Kisah Suparman, Pemulung Tasikmalaya yang Bekerja 19 Jam di Tengah Tumpukan Sampah

14 hours ago 9

harapanrakyat.com,- Setiap pukul lima pagi, saat sebagian warga Kota Tasikmalaya masih terlelap, Suparman (53) sudah memulai harinya. Suparman, seorang pemulung warga Pendeuy, Cilembang, Kecamatan Mangkubumi itu berangkat menuju TPS sampah di Jalan SL Tobing untuk mencari rezeki dari tumpukan barang buangan.

Suparman adalah salah satu warga yang menggantungkan hidup dari memulung sampah plastik dan kardus. Dari pekerjaan itulah ia menafkahi enam anaknya yang sebagian besar masih bersekolah.

Menjadi pemulung sampah di era sekarang bukanlah hal yang mudah. Persaingan ketat membuat Suparman harus berbagi lahan dan waktu. Ia bekerja dalam kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Sistemnya ketat: mereka harus bergiliran kerja setiap tiga hari sekali demi memastikan semua orang mendapatkan jatah mengais rezeki.

Baca Juga: Sampah Menumpuk di Kota Tasikmalaya, Petugas Sebut Kekurangan Truk Pengangkut

Ketika hari “piketnya” tiba, Suparman tidak tanggung-tanggung dalam mencurahkan keringat. Ia menembus batas fisik manusia normal, bekerja hampir 20 jam sehari, mulai dari jam 5 subuh hingga jarum jam menyentuh angka 12 malam.

“Kalau sedang beruntung, penghasilan tertinggi bisa mencapai 200 ribu rupiah sehari,” ujarnya, menyeka keringat yang bercampur debu jalanan, Jumat (29/5/2026).

Namun, angka itu adalah batas atas, sebuah pencapaian puncak setelah seharian penuh berjalan kaki memikul beban berat. Angka yang harus dicukup-cukupkan untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak-anaknya selama beberapa hari ke depan sebelum giliran kerjanya tiba kembali.

Buang Gengsi, Suparman Jadi Pemulung Sampah Sejak 2018

Semenjak memutuskan terjun ke jalanan pada tahun 2018, Suparman telah membuang jauh-jauh rasa gengsi. Target utamanya adalah botol plastik, kantong plastik, dan kardus bekas.

Baca Juga: Jurus Pemkot Tasikmalaya Tangani Sampah yang Menggunung

Bagi mata awam, botol plastik yang bercampur lumpur atau cairan hitam pekat adalah menjijikkan. Namun bagi Suparman, itu adalah rupiah yang sah. Walau sekotor apa pun kondisi botol tersebut, tetap ia masukkan ke dalam karung besarnya untuk kemudian disetorkan ke tukang rongsok atau pengepul.

Pekerjaan ekstrem dengan durasi panjang ini jelas mengancam kesehatannya. Suparman mengaku pernah tumbang dan jatuh sakit akibat kelelahan yang luar biasa. Otot-otot tubuhnya sering menjerit meminta istirahat. Namun, bayang-bayang wajah keenam anaknya di rumah selalu menjadi obat penawar instan.

Ancaman di Balik Tumpukan Sampah

Ancaman kesehatan tidak hanya datang dari kelelahan atau bakteri, melainkan dari bahaya fisik yang mengintai di setiap kantong sampah yang ia buka. Kendala terbesar dan paling menakutkan bagi seorang pemulung seperti Suparman adalah pecahan kaca.

Sering kali, masyarakat membuang sampah kaca—baik dari limbah rumah tangga maupun komponen alat elektronik yang hancur—tanpa pengaman.

“Pernah terluka, darahnya keluar karena kena benda tajam atau pecahan kaca di dalam tumpukan,” kenangnya.

Baca Juga: DLH Kota Tasikmalaya Didesak Cegah Tumpukan Sampah Plastik Kurban Iduladha 2026

Lantas, apakah ia pulang untuk berobat? Tidak. Suparman hanya membersihkan lukanya seadanya, membebatnya, dan langsung kembali meraba tumpukan sampah.

“Tak mungkin beristirahat lama, Mas. Kalau saya berhenti jalani hari ini, besok anak-anak tidak bisa makan dan sekolah,” tegasnya dengan suara serak namun penuh ketegaran.

Suparman adalah potret nyata dari pahlawan sunyi di sudut kota. Di tempat kerja yang penuh dengan ancaman penyakit dan cedera fisik, ia berdiri tegak. Di balik karung lusuh yang dipikulnya, ada mimpi-mimpi keenam anaknya yang sedang ia gendong menuju masa depan yang lebih baik.

Sejak 2018 hingga detik ini, dari subuh yang dingin hingga tengah malam yang sepi, Suparman terus berjalan. Baginya, sampah-sampah plastik itu bukanlah akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari harapan baru bagi keluarganya. (Rafi/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |