Dolar Meroket, Pengusaha Nata de Coco di Ciamis Putar Otak Selamatkan Ratusan Karyawan

6 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Melonjaknya nilai tukar dolar terhadap rupiah kian berdampak serius terhadap sektor industri rumahan di Kabupaten Ciamis. Salah satunya dirasakan oleh pengusaha Nata de Coco di wilayah Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

​Kendati biaya operasional membengkak drastis akibat melemahnya rupiah, pemilik usaha Nata de Coco, Ir. H. Endus Zenal Mustofa, memilih untuk tetap bertahan. Langkah ini ia lakukan demi menjaga agar roda ekonomi ratusan karyawannya tetap berputar.

​Demi menyiasati situasi sulit tersebut agar perusahaan tidak gulung tikar dan tidak ada karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Endus menerapkan strategi baru dengan mengubah sistem pengupahan.

​”Kenaikan dolar ini benar-benar sangat terasa sekali. Apalagi produksi Nata de Coco ini kan bahan bakunya ada gula, cuka, lalu kemasan plastik dan karet yang semuanya mengikuti harga dolar,” ujar Endus kepada HarapanRakyat.com, Minggu (24/05/2026).

​Kondisi tersebut, lanjut Endus, memaksa dirinya harus memutar otak agar perusahaan terus berjalan dan para karyawan masih bisa tetap bekerja tanpa ada yang harus dirumahkan.

Baca Juga: Pengusaha Nata de Coco di Ciamis Ini Hotmix Jalan Desa 1,6 Km Pakai Uang Pribadi

​Siasat Pengusaha Nata de Coco di Ciamis Demi Antisipasi Kerugian

​Untuk mengantisipasi kerugian, Endus mengubah sistem upah karyawan yang semula harian menjadi sistem borongan. Langkah ini rupanya menjadi win-win solution bagi kedua belah pihak.

​”Kita cari cara terbaik agar perusahaan tidak rugi, begitupun dengan karyawan. Alhamdulillah, dengan cara borongan mereka juga bisa mengatur waktunya sendiri. Yang ingin dapat upah besar, tentunya mereka bekerja lebih giat,” jelasnya.

​Menariknya, strategi ini justru membawa dampak positif yang tak terduga. Penghasilan para karyawan kini malah mengalami kenaikan, berbanding lurus dengan produktivitas yang ikut menggenjot angka produksi perusahaan.

​”Untuk satu minggu, saat ini kami bisa menghasilkan Nata de Coco siap kirim sekitar 100 ton. Kami sadar, karyawan harus tetap dipertahankan. Mau tidak mau, saya ini hidup dari karyawan juga. Makanya dalam kondisi apapun, insya Allah saya akan tetap pertahankan agar warga bisa tetap bekerja dan menghasilkan uang,” ungkapnya.

Baca Juga: Pasar Banjarsari Ciamis Nyaris Terbakar Akibat Percikan Api Kabel SUTM

​Berawal dari Usaha Kecil-kecilan

​Keberhasilan Endus mempertahankan bisnisnya di tengah badai ekonomi bukanlah perkara instan. Ia mengisahkan bahwa dirinya merupakan anak seorang petani pembuat minyak kelapa.

​Berbekal latar belakang pendidikan sebagai sarjana teknik pertanian (Insinyur), Endus mulai merintis usaha Nata de Coco ini sejak tahun 1997 silam dari skala kecil-kecilan.

Berkat ketekunannya, usaha tersebut kini tumbuh raksasa hingga mampu menyerap ratusan tenaga kerja lokal.

Selain itu, Endus juga mendesain dan membuat sendiri peralatan serta mesin pengolahan Nata de Coco miliknya, termasuk sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Saat ini, ia bahkan tengah membangun IPAL skala besar yang diproyeksikan menjadi bahan percontohan nasional.

​Belum lama ini, inovator asal Ciamis ini juga sukses menciptakan mesin sortir kotoran mandiri yang menelan biaya pembuatan mencapai Rp 500 juta.

​Hotmix Jalan Senilai Setengah Miliar Lebih

​Kecerdasan Endus sebagai seorang insinyur kembali teruji saat dolar meroket. Di kala pengusaha lain memperketat pengeluaran, Endus justru mampu menyisihkan anggaran fantastis untuk membangun infrastruktur jalan di lingkungannya.

​Rahasianya ternyata terletak pada pengelolaan limbah produksi yang berhasil ia sulap menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi. hampir semua bahan sisa produksi tidak ada yang terbuang sia-sia.

​”Nah, kalau ingin tahu, anggaran yang digunakan untuk jalan hotmix ini semuanya dihasilkan dari limbah coco yang saya kelola. Alhamdulillah, hasilnya bisa bermanfaat untuk lingkungan masyarakat,” jelasnya senyum.

​Saat ditanya soal total anggaran yang digelontorkan untuk membangun jalan lingkungan tersebut, pria yang dikenal berwibawa ini sempat enggan menjawab.

Baca Juga: Siswa SDN 1 Ciherang Banjarsari Ciamis Meninggal Dunia, Benarkah Akibat Perkelahian?

​”Sebenarnya malu kalau diungkapkan, tapi tidak apa-apa. Ini habis sekitar Rp 570 jutaan. Alhamdulillah, semuanya murni dari hasil limbah yang dikelola dengan baik,” pungkasnya. (Suherman/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |