Menelusuri Jejak Sejarah dan Era Baru Monumen Pers Nasional di Solo

12 hours ago 11

Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, menyimpan sebuah permata sejarah jurnalistik yang tak ternilai harganya, yaitu Monumen Pers Nasional. Kompleks yang berlokasi di Jalan Gajahmada ini bukan sekadar bangunan kuno, melainkan saksi bisu tempat berkumpulnya para pionir media massa. Serta wadah bersatunya pemikiran para kuli tinta di tanah air.

Bangunan cagar budaya tersebut memiliki catatan panjang sejak masa kolonial hingga era digitalisasi modern saat ini.

Sejarah Panjang dan Makna Historis Monumen Pers Nasional

Baca Juga: Museum Angkringan: Menelusuri Jejak Sejarah Kuliner Merakyat dari Klaten

Gedung rancangan arsitek Mas Aboekassan Atmodirono ini awalnya berdiri pada tahun 1918 atas perintah Pangeran Mangkunegara VII. Gedung ini bernama Societeit Sasana Soeka.

Sebelum bertransformasi menjadi museum, tempat tersebut merupakan balai pertemuan penting bagi kerabat kerajaan dan masyarakat. Di sinilah pada tahun 1933, stasiun radio pertama milik pribumi, Solosche Radio Vereeniging, dirintis oleh para insinyur lokal.

Momentum emas terjadi pada 9 Februari 1946 saat organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) resmi dilahirkan di lokasi ini. Berkat nilai sejarahnya yang begitu mendalam bagi perjuangan bangsa, Presiden Soeharto meresmikan tempat ini sebagai museum pada 9 Februari 1978.

Kini, Monumen Pers Nasional terus bersolek mengikuti zaman dengan menghadirkan wajah baru yang serba digital demi memikat generasi muda. Pengelola telah mendigitalisasi lebih dari 228 majalah kuno dari periode tahun 1910 hingga 2000. Kini semuanya dapat pengunjung nikmati lewat layar sentuh.

Di samping perpustakaan gratis berkapasitas ribuan buku, pengunjung juga dapat menjelajahi museum untuk melihat koleksi unik. Seperti pemancar “Radio Kambing” kuno, mesin ketik Underwood milik perintis pers Bakrie Soeraatmadja. Hingga memorabilia tokoh pers legendaris seperti Tirto Adhi Soerjo.

Baca Juga: Eksplorasi Wisata Sejarah Indonesia: Perpaduan Situs Arkeologi dan Museum Interaktif yang Memukau

Pusat Kreativitas dan Kegiatan Publik Modern

Tidak hanya melestarikan arsip cetak, cagar budaya yang kini berada di bawah naungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ini juga aktif menyelenggarakan berbagai agenda literasi dan seni. Seperti festival tahunan “Monpers Festbruari”.

Festival tersebut dirancang sebagai ruang kreatif bersama untuk pameran iklan kuno, seminar hybrid, lomba mewarnai, hingga bedah buku koleksi.

Menariknya lagi, area pelataran gedung bersejarah ini baru saja dijadikan sebagai lokasi resmi nonton bareng laga final Piala Dunia 2026 oleh Komdigi.

Baca Juga: Eksplorasi Malam di Gedung Djoeang 45 Solo, Kepingan Eropa Romantis di Tengah Kota

Kegiatan nobar tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan gratis bagi warga Solo. Tapi juga sukses menggerakkan roda perekonomian para pedagang kaki lima dan pelaku UMKM di sekitar kawasan museum.

Bagi Anda yang ingin berkunjung dan menikmati semua layanan edukatif ini, pintu gerbang Monumen Pers Nasional terbuka lebar setiap hari secara gratis. Dengan perpaduan apik antara edukasi masa lalu dan teknologi masa depan, destinasi bersejarah di Solo ini sangat layak masuk dalam daftar utama kunjungan wisata edukatif Anda berikutnya. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |