harapanrakyat.com,- Dampak musim kemarau membuat debit air Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menyusut. Kondisi tersebut dimanfaatkan sebagian warga, untuk mengolah lahan yang sebelumnya terendam air.
Warga di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja, memanfaatkan tanah yang muncul ke permukaan untuk menanam berbagai tanaman seperti timun dan padi, agar bisa dipanen sebelum elevasi air kembali naik.
Pantauan harapanrakyat.com pada Minggu (23/8/2026), terlihat aspal jalan dan sisa-sisa bangunan rumah warga yang terdampak pembangunan Waduk Jatigede tampak muncul ke permukaan.
Baca Juga: Contra Flow Tol Cisumdawu KM 176-178 Diterapkan hingga 8 September, Ini Pengaturannya
Di sejumlah titik, kondisi tanah terlihat kering dan mengalami retakan. Selain itu, ditemukan pula ikan yang mati akibat menyusutnya genangan air.
Warga Manfaatkan Waduk Jatigede Sumedang yang Kering
Salah satu warga yang memanfaatkan surutnya Waduh Jatigede adalah Acim (69). Ia memanfaatkan lahan yang muncul akibat surutnya waduk untuk bercocok tanam. Warga yang dulunya terdampak proyek waduk Jatigede hingga harus di relokasi ini pun menanam mentimun dan padi sembari tetap menjalankan usaha dagang.
Hasil panen nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menambah penghasilan.
“Lumayan untuk menambah modal dagang. Dari pada nganggur, tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan eceran,” kata Acim.
Ia menyebut permukaan air Waduk Jatigede telah mengalami penyusutan sejak sekitar tiga bulan terakhir. Bahkan, penurunan air kali ini membuat area daratan yang sebelumnya terendam kembali terbuka cukup luas.
“Ini surutnya udah ada sejak tiga bulan lah. Iya surutnya jauh,” ujarnya.
Acim mengatakan belum semua warga tertarik menggarap lahan tersebut. Sebagian memilih melihat hasil yang diperoleh warga lain sebelum ikut menanam.
“Kalau sudah ada yang berhasil, biasanya baru ikut menanam. Kalau belum melihat hasilnya, ada saja yang malas untuk mulai,” katanya.
Bagi Acim, surutnya Waduk Jatigede tidak hanya membawa dampak, tetapi juga membuka peluang bagi warga yang mau memanfaatkannya. Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi sumber penghasilan tambahan selama dilakukan dengan usaha.
“Kalau hanya mengandalkan dagang, ya begitu saja. Tapi kalau punya padi atau mentimun sendiri, setidaknya tidak perlu membeli untuk kebutuhan,” tuturnya.
Baca Juga: Di Tengah Lonjakan Harga Pasar, Warga Sumedang Berburu Bahan Pokok Murah
Mencari Tutut dan Keong
Selain dimanfaatkan untuk bercocok tanam, area waduk juga dimanfaatkan warga untuk mencari tutut atau keong sawah. Amun Lasimun (51), salah seorang warga bersama sodaranya sengaja datang ke kawasan tersebut untuk mencari tutut.
“Ini lagi nyari tutut buat ke Sumedang Kota dibawa ke masyarakat dibagi-bagi dan dimasak sendiri nggak dijual,” kata Amun.
Ia mengaku tidak melakukan aktivitas tersebut setiap hari. Mencari tutut biasanya dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan sekaligus menjadi kegiatan rekreasi bersama keluarga. Dalam pencarian kali ini, ia mengaku telah mendapatkan sekitar 10 kilogram tutut.
“Saya nggak tiap hari hanya satu minggu sekali, Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut. Barusan alhamdulilah sudah dapat 10 kg,” pungkasnya.
Baca Juga: Parade Perahu Pasirtugaran di Sumedang, Dorong Pesisir Jatigede Jadi Destinasi Wisata
Berdasarkan informasi, elevasi atau tinggi permukaan normal Waduk Jatigede sendiri berada pada ketinggian 260 MDPL. Namun perhari ini Minggu 23 Agustus 2026, elevasi ketinggian Waduk jatigede berada di angka 245,70 MDPL. Kondisi surutnya Waduk Jatigede ini di prediksi akan terjadi hingga musim hujan tiba. (Aang/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

11 hours ago
13

















































