Mantan Pemandu Wisata Sebut Kunjungan Turis Asing ke Pangandaran Semakin Sedikit

19 hours ago 17

harapanrakyat.com,- Dulu kunjungan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, pernah mencapai masa kejayaanya pada dekade tahun 1980-an sampai 1990-an. Namun, kondisi saat ini sudah berbanding terbalik. Kunjungan turis asing ke Pantai Pangandaran makin menyusut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Hikmat (60), salah seorang mantan guide di Pantai Pangandaran pada tahun 1980-an hingga tahun 1990-an.

Ia menjadi saksi hidup saat Pantai Pangandaran penuh sesak oleh  para turis dari berbagai negara, untuk menghabiskan masa liburan mereka.

Baca Juga: Berani Parkir Sembarangan di Pantai Pangandaran, Siap-siap Kena Sanksi

Puncak Kunjungan Turis Asing ke Pangandaran

Hikmat mengatakan, biasanya para turis ini paling banyak berlibur ke Pangandaran pada saat bulan tertentu, yaitu antara Juni sampai dengan bulan Agustus.

“Kalau tidak salah antara bulan itu lah, kalau paling banyak. Dulu di bulan biasa juga suka ada turis asing ,” katanya, Rabu (19/8/2026).

Lanjutnya menuturkan, dulu di tahun 80-an rombongan turis asing yang datang ke Pangandaran biasanya dibedakan dari trayek bus yang ditumpangi mereka. Turis elit datang dari Jakarta dan Bogor. Sementara turis backpacker biasanya datang dari Bali, Yogyakarta, kemudian ke Pangandaran.

“Jadi kalau dari Jakarta atau Bogor itu biasanya bule yang sudah manula. Kalau dari bali atau Yogyakarta biasanya lebih muda,” tutur Hikmat.

Biasanya para turis asing akan berlibur di Pangandaran dalam waktu yang cukup panjang (long stay), antara 3 sampai 4 mingguan. Saat itu hotel dan penginapan akan membanting harga kepada turis yang libur panjang di Pangandaran.

“Tujuan objek wisata bagi para turis di tahun 80-an atau 90-an biasanya ke Pantai Pangandaran, Batu Karas dan Karangnini. Saya memandu ke tiga tempat wisata tersebut,” ungkapnya.

Suasana Pantai Batu Karas juga saat itu masih sangat alami dan asri dibandingkan kondisi sekarang. Tempat tersebut sudah menjadi lokasi favorit untuk bermain selancar atau surfing.

Baca Juga: Update Kasus Tiket Palsu Wisata Pangandaran, Dana Rp 800 Juta Kembali ke Kas Daerah

“Saya mematok harga Rp 8 ribu dari satu turis, ya lumayan lah kalau dalam satu rombongan ada 10 orang,” katanya.

Belajar Bahasa Inggris Otodidak

Waktu menjadi seorang guide atau pemandu, Hikmat belajar bahasa inggris secara otodidak. Jadi belajar vocabulary (kosakata) yang pentingnya saja.

Rata-rata guide saat itu belajar sendiri dengan cara berinteraksi langsung dengan turis asing. Tapi ada juga yang belajar dari bangku kuliah, jumlahnya tidak banyak. Pada era 80-an sampai 90-an, pemandu wisata tidak dijadikan pekerjaan utama.

“Kalau dulu, jadi guide itu untuk have fun (bersenang-senang) saja. Kalau dapat uang sehari bisa langsung habis,” ungkapnya.

Dulu turis asing yang datang ke Pangandaran paling banyak berasal dari Eropa, seperti Prancis, Inggris, Swiss, Belgia, Belanda dan negara lainya. Banyak juga yang berasal dari Australia.

Turis yang berlibur di Pantai Pangandaran biasanya kumpul di rumah makan Simpati dan Cilacap. Lalu mereka juga akan ikut nongkrong di sana untuk menawarkan jasa menjadi pemandu.

Baca Juga: Libur Panjang, Pantai Pangandaran Kembali Ramai Diserbu Wisatawan

“Guide seangkatan saya banyak yang menikah dengan turis. Ada yang tinggal disini, ada juga yang dibawa ke Eropa,” katanya.

Hikmat melihat, saat ini kunjungan turis asing ke Pangandaran semakin sedikit. Terutama ke Pantai Pangandaran. “Kalau sekarang, justru yang bulenya cukup banyak itu di Batukaras,” pungkasnya. (Ala/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |