harapanrakyat.com,- Fenomena bonus demografi seringkali memicu kecemasan terkait peluang kerja kalangan Gen Z (Generasi Z). Menanggapi hal tersebut, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) RI, Muhammad Qodari, menegaskan komitmen pemerintah dalam merealisasikan target 19 juta lapangan kerja baru.
Menurut Qodari, tantangan utama saat ini adalah menyerap melimpahnya tenaga kerja secara maksimal melalui berbagai program strategis nasional.
Efek Domino Program MBG Ciptakan Peluang Kerja Gen Z
Salah satu pilar utama yang pemerintah harapkan menjadi mesin penggerak ekonomi adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Qodari memaparkan bahwa program ini tidak hanya fokus pada kesehatan, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi berantai yang luas.
Baca Juga: Makan Bergizi Gratis 2026 Dimulai Serentak 8 Januari, Ini Jadwal dan Skemanya
Pemerintah memproyeksikan pembangunan sekitar 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di berbagai wilayah Indonesia.
“Setiap SPPG diperkirakan menyerap 50 tenaga kerja langsung. Total lapangan kerja langsung dari 30.000 SPPG mencapai 1,5 juta orang. Kemudian, butuh sekitar 10 pemasok (sayur, ayam, lele) per SPPG, yang mana setiap pemasok memerlukan setidaknya 5 pekerja,” ujar KSP Qodari melalui kanal Youtube Rhenald Kasali pada Senin (5/1/2026).
Secara keseluruhan, lanjut Qodari, program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menyerap hingga 3 juta tenaga kerja saat beroperasi penuh.
Peran Koperasi dan Peluang Karir di Luar Negeri
Peluang kerja bagi Gen Z selain program MBG, pemerintah juga mengandalkan Koperasi Merah Putih sebagai wadah penyerapan tenaga kerja lainnya.
Dengan target 80.000 unit koperasi, diasumsikan akan ada tambahan 800.000 lowongan baru jika setiap koperasi mempekerjakan 10 orang.
Tak hanya fokus di dalam negeri, Qodari juga menyoroti peluang besar di pasar internasional. Negara-negara maju seperti Jepang dan beberapa negara di Eropa kini membutuhkan banyak tenaga kerja karena fenomena aging society atau penuaan penduduk.
Dalam konteks ini, Qodari mengusulkan perubahan istilah dari Pekerja Migran menjadi ‘Diaspora Indonesia’. Perubahan paradigma ini bertujuan untuk meningkatkan rasa bangga anak bangsa saat berkarir di luar negeri, baik pada sektor white collar maupun blue collar.
Meningkatkan Kualitas SDM Melalui Teknologi dan Kesehatan
Untuk memastikan tenaga kerja Indonesia mampu bersaing, pemerintah melakukan intervensi pada sektor kesehatan dan pendidikan. Program MBG berperan penting dalam memutus rantai stunting agar generasi mendatang memiliki kemampuan kognitif dan fisik yang prima.
Baca Juga: Hindari Nasi Basi, Menkeu Purbaya Ajukan Perubahan Skema Program MBG Jadi Uang Tunai
Kemudian, dalam bidang pendidikan, pemerintah pun berupaya menghapus kesenjangan kualitas antara pulau Jawa dan luar Jawa. Salah satu caranya adalah melalui penyediaan panel interaktif digital di sekolah pelosok. Serta penggunaan guru virtual untuk memberikan materi pendidikan berkualitas setara kota besar.
Dengan sinergi antara penguatan ekonomi domestik dan ekspansi pasar global, KSP Qodari optimis target lapangan kerja dapat tercapai secara bertahap. Termasuk peluang kerja bagi Gen Z.
Hal ini dibarengi dengan peningkatan kompetensi SDM di bidang spesifik, seperti hospitality, caregiver, hingga ahli las (welder). (R3/HR-Online/Editor: Eva)

1 day ago
9

















































