harapanrakyat.com,- Di pedalaman Sukabumi yang sejuk, sebuah peninggalan megah tersembunyi bernama Situs Pangguyangan. Lokasinya yang berada di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Situs budaya ini bukan hanya tumpukan batu kuno biasa. Sebaliknya, ia adalah struktur menyerupai piramida bertingkat. Uniknya, di sini menyimpan perpaduan unik peradaban prasejarah dengan legenda spiritual Islam.
Selain itu, situs ini juga dipercaya sebagai manifestasi konsep tangga menuju langit bagi masyarakat agraris masa lampau di wilayah selatan Jawa Barat. Bahkan, ini menjadi penanda budaya yang pernah berjaya. Hal ini dilakukannya dengan sistem kepercayaan dan teknologi tata batu canggih di tanah Pasundan.
Arsitektur Situs Pangguyangan Sukabumi
Susunan balok-balok batuan andesit yang masif membentuk arsitektur Situs Pangguyangan. Ini menjadikannya pernyataan kosmologis yang membentang gagah dalam tujuh tingkatan teras. Bangunan induk situs ini memiliki denah persegi empat yang presisi. Panjangnya mencapai 24 meter dan lebar 19 meter yang sangat luas.
Baca juga: Sejarah Candi Ratu Boko, Ini Fakta-fakta yang Jarang Diketahui
Setiap teras bangunan ini menampilkan ketinggian bervariasi antara 75 hingga 90 sentimeter. Mereka menyusun struktur kokoh ini secara rapi menggunakan teknik dry masonry atau susunan batu tanpa perekat semen.
Secara teknis geografis, bangunan induk ini berorientasi timur-barat yang sejajar dengan lintasan matahari, namun pandangan visualnya menyimpan makna lebih dalam. Arah spiritual situs ini secara sengaja difokuskan menghadap langsung ke puncak Gunung Gede yang menjulang tinggi di kejauhan.
Masyarakat kuno meyakini Gunung Gede sebagai parahyangan atau tempat suci bersemayamnya arwah para leluhur yang menjaga keseimbangan alam semesta. Pilihan orientasi ini oleh para pembangun situs ini menggunakan perhitungan kosmologi yang matang untuk menghormati kekuatan alam.
Sementara itu, pengunjung dapat menemukan susunan batu-batu kecil di bagian puncak tertinggi situs. Batu-batu tersebut membentuk empat persegi panjang dengan batu tegak menyerupai nisan kubur. Tanda ini mengindikasikan adanya ruang ritual yang kompleks dan sakral di masa lalu. Pada masa itu, mungkin ruang ini hanya boleh dimasuki oleh pemuka adat atau resi.
Selain itu, tepat 2,5 meter di depan bangunan utama, sebuah batu datar menempati posisi strategis dan mencolok. Batu ini kemungkinan besar berfungsi sebagai altar utama untuk meletakkan sesaji atau persembahan dalam upacara pemujaan roh nenek moyang.
Histori yang Unik
Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, situs ini pada dasarnya berasal dari tradisi megalitik. Tradisi tersebut berpusat pada pemujaan arwah leluhur atau animisme yang kuat.
Bangunan punden berundak ini menjalankan fungsi asli tersebut sebelum masuknya agama-agama besar, yang masyarakat setempat keramatkan dengan sebutan Gentar Bumi. Namun, seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh baru, situs prasejarah ini mengalami proses akulturasi budaya yang halus dan damai.
Kini, masyarakat juga mengenal lokasi ini secara luas sebagai tempat ziarah religi yang penting. Tempat ini berperan dalam konteks penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Barat selatan. Legenda turun-temurun menyebutkan bahwa lokasi ini pernah menjadi tempat berkumpulnya para Wali Songo untuk bermusyawarah atau beristirahat.
Baca juga: Sejarah Candi Mendut, Permata Tersembunyi yang Lebih Tua dari Borobudur
Situs ini juga erat kaitannya dengan tokoh spiritual bernama Syekh Gentar Bumi, atau dikenal Eyang Gentar Bumi. Sementara itu, ada juga yang mengidentifikasi tokoh ulama ini sebagai Syekh Haji Wali Sakti Qudratullah.
Sedangkan berdasarkan sejarah lisan, tersiar kabar bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah mengunjungi situs ini secara khusus. Hal itu dituturkan oleh juru kunci situs ini, Ki Apud. Karena kedatangan orang nomor satu di Indonesia, kemudian akses menuju situs ini akhirnya terbuka. Kawasan ini dulunya merupakan area perkebunan yang sangat tertutup dan terisolasi, namun perintah presiden mengubahnya menjadi jalan umum.
Tak hanya itu, Presiden Soeharto juga dikabarkan melanjutkan dan menyempurnakan pembangunan infrastruktur di area bersejarah ini sekitar periode tahun 1978 hingga 1979.
Selain presiden, tokoh-tokoh penting lain seperti politisi Fadli Zon hingga mantan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Polisi Anton Charliyan juga pernah menjejakkan kaki di Situs Pangguyangan Sukabumi.
Fungsi Ganda Situs
Di luar fungsinya sebagai pusat ritual pemujaan, para peneliti menduga kuat Situs Pangguyangan memiliki fungsi praktis saintek. Fungsi tersebut tak terduga bagi manusia modern. Bagi masyarakat agraris kuno yang hidupnya bergantung penuh pada alam, struktur batu ini juga digunakan sebagai penanda musim. Atau kalender pertanian alami. Para tetua adat meyakini posisi matahari yang menyinari batu-batu tertentu pada waktu khusus menjadi patokan akurat. Patokan ini untuk memberi komando pertanian.
Baca juga: Mengungkap Misteri Sejarah Candi Ijo yang Menyimpan Mantra Kutukan Kehancuran
Masyarakat menggunakan bayangan batu untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk mulai menanam padi huma agar terhindar dari hama. Begitu pula saat masa panen tiba, situs ini menjadi acuan waktu untuk memulai syukuran hasil bumi kepada penguasa alam.
Kearifan lokal ini ternyata masih terhubung erat dengan tradisi masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Mereka tinggal di wilayah pegunungan tersebut. Hingga kini, masyarakat adat masih merawat Situs Pangguyangan Sukabumi. Hal ini sebagai bagian integral dari upaya spiritual dan teknis untuk memastikan hasil panen melimpah dan berkah. (Muhafid/R6/HR-Online)

1 day ago
8

















































