaga monopoli perdagangan.
Asal-Usul Versi Yunani dan Romawi
Lain dari catatan Mesir kuno, sejarawan Yunani seperti Herodotus menyebut kayu manis berasal dari wilayah Arab. Sehingga kala itu muncullah kisah tentang burung yang mengumpulkan ranting kayu manis untuk membangun sarang.
Pliny the Elder kemudian menulis kayu manis dibawa melintasi Semenanjung Arab menggunakan rakit tanpa kemudi, layar, atau dayung. Para pengangkut hanya mengandalkan angin pasat musim dingin.
Ia turut menegaskan bahwa kisah burung kayu manis hanyalah fiksi para pedagang. Meski begitu, mitos tersebut bertahan hingga masa Kekaisaran Byzantium sekitar tahun 1310. Bahkan mampu mempertahankan harga komoditas yang sangat tinggi pada masanya.
Baca Juga: Sejarah Perburuan Mutiara dari Timur dan Perebutan Hegemoni
Beralih ke masa Romawi, kayu manis termasuk rempah termahal. Pliny the Elder mencatat satu pon Romawi (327 gram) kayu manis atau kasia punya harga 1500 denarii. Nilai ini setara dengan lima puluh bulan gaji buruh.
Abad Pertengahan dan Terbukanya Asal-Usul Kayu Manis
Sepanjang abad pertengahan, sejarah rempah kayu manis masih menjadi misteri di Eropa. Segala catatan yang ada tidak serta merta membuat para peneliti percaya.
Jean de Joinville pada 1248 percaya bahwa kayu manis berasal dari Hulu Sungai Nil di Ethiopia. Meskipun Marco Polo sempat meragukan klaim tersebut.
Informasi yang lebih akurat muncul sekitar tahun 1270 melalui tulisan Zakariya al-Qazwini. Pada catatan tersebut muncul pernyataan Sri Lanka sebagai daerah asal kayu manis. Tulisannya diperkuat oleh surat John dari Monte Corvino pada 1292.
Dominasi Perdagangan hingga Era Kolonial
Misteri dari asal-usul kayu manis tak berhenti sampai di sana. Para pedagang terus melakukan penelitian guna mendapat jawaban sekaligus menggencarkan dominasi perdagangan.
Salah satunya kulit kayu manis dibawa langsung dari Kepulauan Maluku ke Rhapta di Afrika Timur. Setelah itu saudagar-saudagar meneruskan ke Alexandria, Mesir.
Pedagang Venezia memonopoli perdagangan rempah di Eropa hingga kekuatan Mamluk dan Utsmaniyah bangkit. Ini mendorong bangsa Eropa mencari jalur laut ke Asia.
Sampailah pada abad ke-16, Ferdinand Magellan menemukan Cinnamomum mindanaense di Filipina. Selanjutnya, Belanda mengambil alih Sri Lanka sekitar 1638–1658. Hasilnya VOC memanen kayu manis secara besar-besaran.
Tak tinggal diam, Inggris kemudian mendirikan Anjarakkandy Cinnamon Estate di India pada 1767. Ini jalan baru bagi mereka mengambil alih Sri Lanka dari Belanda pada 1796.
Baca Juga: Sejarah Kerajaan Huamual, Kekuasaan di Jazirah Seram Barat
Langkah Inggris tersebut sekaligus menandai babak baru dalam sejarah rempah kayu manis dunia. Dimana jika kita pahami secara mendetail memang tidak ada satu titik pasti dari asal kayu manis. Namun, fakta serta sejarah terkini cenderung menyebut Sri Lanka, Asia Selatan dan Asia Tenggara sebagai penghasil utama rempah kayu manis. (R10/HR-Online)

3 days ago
15

















































