Mengenal Dehidrasi Isotonik Hipotonik dan Hipertonik

11 hours ago 6

Dehidrasi isotonik hipotonik dan hipertonik terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Proses ini berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Sebagai informasi, cairan tubuh terbagi menjadi ruang ekstraseluler dan intraseluler. Masing-masing memiliki fungsi penting bagi metabolisme serta sistem fisiologis. Perlu diketahui bahwa ketidakseimbangan antara kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan perubahan tekanan osmotik yang berdampak pada fungsi sel maupun organ.

Baca Juga: Minuman yang Memicu Dehidrasi, Hindari Saat Sahur

Perbedaan Dehidrasi Isotonik Hipotonik dan Hipertonik

Secara umum, dehidrasi dibedakan menjadi tiga tipe berdasarkan proporsi kehilangan air dan natrium dalam tubuh. Berikut ialah pembahasannya.

Dehidrasi Isotonik

Dehidrasi isotonik ialah keadaan di mana kehilangan air dan elektrolit, khususnya natrium, yang berlangsung secara proporsional. Dalam kondisi ini, konsentrasi natrium biasanya tetap berada dalam kisaran normal. Maka tidak terjadi perubahan besar pada osmolalitas cairan tubuh. Dalam pembahasan dehidrasi isotonik hipotonik dan hipertonik, khususnya isotonik, volume cairan ekstraseluler pun berkurang, tetapi keseimbangan antara air maupun elektrolit relatif terjaga.

Penurunan volume cairan ekstraseluler akan mengurangi aliran darah ke jaringan tubuh. Akibatnya, perfusi organ tubuh termasuk ginjal pun menurun. Hal ini memicu mekanisme kompensasi seperti aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron dan sekresi hormon antidiuretik. Mekanisme tersebut berfungsi guna mempertahankan volume cairan dan tekanan darah.

Nah dehidrasi isotonik sering muncul akibat kehilangan cairan lewat muntah, diare, berkeringat berlebihan, atau perdarahan. Kondisi ini umum terjadi pada orang yang mengalami gangguan saluran cerna atau infeksi akut. Karena kehilangan air dan elektrolit seimbang, maka sel-sel tubuh tidak mengalami perubahan volume signifikan.

Baca Juga: Cara Mencukupi Cairan Selama Berpuasa, Agar Tidak Dehidrasi

Dehidrasi Hipotonik

Masih banyak orang yang belum tahu perbedaan dehidrasi isotonik hipotonik dan hipertonik. Pada hipotonik, ini terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak elektrolit daripada air. Kondisi tersebut menurunkan konsentrasi natrium serum di bawah batas normal. Alhasil, cairan dari ruang ekstraseluler cenderung berpindah ke ruang intraseluler. Perpindahan ini menyebabkan pembengkakan sel, termasuk sel otak jika tidak segera diatasi.

Ketika natrium yang hilang tidak digantikan dengan benar, maka tekanan osmotik di dalam sel bisa meningkat sehingga air tertarik masuk ke dalam sel. Gejala klinis dehidrasi hipotonik dapat meliputi mual, kejang otot, gangguan kesadaran, atau bahkan edema seluler. Kondisi ini harus ditangani dengan hati-hati agar keseimbangan natrium dalam tubuh kembali normal tanpa memicu komplikasi baru.

Dehidrasi Hipertonik

Memahami dehidrasi isotonik hipotonik dan hipertonik adalah suatu langkah penting. Dehidrasi terakhir yang akan dibahas ini merupakan kondisi yang terjadi ketika kehilangan air lebih besar daripada hilangnya elektrolit. 

Akibatnya, konsentrasi natrium dalam plasma meningkat di atas batas normal sehingga osmolaritas cairan ekstraseluler tinggi. Kadar natrium yang tinggi menarik air dari ruang intraseluler ke luar sel. Ini tentu menyebabkan sel menjadi menyusut.

Perubahan ini dapat berdampak pada fungsi saraf pusat. Ketika sel otak kehilangan air, maka volume jaringan otak dapat menurun. Tentu saja hal tersebut meningkatkan risiko terjadinya cedera atau perdarahan di dalam otak. Kondisi ini sering terlihat pada pasien dengan gangguan seperti diabetes insipidus atau ketika asupan air sangat rendah.

Manifestasi klinis dehidrasi hipertonik dapat mencakup rasa haus yang intens, mulut kering, iritabilitas, hingga gangguan fungsi kognitif. Maka, penanganannya harus mempertimbangkan penurunan bertahap kadar natrium. Tujuannya agar tidak terjadi perubahan cepat yang berbahaya bagi sel saraf.

Baca Juga: Minuman Pencegah Dehidrasi Selain Air Putih, Segar dan Alami!

Dehidrasi isotonik hipotonik dan hipertonik merupakan bentuk gangguan keseimbangan cairan yang memiliki dasar fisiologis berbeda. Perbedaan utama terletak pada rasio kehilangan air terhadap elektrolit. Pemahaman mengenai dehidrasi isotonik hipotonik dan hipertonik sangat penting dalam menentukan metode penatalaksanaan yang tepat. Dengan diagnosis akurat dan pendekatan terapi yang sesuai, risiko komplikasi akibat dehidrasi dapat seseorang minimalkan. Keseimbangan cairan tubuh pun dapat pulih kembali. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |