harapanrakyat.com,- Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai sejarah selalu memperlihatkan pola yang sama terhadap para penguasa yang terlena oleh kekuasaan. Pemimpin yang menutup diri dari kritik dan menggunakan jabatan secara berlebihan, menurutnya, pada akhirnya akan menghadapi keruntuhan.
Dalam tulisannya bertajuk Hukum Alam Kejatuhan Pemimpin, Toto mengatakan banyak penguasa besar dunia justru jatuh akibat sikap dan keputusan mereka sendiri. Mereka jatuh bukan semata karena tekanan lawan politik.
“Sering kali seorang pemimpin runtuh bukan karena musuhnya terlalu kuat. Tetapi karena ia gagal mengendalikan dirinya saat berada di puncak kekuasaan,” tulis Toto, Kamis (21/5/2026).
Ia menyebut kekuasaan yang terlalu lama dan terlalu besar dapat mengubah cara berpikir seorang pemimpin. Ketika kritik dianggap ancaman dan pujian menjadi kebutuhan, maka kekuasaan mulai kehilangan arah.
Baca Juga: Survei LSI Denny JA: Mayoritas Publik Tegas Tolak Pilkada Dipilih DPRD
Menurut Toto, kondisi tersebut sejalan dengan fenomena hubris syndrome, yakni perubahan perilaku akibat kekuasaan yang membuat seseorang merasa paling benar dan sulit menerima koreksi.
“Pada titik tertentu, pemimpin mulai percaya bahwa semua keputusan dirinya pasti benar. Dari situlah jarak dengan kenyataan perlahan terbentuk,” ujarnya.
Dalam tulisannya, Toto mengulas sejumlah tokoh dunia yang mengalami akhir tragis setelah menjalankan kekuasaan secara represif dan tertutup. Salah satunya Kaisar Romawi Nero yang mengakhiri hidupnya sendiri setelah kehilangan dukungan politik.
Baca Juga: LSI Denny JA: Malam Takbiran Harus Jadi Momentum Kepala Daerah Bantu Warga Miskin
Toto Izul Fatah: Belajar dari Marcos, Pemimpin Anti Kritik yang Akhirnya Runtuh
Ia juga menyinggung Raja Prancis Louis XVI yang gagal membaca krisis sosial di negaranya hingga monarki runtuh dalam Revolusi Prancis.
Selain itu, Toto menyoroti sejumlah pemimpin modern seperti Ferdinand Marcos di Filipina, Nicolae Ceaușescu di Rumania, dan Muammar al-Qaddafi di Libya yang menurutnya mengalami nasib serupa akibat kekuasaan yang terlalu terpusat dan menolak kritik.
Dari berbagai peristiwa tersebut, Toto melihat ada pola berulang yang hampir selalu muncul, mulai dari kesombongan politik, lemahnya kontrol kekuasaan, hingga hilangnya kepercayaan rakyat secara perlahan.
“Ketika kekuasaan dipakai untuk melindungi ego dan bukan melayani rakyat, maka sesungguhnya proses kejatuhan sedang berjalan,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa sejarah pada akhirnya akan mencatat bagaimana seorang pemimpin menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.
Baca Juga: Aklamasi Daniel Mutaqien, Jalan Tengah Golkar Jabar Menuju Konsolidasi Besar
“Pada akhirnya, setiap pemimpin akan menentukan sendiri bagaimana dirinya dikenang, apakah meninggalkan warisan yang baik atau justru catatan kelam dalam sejarah,” pungkasnya. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

17 hours ago
16

















































