harapanrakyat.com,- Keindahan alam Grand Canyon, Kecamatan Cijulang, yang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ternyata menyimpan persoalan yang tengah dihadapi para pelaku usaha wisata. Di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan, para pengemudi dan pemilik perahu wisata di Grand Canyon mengeluhkan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) khususnya jenis Pertamax. Sebab, kenaikan BBM ini semakin membebani biaya operasional mereka.
Baca Juga: Pertamina Jamin Stok BBM Pertalite Aman, Distribusi di Seluruh SPBU Berjalan Normal
Salah seorang pelaku usaha perahu Grand Canyon, Irfan, mengaku menggantungkan hidupnya dari sektor wisata tersebut selama lebih dari dua dekade. Namun dalam beberapa waktu terakhir, ia menghadapi kesulitan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, yakni terkait ketersediaan bahan bakar untuk mesin tempel perahunya.
Menurut Irfan, sebelumnya perahu yang ia operasikan menggunakan pertamax. Namun setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan, ia terpaksa beralih menggunakan pertalite demi menekan biaya operasional. Sayangnya, upaya tersebut justru menemui kendala baru.
“Dulu mesin tempel perahu saya pakai pertamax. Sekarang karena harganya naik, akhirnya menggunakan pertalite. Tapi pertalite juga susah didapat, karena harus punya barcode seperti nelayan,” ungkapnya, Senin (15/6/2026).
Baca Juga: Pengusaha Rental Wisata Geruduk Disparbud Pangandaran, Ini Alasannya
Curhat Pelaku Perahu Wisata Grand Canyon; Pertamax Mahal, Pertalite Tak Bisa Dibeli Bebas
Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa membeli pertalite di SPBU, karena tidak memiliki barcode yang menjadi syarat pembelian BBM subsidi. Akibatnya, ia harus membeli bahan bakar dari pengecer dengan harga yang jauh lebih mahal.
Menurutnya, situasi tersebut cukup memberatkan, terlebih saat ini kunjungan wisatawan ke Grand Canyon Cijulang sedang meningkat. Di satu sisi permintaan jasa wisata perahu tinggi, namun di sisi lain biaya operasional terus membengkak.
“Kami tidak punya barcode untuk beli Pertalite di SPBU, jadi terpaksa beli ke pengecer. Harganya lebih mahal. Padahal saat ini wisata Grand Canyon sedang ramai pengunjung, tapi mau bagaimana lagi,” tambah Irfan.
Ia berharap adanya solusi dari pemerintah, agar akses bahan bakar untuk sektor wisata dapat lebih mudah dan terjangkau. Pelaku usaha perahu di Grand Canyon menilai, keberlangsungan usaha wisata air sangat bergantung pada ketersediaan BBM yang memadai.
24 Perahu Listrik Sudah Beroperasi di Grand Canyon Cijulang, Jadi Jawaban Keluhan BBM?
Di tengah persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pangandaran mulai mendorong penggunaan mesin perahu listrik sebagai alternatif yang lebih hemat biaya sekaligus ramah lingkungan.
Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami mengatakan, bahwa saat ini sudah ada sekitar 24 unit perahu wisata di kawasan Grand Canyon yang menggunakan mesin listrik. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pangandaran dengan PT PLN.
“Sekarang sekitar 24 perahu yang sudah menggunakan mesin listrik. Saya berharap ke depan seluruh perahu wisata di kawasan ini bisa beralih menggunakan mesin listrik,” kata Citra.
Selain dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap BBM, penggunaan mesin listrik juga diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan di kawasan wisata alam yang menjadi daya tarik utama Pangandaran tersebut.
Baca Juga: Pelaku Usaha Wisata Air di Pantai Pangandaran Segera Ditata, Ini Tujuannya
Pemkab Pangandaran menargetkan jumlah bantuan mesin listrik terus bertambah. Dari total kebutuhan yang diproyeksikan mencapai 80 unit, saat ini baru 24 unit yang telah terealisasi. “Targetnya bisa sampai 80 mesin perahu listrik yang dibagikan kepada pelaku usaha. Saat ini yang sudah terealisasi baru 24 unit dan sisanya sedang kami upayakan,” pungkasnya. (Kiki/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

9 hours ago
8

















































