Rahasia Eksistensi Suku Tengger: Antara Ritual Yadnya Kasada dan Harmoni Alam di Lereng Bromo

14 hours ago 11

Masyarakat Suku Tengger yang mendiami lereng Gunung Bromo dan Gunung Semeru, merupakan entitas subkultur Jawa unik yang hingga kini masih memegang teguh tradisi leluhur di tengah arus modernisasi. Keberadaan komunitas ini tersebar di empat wilayah administratif, yakni Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Malang.

Masyarakat Tengger memiliki ketahanan budaya yang luar biasa melalui berbagai upacara adat, sistem kepemimpinan spiritual. Hingga kearifan lokal dalam menjaga ekosistem.

Jejak Sejarah Suku Tengger dan Legenda Rara Anteng-Jaka Seger

Baca Juga: Kirab Malam 1 Suro Solo: Tradisi Sakral, Ikon Kebo Bule, dan Aturan Tapa Bisu

Identitas masyarakat Tengger tidak dapat terpisahkan dari sejarah Kerajaan Majapahit. Berdasarkan legenda yang dipercaya secara turun-temurun, nama “Tengger” diambil dari penggabungan nama pasangan leluhur mereka, Rara Anteng (putri Raja Brawijaya), dan Jaka Seger (putra seorang Brahmana).

Sebagian besar masyarakat Tengger meyakini bahwa leluhur mereka mengungsi ke wilayah pegunungan yang sulit untuk menjangkaunya. Tujuan mengungsi ke wilayah tersebut untuk melestarikan tradisi Hindu-Buddha saat Islam mulai menyebar di wilayah pesisir Jawa.

Secara bahasa, Suku Tengger masih mempertahankan dialek bahasa Jawa Kuno atau Kawi dalam kehidupan sehari-hari, dan kitab-kitab mantra mereka.

Meskipun terdapat variasi leksikal di berbagai daerah pengamatan seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang, esensi bahasa mereka tetap menjadi simbol identitas yang membedakannya dari masyarakat Jawa pada umumnya.

Yadnya Kasada: Ritual Syukur dan Pengorbanan

Salah satu kebudayaan yang tetap eksis dan menjadi magnet pariwisata global adalah upacara adat Yadnya Kasada. Ritual ini merupakan bentuk persembahan dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi atas rezeki serta perlindungan yang diberikan.

Pelaksanaan Yadnya Kasada setiap tanggal 14 atau 15 bulan Kasada menurut penanggalan asli Suku Tengger, tepat saat bulan purnama.

Inti dari upacara ini adalah prosesi larung sesaji atau ngelabuh ke dalam kawah Gunung Bromo. Masyarakat membawa ongkek berisi berbagai hasil bumi seperti palawija dan buah-buahan. Berbagai hasil bumi tersebut mereka lemparkan ke kawah sebagai simbol pengingat akan pengorbanan Raden Kusuma, anak bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang mereka yakini menjaga alam Bromo.

Baca Juga: Masyarakat Adat Kampung Naga Tasikmalaya Konsisten Jaga Tradisi Bangunan Tanpa Semen dan Bata

Kelestarian tradisi Suku Tengger sangat bergantung pada peran Dukun Pandita sebagai pemimpin spiritual dan penjaga pengetahuan adat.

Seorang Dukun Pandita tidak dipilih berdasarkan garis keturunan, melainkan melalui kecakapan dalam menghafal doa serta mantra-mantra suci di luar kepala. Mereka bertugas memimpin berbagai upacara penting, mulai dari pernikahan adat Wologoro hingga ritual kematian Entas-entas.

Dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual besar seperti Yadnya Kasada atau Unan-unan (setiap lima tahun sekali), para pandita menggunakan sistem perhitungan kalender tradisional (Mecak Tengger).

Sistem ini menganut prinsip Surya Candra Permana, yakni pengamatan terhadap pergerakan matahari, bulan, dan planet untuk menentukan hari baik.

Mitigasi Bencana Melalui Kearifan Lokal

Hidup di lingkungan pegunungan vulkanik yang rawan gempa dan tanah longsor membuat Suku Tengger mengembangkan sistem mitigasi bencana berbasis budaya yaitu Model Mitigasi Inklusif Berbasis Kultural Tengger (MIBKT).

Kearifan lokal ini mengajarkan harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam sekitar melalui konsep Perayangan, Pawongan, dan Palemahan.

Contoh konkret dari praktik mitigasi ini adalah larangan menebang pohon tanpa menanam penggantinya. Serta mensakralkan kawasan punden dan pedanyangan sebagai zona konservasi air dan vegetasi.

Tradisi meletakkan sesajen di titik-titik rawan juga dimaknai sebagai pengingat agar warga senantiasa waspada terhadap tanda-tanda alam. Kolaborasi antara otoritas adat (penjaga roh) dan pemerintah (penjaga fisik) terbukti efektif dalam menjaga keselamatan komunitas tanpa menghilangkan nilai spiritualitas.

Tantangan di Era Modern

Baca Juga: Mengenal Kampung Adat Dukuh Garut dengan Segala Keunikan Tradisinya

Meskipun teknologi dan kendaraan bermotor mulai menggantikan tradisi berjalan kaki saat menuju tempat upacara, nilai kesakralan ritual Suku Tengger tidak luntur.

Tantangan utama saat ini adalah memastikan generasi muda tetap memiliki keterikatan kuat dengan tradisi lisan dan kearifan lokal di tengah arus digitalisasi.

Peran keluarga dan lembaga adat menjadi sangat vital untuk melakukan transmisi pengetahuan, agar identitas unik “Tiang Tengger” tetap lestari sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara yang paling berharga. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |