Nyiram Gong Sekati, Tradisi Cirebon untuk Sambut Maulid Nabi

13 hours ago 10

Nyiram gong Sekati merupakan tradisi turun-temurun yang cukup terkenal di Cirebon. Acara nyiram gong berisi rangkaian adat untuk mencuci seperangkat alat musik tradisional yang terkenal sebagai Gamelan Sekati. Ritualnya menjadi bagian dari persiapan masyarakat Keraton Kanoman dalam menyambut sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Grebeg Syawal di Cirebon, Ratusan Warga Berebut Koin Jimat Keramat

Keberadaan tradisi ini tidak sekedar berkaitan dengan perawatan alat musik pusaka. Nyiram gong ternyata juga menjadi pengingat terhadap sejarah penyebaran Islam di wilayah Cirebon melalui budaya. Gamelan Sekati dahulu digunakan sebagai salah satu sarana untuk menarik perhatian masyarakat agar mengenal dan mempelajari ajaran Islam.

Mengenal Nyiram Gong Sekati dan Waktu Pelaksanaannya

Nyiram gong berlangsung rutin di lingkungan Keraton Kanoman Cirebon. Dalam sejumlah pelaksanaan, ritual ini digelar pada bulan Rabiul Awal atau bulan Mulud dalam penanggalan masyarakat setempat. Materi Keraton Kanoman menyebut pelaksanaannya pada 9 Maulud atau Rabiul Awal.

Namun, sejumlah laporan mengenai pelaksanaan pada tahun berbeda mencatat tanggal 7 Mulud dalam kalender Keraton Kanoman. Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan bahwa penentuan waktu dapat mengikuti kalender dan tata cara internal keraton. Sehingga kerap muncul penyesuaian khusus.

Alat musik yang menjadi bagian utama ritual bukan hanya sebuah gong. Gamelan Sekati terdiri atas sejumlah perangkat musik tradisional, seperti gong dan instrumen gamelan lainnya. Sebut saja saron, bonang, demung serta peking. Gamelan tersebut memiliki sejarah panjang dalam kehidupan Keraton Kanoman.

Baca Juga: Batik Trusmi Cirebon, Jejak Warisan Kesultanan dan Dakwah Wali Songo

Dahulu, bunyi gamelan menjadi media untuk mengumpulkan masyarakat. Melalui kesenian, masyarakat mampu mengenal ajaran Islam dan bersyahadat. Karena memiliki hubungan dengan perjalanan dakwah Islam, keberadaan Gamelan Sekati tidak hanya dipandang sebagai benda seni. Perangkat tersebut juga menjadi bagian dari warisan sejarah Islam Cirebon.

Tata Cara Pelaksanaan Nyiram Gong

Pelaksanaan nyiram gong Sekati diawali dengan mengeluarkan perangkat gamelan dari tempat penyimpanannya di lingkungan keraton. Dalam beberapa pelaksanaan, rombongan keluarga keraton dan abdi dalem membawa gamelan menuju Langgar Alit untuk menjalani proses penyucian.

Sebelum mencuci, biasanya terdapat pembacaan doa dan selawat. Prosesi tersebut kemudian berlanjut dengan membasuh perangkat gamelan menggunakan air suci. Dalam salah satu pelaksanaan, air tersebut sudah tercampur dengan bunga sebagai bagian dari ritual. Pencucian harus penuh kehati-hatian.

Pentas Gamelan hingga ke Puncak Acara

Setelah proses pencucian selesai, perangkat Gamelan Sekati tidak langsung masuk ke ruang penyimpanan lagi. Melainkan abdi dalem persiapkan untuk tim mainkan dalam rangkaian Maulid Nabi di Keraton Kanoman. Acara berlangsung hingga ke puncak rangkaian Maulid di Keraton Kanoman yang populer dengan tradisi Panjang Jimat.

Para penabuh gamelan atau nayaga yang memainkan perangkat tersebut juga bukan sembarang orang. Tugas memainkan gamelan pusaka diwariskan melalui lingkungan keraton dan membutuhkan keterampilan khusus. Kehadiran pentas seni ini sekaligus menghubungkan tradisi masa lalu dengan kehidupan masyarakat Cirebon sekarang.

Berkah bagi Masyarakat

Salah satu hal yang membuat nyiram gong Sekati menarik perhatian masyarakat adalah air bekas pencuciannya. Sebagian warga percaya air tersebut memiliki nilai keberkahan. Hal itu karena berasal dari proses pencucian benda pusaka yang berkaitan dengan tradisi Maulid Nabi. Setelah ritual selesai, warga biasanya menunggu atau mengambil air bekas cucian.

Ada yang menggunakannya untuk membasuh wajah maupun tubuh. Antusiasme masyarakat terhadap air tersebut bahkan telah muncul dalam berbagai pelaksanaan nyiram gong. Meski demikian, makna utama tradisi ini tidak berhenti pada air bekas pencucian. Bagi masyarakat, keberadaan nyiram gong menjadi kesempatan untuk menyaksikan langsung peninggalan budaya khas.

Tradisi tersebut sekaligus menghadirkan ruang pertemuan antara masyarakat, keraton, budaya dan nilai keagamaan. Warga dapat melihat bagaimana peninggalan leluhur tetap terawat dan hadir dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi. Melalui nyiram gong, masyarakat tidak hanya menyaksikan ritual tahunan. Mereka juga dapat mengenal kembali sejarah dan nilai budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Filosofi Mendalam di Balik Tradisi Nyaneut Khas Sunda

Secara filosofis, proses membersihkan Gamelan Sekati dalam tradisi nyiram gong juga kerap bermakna sebagai simbol penyucian diri. Ini selaras dengan momentum Maulid yang mengajak umat mengingat kembali keteladanan Nabi Muhammad SAW. Bagi generasi muda, turut melestarikan tradisi nyiram gong Sekati menjadi langkah bijak dalam menjaga kekayaan budaya lokal. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |