Fakta Menarik di Balik Sejarah Candi Puntadewa Dieng Banjarnegara

6 hours ago 6

harapanrakyat.com,- Mempelajari sejarah Candi Puntadewa memberikan wawasan luas tentang warisan nusantara. Bangunan suci ini menjadi salah satu objek arkeologi yang amat penting. Selanjutnya, peninggalan masa lampau tersebut menyimpan pesona arsitektur yang sangat menawan.

Monumen bersejarah ini terletak tepat di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Secara administratif, letaknya berada di bagian paling utara dalam area Kompleks Candi Arjuna. 

Baca juga: Misteri dan Pesona di Balik Sejarah Candi Srikandi di Dataran Dieng

Kemudian, banyak ahli meyakini bahwa bangunan ini merupakan peninggalan paling awal di kelompoknya. Proses pembangunannya sendiri diperkirakan terjadi pada masa penyatuan Wangsa Sanjaya dengan Wangsa Syailendra. Tepatnya, para pakar sejarah Indonesia memperkirakan pendiriannya terjadi sekitar tahun 812 hingga 838 Masehi.

Arsitektur dan Sejarah Candi Puntadewa Dieng

Sementara itu, wujud bangunan kuno ini memiliki karakteristik yang sangat ramping namun menjulang tinggi. Tubuh candi terlihat kokoh karena berdiri di atas sebuah batur bersusun setinggi dua koma lima meter. Kondisi batur yang pendek ini justru membuat strukturnya tampak semakin mendominasi secara vertikal. 

Pada bagian tangga masuknya, arsitek masa lalu melengkapinya dengan pipi candi bersusun dua. Pengunjung juga bisa secara langsung melihat bingkai bermotif kertas tempel pada bagian pintu utamanya. Bilik penampil pada area pintu menambah nilai estetika dari monumen peninggalan purbakala ini.

Fakta unik lainnya terlihat dari penggunaan material utama berupa bebatuan andesit yang cukup langka. Batuan khusus tersebut sengaja didatangkan dari kawasan Gunung Kendil oleh para pekerja masa lalu.

Jarak sumber batu tersebut berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi wisata percandian saat ini. Penggunaan batu andesit pilihan ini menunjukkan betapa istimewanya bangunan tersebut pada era Kerajaan Mataram Kuno. 

Oleh karena itu, monumen peribadatan ini tetap bisa berdiri kokoh menembus usia berabad-abad lamanya. Gaya arsitektur pada bangunan ini memadukan unsur Jawa Timur dan corak dari luar Jawa. Perpaduan harmonis ini sering disebut oleh para ahli sebagai Seni Bangunan Kesatuan.

Baca juga: Candi Kedaton Jambi, Situs Percandian Hindu-Buddha Terluas di Asia Tenggara

Memasuki area dalam ruang candi, ukurannya memang terasa cukup sempit bagi pengunjung dewasa. Di tengah ruangan tersebut, terdapat sebuah yoni sebagai simbol kesuburan dalam ajaran agama Hindu. 

Selain itu, tiga sisi dinding bagian dalamnya memiliki jendela kecil yang dihiasi ukiran kala. Ukiran kala tersebut dipadukan dengan motif sulur yang sangat indah sebagai bingkai pelengkapnya. Keberadaan yoni dengan jelas menegaskan fungsi bangunan sebagai tempat pemujaan utama kepada Dewa Siwa.

Proses Pemugaran Candi Puntadewa

Pada mulanya, kondisi atap bangunan bersejarah ini ditemukan dalam keadaan hancur dan sudah runtuh. Namun, upaya penyelamatan untuk mempertahankan struktur candi telah dimulai sejak zaman pemerintah Hindia Belanda. 

Selanjutnya, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dan petugas cagar budaya melanjutkan program perbaikan pada tahun 2016. Kegiatan restorasi yang cermat tersebut sukses mengembalikan wujud atap candi seperti bentuk aslinya. Kini, para pelancong dapat menikmati kembali keindahan proporsi arsitektur dari ujung kaki hingga puncaknya.

Baca juga: Candi Gedong dalam Buku History of Java, Terkubur di Bawah Pohon Beringin Blitar

Bagian atap monumen ini kini terlihat bersusun rapi menjulang ke atas menyerupai bentuk meru. Struktur suci ini terdiri atas tiga tingkatan yang secara perlahan mengecil ke bagian ujungnya. 

Puncak atap tersebut ditutup dengan bentuk ratna yang menyerupai sekuntum bunga teratai bertumpuk dua. Ornamen meru semacam ini memang sering menjadi ciri khas utama pada mahakarya arsitektur Hindu. 

Di samping itu, penamaan candi ini mengambil inspirasi dari tokoh pewayangan yaitu anak sulung Pandawa. Nama Yudisthira atau Puntadewa disematkan pada bangunan ini sejak awal abad kesembilan belas Masehi.

Banyak pakar arkeologi hingga saat ini masih terus meneliti rincian sejarah Candi Puntadewa secara lebih komprehensif. Pengungkapan berbagai temuan baru akan terus memperkaya literatur kebudayaan milik bangsa Indonesia. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |