harapanrakyat.com,- Keberadaan Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar bin Abdul Aziz memberikan bukti kuat mengenai sejarah masuknya Islam. Dokumen bersejarah ini dikirimkan oleh penguasa bumi Nusantara pada masa lalu. Para ahli sejarah Indonesia terus meneliti teks kuno tersebut untuk mengungkap fakta penting lainnya.
Hubungan diplomasi antara kerajaan di Nusantara dan Timur Tengah ternyata sudah terjalin sejak lama. Pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah, penguasa Sriwijaya telah membuka jalur komunikasi dengan para khalifah. Pemerintah kolonial maupun sejarawan modern sangat tertarik mempelajari interaksi antarnegara pada abad kedelapan Masehi ini.
Baca juga: Jejak Emas Kerajaan Sriwijaya di Sungai Musi, Harta Karun Peninggalan Sejarah yang Jadi Buruan
Oleh karena itu, penelitian mendalam dilakukan untuk melacak jejak persahabatan kedua negara besar tersebut. Banyak pedagang muslim Arab yang melakukan pelayaran jauh hingga singgah di pelabuhan pesisir Sumatera. Mereka datang untuk berniaga sekaligus membawa kabar tentang peradaban Islam yang sedang berkembang pesat. Akibatnya, maharaja Sriwijaya merasa tertarik untuk mengenal ajaran Islam tersebut secara lebih dekat.
Mengungkap Isi Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar
Penelitian S.Q. Fatimi berhasil mengungkap teks asli Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar yang sangat melegenda. Faktanya, surat tersebut berisi permintaan maharaja agar khalifah mengirimkan ulama untuk mengajarkan hukum Islam.
Surat bersejarah tersebut dikirimkan oleh seorang maharaja yang bernama Sri Indrawarman sekitar tahun 718 Masehi. Beliau memimpin kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara yang memiliki kekayaan alam sangat melimpah. Dalam suratnya, raja mendeskripsikan negerinya sebagai wilayah yang dialiri oleh dua sungai besar.
Selanjutnya, sungai tersebut mengairi taman gaharu, rempah-rempah, pala, dan juga pohon kapur barus. Wewangian dari hasil bumi Nusantara ini bahkan bisa tercium baunya hingga jarak belasan mil. Selain itu, raja juga menyebutkan bahwa istananya memiliki ribuan gajah sebagai kendaraan resmi kerajaan. Penggambaran ini bertujuan untuk menunjukkan kebesaran dan kewibawaan kerajaannya kepada penguasa Arab.
Baca juga: Sejarah Situs Kota Kapur, Jadi Bukti Kehadiran Kerajaan Sriwijaya
Sang raja juga mengirimkan berbagai hadiah berharga sebagai tanda persahabatan antarnegara. Hadiah tersebut meliputi minyak misik, kayu ambar, dan kapur barus bermutu tinggi dari Sumatera. Kemudian, khalifah membalas kebaikan tersebut dengan mengirimkan utusan khusus beserta hadiah balasan berupa budak hitam. Interaksi pertukaran hadiah ini membuktikan bahwa hubungan kedua pemimpin sangat harmonis dan saling menghormati.
Sejarawan menduga bahwa ketertarikan raja terhadap Islam bermula dari konsep ketuhanan monoteisme yang diajarkan. Konsep tersebut memiliki kesamaan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang telah dipraktikkan dalam ajaran Buddha. Akhirnya, pertukaran budaya dan agama mulai tumbuh subur di lingkungan keraton Sriwijaya pada masa itu.
Fakta Geografis
Deskripsi alam di dalam Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar sangat sesuai dengan kondisi geografis Pulau Sumatra. Akibatnya, para sejarawan semakin yakin bahwa pengirim surat tersebut benar-benar penguasa dari bumi Sriwijaya.
Penyebutan dua sungai besar di dalam teks korespondensi tersebut merujuk pada Sungai Musi dan Sungai Batanghari. Kedua sungai ini merupakan urat nadi utama yang menghubungkan berbagai pusat perdagangan di Sriwijaya. Sementara itu, komoditas kapur barus yang disebutkan raja memang merupakan produk endemik asli dari wilayah Tapanuli.
Rempah-rempah beraroma harum ini menjadi barang dagangan yang sangat disukai oleh para saudagar Timur Tengah. Mereka berani membeli produk hutan Nusantara tersebut dengan harga yang sangat mahal di pasar internasional. Oleh karena itu, kekayaan rempah ini membuat kerajaan Nusantara sangat terkenal di mata bangsa Arab.
Banyak pihak masih memperdebatkan apakah sang maharaja benar-benar memeluk agama Islam secara utuh. Beberapa ahli menafsirkan kalimat penutup surat yang menyatakan persaudaraan seagama sebagai bukti keislaman sang raja. Namun, belum ada bukti prasasti atau artefak fisik yang secara tegas membenarkan perpindahan keyakinan tersebut.
Baca juga: Deforestasi Kerajaan Sriwijaya, Penyebab Hutan Palembang Gundul Abad ke-7
Meskipun demikian, sikap terbuka raja menunjukkan tingginya tingkat toleransi beragama di pusat pemerintahan Sriwijaya. Rakyat pribumi dapat hidup berdampingan secara damai dengan para pedagang Arab yang bermukim di pesisir. Sejalan dengan hal itu, kemajuan ini menciptakan sebuah lingkungan masyarakat multikultural yang sangat harmonis.
Peradaban Islam telah menyentuh wilayah Nusantara jauh sebelum berdirinya kerajaan Islam lokal. Penemuan naskah Surat Raja Sriwijaya ke Khalifah Umar mematahkan teori bahwa Islam baru masuk belakangan. Generasi masa kini harus bangga karena leluhur bangsa kita sudah menjalin hubungan diplomatik tingkat dunia. Pastinya, kita wajib terus menggali warisan sejarah ini agar nilai-nilai toleransinya dapat diteladani bersama. (Muhafid/R6/HR-Online)

16 hours ago
14

















































