Wedang Dongo Keprabon, Kuliner Legendaris Solo yang Hangatkan Malam Sejak 1963

1 day ago 16

Menikmati suasana malam di Kota Surakarta terasa kurang lengkap tanpa menyesap semangkuk kehangatan di Wedang Dongo Keprabon. Di tengah menjamurnya cafe modern, kedai ini tetap berdiri kokoh sebagai ikon kuliner legendaris yang telah memanjakan lidah pelanggan sejak tahun 1963.

Terletak di kawasan strategis, tempat ini bukan sekadar destinasi makan, melainkan penjaga tradisi cita rasa warisan leluhur yang terus bertahan melintasi zaman.

Dahulu, sajian Wedang Dongo Keprabon merupakan minuman eksklusif yang hanya tersaji untuk keluarga kerajaan atau kalangan Keraton. Namun seiring berjalannya waktu, resep rahasia ini mulai merambah ke masyarakat luas. Bahkan kini menjadi buruan wajib bagi para wisatawan yang berkunjung ke Solo.

Baca Juga: Kuliner Legendaris Malang, Warisan Rasa yang Tak Lekang oleh Waktu

Saat ini, usaha legendaris tersebut telah memasuki pengelolaan generasi ketiga dengan tetap memprioritaskan keaslian rasa.

Keunggulan dan Filosofi di Balik Wedang Dongo Keprabon

Banyak orang sering menyamakan hidangan ini dengan Wedang Ronde, namun terdapat perbedaan mendasar yang cukup mencolok.

Berbeda dengan ronde yang menggunakan potongan roti. Sajian di sini murni menyajikan bola-bola ketan (dongo) sebagai bintang utamanya dengan kuah jahe rumahan (homemade) yang warnanya lebih coklat. Serta sensasi pedas yang jauh lebih kuat.

Isiannya pun melimpah, mulai dari tumbukan kacang tanah sangrai yang gurih di dalam bola ketan, hingga tambahan kolang-kaling dan kacang tanah rebus.

Secara filosofis, kehadiran Wedang Dongo Keprabon membawa makna yang mendalam. Karena nama “Dongo” dalam budaya Tionghoa diartikan sebagai “Doa”.

Baca Juga: Jelajah Kuliner Legendaris Cirebon: Dari Nasi Jamblang hingga Oleh-Oleh Ikonik yang Wajib Dicoba

Tradisi menyajikan butiran mochi dalam kuah jahe ini dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan bagi siapa saja yang menikmatinya.

Meskipun kini alat masak telah beralih dari arang ke kompor gas, komitmen untuk menjaga kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama agar tidak berubah selama lebih dari enam dekade.

Bertransformasi Mengusung Konsep Cafe

Menariknya, tempat ini telah bertransformasi menjadi area nongkrong favorit anak muda dengan konsep cafe. Selain menu klasik seperti Wedang Asle, Sekoteng, dan Wedang Kacang Putih, pengunjung juga bisa memesan aneka makanan berat. Seperti Nasi Goreng Hongkong, Selat Solo hingga camilan modern seperti Croffle dan Dimsum.

Varian minumannya pun kini lebih beragam, mulai dari kopi berbasis espresso hingga milkshake. Bagi Anda yang ingin berkunjung, kedai ini berlokasi di Jalan Teuku Umar No. 19, Keprabon, Banjarsari, Solo, dengan ciri khas tenda berwarna merah putih yang mencolok.

Baca Juga: Jelajahi Surga Kopi di Solo: Dari Kedai Legendaris 1947 hingga Roastery Modern yang Kekinian

Jika dahulu hanya buka di malam hari, kini kedai mulai beroperasi sejak pukul 10.00 WIB hingga 23.00 WIB setiap hari. Kisaran harganya sangat terjangkau.

Dengan cita rasa yang tetap autentik, Wedang Dongo Keprabon terus membuktikan bahwa kuliner tradisional mampu bersaing dan tetap relevan di tengah arus modernisasi. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |