harapanrakyat.com,- Ancaman kesehatan anak di Indonesia tidak hanya berkisar pada stunting atau gizi buruk. Di balik aktivitas harian anak yang tampak biasa, terselip sebuah kondisi sunyi yang kerap diabaikan para orang tua, anemia.
Gangguan kesehatan ini terbukti bukan sekadar persoalan kekurangan darah ringan, melainkan batu sandungan serius yang dapat merusak masa depan anak. Mulai dari menghambat tumbuh kembang fisik, merontokkan daya tahan tubuh, hingga melumpuhkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar di sekolah.
Kesadaran inilah yang disuarakan oleh dr. Jenni Mutiara Saragih, seorang Dokter Umum di RSUD Pandega Pangandaran. Berdasarkan tinjauan medis, ia mengingatkan agar para orang tua meningkatkan kepekaan guna mengenali gejala anemia sejak dini. Hal ini agar penanganan medis dapat dieksekusi secara cepat dan akurat.
Memahami Anemia dan Dampaknya bagi Anak
Secara medis, dr. Jenni menjelaskan, bahwa anemia adalah suatu kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) di dalam aliran darah anak berada di bawah ambang batas normal. Akibatnya, kapasitas darah dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan dan organ vital tubuh, termasuk otak, mengalami penurunan drastis.
Kondisi kekurangan pasokan oksigen ini memicu berbagai manifestasi klinis yang kasat mata. Anak penderita anemia umumnya menunjukkan sejumlah gejala khas, antara lain mudah merasa lelah dan lemas sepanjang hari. Kemudian, kulit, bibir, serta kelopak mata tampak pucat. Selanjutnya, mengalami penurunan konsentrasi belajar, menjadi lebih pasif dan kurang bergairah dibandingkan anak-anak sebayanya.
Baca Juga: RSUD Pandega Pangandaran Edukasi Pentingnya K3, Ini 3 Bahaya yang Mengintai Pekerja Kantoran
Ia mengingatkan, bahwa jangan menganggap sepele anemia yang terjadi pada anak. Sebab, apabila tidak segera diatasi dengan baik, maka dampaknya pada pertumbuhan serta perkembangan otak. “Selain itu juga, berdampak pada kualitas hidup anak di masa depan,” jelasnya belum lama ini.
Lanjutnya menuturkan, bahwa faktor pemicu anemia pada anak sangat beragam. Mulai dari defisiensi zat besi akibat asupan nutrisi harian yang tidak seimbang, paparan infeksi tertentu. Hingga, penyakit bawaan yang mengganggu proses pembentukan sel darah merah di dalam tubuh.
Sebagai langkah mitigasi, dr. Jenni mengimbau para orang tua untuk memegang teguh prinsip gizi seimbang. Peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi wajib menjadi prioritas menu harian keluarga. Seperti daging merah dan hati, ikan segar, telur, aneka sayuran hijau, dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Selain itu, ia juga menyarankan agar pemberian makanan kaya zat besi dibarengi dengan sumber vitamin C. “Sebab kandungan vitamin C terbukti secara klinis, mampu mengoptimalkan proses penyerapan zat besi di dalam saluran pencernaan anak,” tuturnya.
Deteksi Dini di Fasilitas Kesehatan
Selain intervensi nutrisi di rumah, pengawasan medis secara berkala memegang peranan penting. Orang tua diimbau tidak ragu membawa buah hati ke fasilitas kesehatan terdekat, apabila anak menunjukkan indikasi klinis yang mengarah pada gejala anemia.
Lebih lanjut ia menjelaskan, semakin dini indikasi anemia dikenali dan diperiksakan, maka semakin tinggi pula peluang medis untuk mengatasinya secara tuntas. “Sehingga tidak menimbulkan komplikasi gangguan tumbuh kembang anak di kemudian hari,” jelasnya.
Menjawab tantangan tersebut, RSUD Pandega Pangandaran secara aktif mengajak masyarakat luas untuk bersama-sama meningkatkan literasi dan kesadaran kesehatan. Melalui program edukasi publik yang berkelanjutan, rumah sakit rujukan ini berharap para orang tua semakin mumpuni dalam mengenali faktor risiko. Memahami langkah preventif, serta sigap melindungi anak dari ancaman anemia sejak dini. (Adi/R5/HR-Online)

6 hours ago
10

















































