Sektor pariwisata Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terus berkembang dengan hadirnya berbagai destinasi kekinian yang viral di media social. Salah satunya adalah Taman Fathan Hambalang Bogor.
Terletak di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, objek wisata yang populer dengan julukan “Negeri di Atas Awan” ini menawarkan konsep kafe outdoor estetik di atas perbukitan setinggi 630 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang, wisatawan sudah bisa menikmati udara sejuk di Taman Fathan Hambalang Bogor. Serta pemandangan megah Gunung Pangrango, Gunung Gede, dan Gunung Salak.
Berbagai spot foto instagramable seperti balkon kayu dan teras utama menjadikannya lokasi favorit untuk menyaksikan matahari terbenam. Hingga gemerlapnya lampu kota yang romantis di malam hari.
Baca Juga: Pesona Wisata Alam dan Sinematik Jembatan Plunyon Kalikuning di Lereng Merapi
Untuk aksesibilitas, pengunjung yang membawa kendaraan pribadi perlu waspada terhadap kontur jalan menanjak, berliku. Serta sisa jalan berbatu sepanjang 200 meter terakhir sebelum masuk lokasi.
Tantangan Geologis dan Potensi Longsor di Taman Fathan Hambalang Bogor
Namun, di balik lanskap alamnya yang sangat menawan, kawasan ini menyimpan potensi bahaya geologis yang patut diwaspadai secara serius.
Secara geografis, area taman tersebut berada langsung di lereng perbukitan terjal. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengkategorikannya sebagai zona rawan gerakan tanah tingkat menengah hingga tinggi.
Jika terjadi curah hujan di atas rata-rata normal, wilayah lereng curam ini sangat rentan terhadap longsoran tipe rombakan cepat. Berdasarkan catatan BPBD Kabupaten Bogor, intensitas longsor di Desa Hambalang tergolong masif dengan belasan kejadian sepanjang tahun 2014 hingga 2021. Kejadian paling signifikan terjadi pada tahun 2020 dengan total sembilan titik longsoran.
Mengingat tingginya ancaman tersebut, keselamatan jiwa pengunjung Taman Fathan Hambalang Bogor harus diutamakan di atas kepentingan ekonomi. Penelitian kebencanaan menunjukkan bahwa pemangkasan lereng terjal demi mengejar nilai estetika visual berisiko tinggi memicu ketidakstabilan tanah.
Baca Juga: Menjaga Pesona Paru-Paru Dunia Melalui Pengembangan Ekowisata Berkelanjutan
Di Taman Fathan Hambalang, manajemen risiko bencana belum sepenuhnya berjalan optimal. Sejauh ini, pihak pengelola baru menerapkan mitigasi struktural berupa pembangunan tanggul penahan tanah di lereng kritis.
Sayangnya, instrumen mitigasi non-struktural seperti rambu penunjuk jalur evakuasi, titik kumpul (assembly point) yang aman, papan edukasi risiko bencana, serta alat deteksi dini gerakan tanah (Early Warning System) masih sangat minim tersedia.
Sistem Kesiapsiagaan Darurat
Selain aspek keselamatan, pengelola Taman Fathan Hambalang Bogor juga menerapkan aturan jam operasional khusus yang lebih singkat pada hari Kamis. Tujuannya untuk menghormati kegiatan keagamaan mingguan warga setempat.
Oleh karena itu, sinergi yang komprehensif antara pengelola swasta, pemerintah desa, dan BPBD Kabupaten Bogor sangat mendesak untuk segera diwujudkan. Upaya penyelamatan jiwa tidak boleh diabaikan demi mengejar keuntungan finansial semata.
Baca Juga: Wisata Danau Badeur Cisadon dengan Pesona Alamnya di Tengah Perbukitan Bogor
Pengelola perlu segera menyusun sistem kesiapsiagaan darurat, melakukan pelatihan kebencanaan bagi seluruh staf kafe, menyediakan peta evakuasi di pintu masuk. Serta memasang sistem peringatan dini.
Melalui langkah-langkah konkret ini bisa mewujudkan destinasi wisata yang tidak hanya indah secara visual. Tetapi juga menjadi kawasan wisata tangguh bencana di Taman Fathan Hambalang Bogor. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

11 hours ago
12

















































