harapanrakyat.com,- Pertandingan sepak bola Piala Soeratin U-15 yang mempertemukan Banjar Patroman FC dengan Tasik Raya FA di Sarana Olah Raga (SOR) Jayaraga, Garut, Jawa Barat, berakhir ricuh pada Sabtu (22/8/2026).
Tensi panas mulai terjadi saat laga memasuki babak kedua. Pengadil lapangan alias wasit menjadi bulan-bulanan para pemain dan official karena dianggap tidak adil dalam memimpin jalannya pertandingan. Laga Piala Soeratin ini pun berakhir menjadi ajang tinju bebas di tengah lapangan.
Laga Tasik Raya FA vs Banjar Patroman di Garut Berlangsung Sengit
Pihak panitia zona Priangan Piala Soeratin, membenarkan bahwa tensi emosi para pemain muda ini memang sangat tinggi saat laga babak kedua berjalan.
Baca Juga: Kompetisi Sepak Bola Piala Soeratin, Ketua Askab Ciamis: Para Juara akan Lanjut Berjuang ke Provinsi
Kedua tim bermain ngotot karena laga ini merupakan partai hidup-mati untuk menentukan siapa yang berhak lolos ke babak berikutnya.
Ketua pelaksana Piala Soeratin U-13 dan U-15 zona Priangan Timur, Firman Fauzi mengatakan, babak penentuan tim yang akan lolos ke babak 8 besar Piala Soeratin ini merupakan mach ke 2 antara Tasik Raya FA versus Banjar Patroman FC.
“Siapapun yang menang hari ini maka tim yang akan lolos, sehingga tensi pertandingan cukup tinggi,” jelasnya, Sabtu (22/8/2026).
Kronologi Kericuhan di Lapangan
Pada babak pertama, Tasik Raya FA sebenarnya sempat unggul lebih dulu dengan skor 1-0. Namun, petaka terjadi menjelang menit akhir pertandingan, tepatnya menit ke-70. Striker Banjar Patroman dijatuhkan oleh penjaga gawang Tasik Raya di area terlarang, sehingga wasit memutuskan memberikan penalti.
Eksekusi titik putih tersebut berhasil dikonversi menjadi gol oleh pemain Banjar Patroman, mengubah skor menjadi imbang 1-1.
Firman Fauzi menjelaskan, keputusan wasit menunjuk titik putih sudah didasarkan pada pelanggaran nyata yang dilakukan oleh sang kiper.
“Pertandingan babak pertama cukup lancar, Tasik unggul 1-0. Menjelang menit akhir di menit 70 terjadi benturan antara striker dengan kiper. Menurut pandangan wasit dianggap kiper dari Tasik melanggar pemain Banjar, akhirnya wasit memberi penalti,” jelasnya.
Hasil imbang 1-1 ini membuat Tasik Raya FA gugur dan meloloskan Banjar Patroman. Setelah peluit panjang ditiup oleh wasit utama, sebagian suporter dari Tasik Raya yang tidak puas mulai memanjat pagar pembatas stadion.
Baca Juga: Turnamen Sepak Bola di Tasikmalaya Diwarnai Keributan Penonton
Panitia pelaksana telah berupaya menahan penonton. Namun situasi semakin tidak terkendali saat pemain Tasik Raya mulai melakukan tindakan fisik ke arah wasit.
“Posisinya ketika skor 1-1 itu gugur, maka yang lolos Banjar Patroman. Setelah pluit akhir kami menjaga penonton yang akan masuk, panitia melerai. Pemain dari Tasik Raya menyerang ke wasit, kebetulan wasitnya dari Garut,” papar Firman.
Official Tim Ikut Pukul Wasit dan Rusak Fasilitas Stadion Jayaraga
Situasi di SOR Jayaraga kian mencekam setelah aksi anarkis tidak hanya dilakukan oleh para pemain yang masih berusia muda, melainkan juga oleh official tim Tasik Raya FA. Mereka merusak berbagai fasilitas yang ada di stadion.
Kericuhan yang awalnya terjadi di dalam lapangan hijau merembet hingga ke area podium stadion akibat rasa tidak puas dari pihak tim yang kalah.
“Seluruh pemain menyerang wasit, bahkan official juga ikut. Ketika wasit terus diserang mendekati podium terjadi lumayan agak chaos. Terjadi chaos itu ketika Tasik Raya merusak fasilitas dari SOR Jayaraga, menendang gate, segala macam. Nah panitia merespon, tolong jangan merusak fasilitas, sehingga panitia malah kena pukul oleh Tasik Raya,” terangnya.
Insiden Kekerasan Coreng Sepak Bola Indonesia
Aksi kekerasan fisik terhadap perangkat pertandingan dan perusakan fasilitas umum tentu tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Apalagi, insiden memalukan ini terjadi di turnamen resmi usia muda U-13 dan U-15 yang seharusnya menjadi wadah pembinaan sportivitas.
Firman Fauzi sangat menyayangkan kejadian tersebut, dan menegaskan bahwa ketidakpuasan terhadap keputusan wasit seharusnya disampaikan melalui jalur resmi yang berlaku.
“Yang jelas insiden pemukulan tidak dibenarkan. Jika ketidakpuasan pengadil pertandingan kan bisa dilakukan secara prosedural,” tegasnya. (Pikpik/R3/HR-Online/Editor: Eva)

3 hours ago
3

















































