harapanrakyat.com,- Risiko banjir yang mengintai ratusan hektare area pertanian di Kecamatan Cimerak memicu respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Pangandaran. Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DKPKP) bersama DPRD Pangandaran meninjau langsung sedimentasi pasir di Muara Legokjawa.
Kepala DKPKP Pangandaran Usep mengatakan, sumbatan pasir laut tersebut menjadi pemicu utama terhambatnya pembuangan air sungai menuju ke laut lepas. Dampaknya, estimasi sekitar 500 hektare lahan padi pada tiga desa terancam terendam luapan air saat musim penghujan tiba.
Baca juga: Polisi Larang Warga Ambil Batu Bara Tumpahan Kapal Tongkang di Pangandaran
Guna mengantisipasi kerugian petani, proses pengerukan material pasir di kawasan muara tersebut akhirnya mulai dikerjakan. Langkah normalisasi ini diharapkan mampu melancarkan kembali pembuangan debit air guna meminimalkan potensi banjir bandang.
“Muara Legokjawa punya fungsi sangat krusial sebagai jalur keluarnya air sungai ke laut. Ketika akses itu tertutup pasir, ancaman banjir melonjak,” kata Usep, Sabtu (20/6/2026).
“Kami bersyukur proses pengerukan sudah mulai berjalan saat ini. Efeknya, sumbatan air kembali terbuka,” lanjut Usep menambahkan.
Normalisasi Muara Legokjawa
Menurut Usep, normalisasi ini menjadi langkah yang sangat strategis. Hal ini penting untuk meminimalkan potensi luapan sungai yang mengancam sektor pertanian.
Fenomena pendangkalan muara akibat pergerakan pasir pantai sebetulnya merupakan persoalan klasik warga setempat. Kondisi ini kerap dikeluhkan karena memicu intrusi air laut yang merusak kualitas tanah di area persawahan. “Kehadiran kami di sini karena ada problem penyumbatan sungai di Legokjawa. Dampaknya bisa memicu banjir di tiga desa. Persoalan pelik terkait mampetnya aliran air ini memang sangat dikeluhkan oleh kelompok nelayan serta para petani setempat,” tutur Asep.
Asep menguraikan bahwa kendala paling berat muncul sewaktu air laut merangsek masuk ke hulu sungai saat muara tertutup. Air asin yang terjebak tersebut tidak bisa kembali ke laut dan akhirnya meluap menggenangi tanaman padi.
Baca juga: Kapal Tongkang Batubara Kandas di Pantai Sukaresik Pangandaran, Ternyata Sengaja Didamparkan
“Luas area persawahan yang terancam terendam luapan air mencapai kisaran 500 hektare. Saat musim pancaroba, wilayah ini rawan banjir akibat muara tertutup pasir. Air laut yang masuk jadi sulit kembali ke laut,” tambahnya.
Ketua DPRD menilai pengerukan menggunakan alat berat saat ini barulah bersifat penanganan darurat jangka pendek. Penanganan berkala tetap harus disiapkan jika muara kembali mampet.
“Fenomena alam ini rutin melanda setiap tahun. Penanganan terbaik adalah mendirikan infrastruktur breakwater atau pemecah gelombang. Kami juga menyarankan pembangunan struktur mulut muara secara permanen. Langkah ini penting agar posisinya tidak terus bergeser,” pungkasnya. (Kiki/R6/HR-Online)

13 hours ago
12

















































