Mitos Telaga Sarangan dan Pesona Alamnya di Lereng Gunung Lawu

5 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu merupakan sebuah danau alami yang menyimpan pesona keindahan dan juga mitos tersendiri. Selain itu, masyarakat setempat sangat meyakini keberadaan cerita rakyat tentang asal-usul terbentuknya kawasan wisata andalan di Kabupaten Magetan ini. 

Baca juga: Membongkar Misteri dan Sejarah Kawah Candradimuka di Banjarnegara

Banyak pengunjung datang dari berbagai daerah. Mereka datang bukan hanya untuk berwisata, tetapi juga ingin menelusuri kebenaran di balik beragam mitos yang tetap melegenda secara turun-temurun.

Mengungkap Mitos Telaga Sarangan tentang Kisah Sepasang Naga 

Legenda ini bermula dari kisah hidup Ki Pasir dan Nyai Pasir yang berubah wujud menjadi sepasang naga raksasa setelah mereka menyantap sebutir telur berukuran besar. Geliat tubuh kedua naga tersebut di atas pasir menciptakan sebuah cekungan raksasa. Kemudian, cekungan itu terisi air sangat deras hingga membentuk danau luas.

Putranya yang bernama Joko Lelung akhirnya memutuskan untuk bersemedi. Ia memohon kepada Sang Pencipta agar amukan orang tuanya segera mereda demi keselamatan kelestarian alam semesta. Di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil. Kini, pulau tersebut dianggap sebagai tempat keramat dan dijaga dengan penuh hormat oleh penduduk di sekitarnya.

Pulau tersebut dipercaya menjadi tempat persemayaman abadi bagi para tokoh suci masa lalu seperti Syech Mundur, Nyai Ramping, dan Joko Lelono. Oleh sebab itu, suasana di sekitar pulau ini selalu terasa sunyi dan sakral. Hal ini terjadi karena memiliki energi spiritual yang diyakini sangat kuat oleh masyarakat lokal.

Baca juga: Menguak Sejarah dan Mitos Sanghyang Tikoro di Bandung Barat

Keberadaan sepasang naga penunggu telaga ini juga divisualisasikan secara apik melalui sebuah monumen ikonik berupa gunungan wayang yang diapit oleh dua ekor naga. Patung tersebut sengaja dibangun pemerintah daerah untuk mengenang sosok Ki Pasir dan Nyai Pasir yang menghilang secara misterius setelah menciptakan telaga tersebut.

Setiap menjelang bulan puasa, warga sekitar rutin menggelar upacara bersih desa sebagai bentuk penghormatan luhur kepada roh leluhur. Roh ini merupakan cikal bakal pemukiman mereka.

Pantangan Wisatawan dan Ritual Labuhan Sarangan

Wisatawan yang berkunjung ke danau cantik ini diwajibkan untuk mematuhi sejumlah larangan adat yang ketat demi menjaga keselamatan diri selama berada di kawasan wisata. Salah satu aturan yang paling terkenal bagi para pengunjung adalah larangan memakai baju berbahan sutra berwarna hijau. Aturan ini muncul karena dianggap dapat menyinggung perasaan penghuni gaib.

Peraturan tidak tertulis ini harus selalu dihormati oleh siapapun agar tidak memicu datangnya bencana alam mendadak seperti hujan deras dan angin puting beliung. Selain itu, terdapat sebuah larangan gaib berupa pantangan lisan, yakni larangan untuk mengucapkan kata “lurah”. Larangan ini muncul karena diyakini bisa mengganggu ketenangan energi spiritual di dalam telaga.

Pengunjung sangat disarankan untuk menggunakan sapaan alternatif lain seperti “pak desa”. Hal itu dilakukan apabila memang perlu berinteraksi dengan perangkat pemerintahan di wilayah Kelurahan Sarangan. Sementara itu, tindakan tidak sopan, meremehkan tempat, atau membawa pulang benda alam dari sekitar danau juga dipercaya akan mendatangkan gangguan mistis bagi pelakunya.

Puncak dari segala tradisi budaya di sini adalah upacara Labuhan Sarangan setiap tahun pada hari Jumat Pon di bulan Ruwah. Dalam ritual suci ini, sebuah tumpeng raksasa dan berbagai hasil bumi dilarung ke tengah telaga sebagai simbol rasa syukur mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca juga: Misteri dan Pesona di Balik Sejarah Candi Srikandi di Dataran Dieng

Kegiatan ini bukan hanya sekadar menjadi daya tarik bagi turis mancanegara, melainkan juga sarana pengikat solidaritas sosial bagi seluruh lapisan masyarakat Magetan. Berbagai kepercayaan mistik dan larangan gaib ini pada akhirnya membentuk identitas budaya yang sangat unik. Identitas ini juga melekat kuat bagi masyarakat di lereng Gunung Lawu.

Meskipun zaman sudah serba digital, kesakralan tradisi leluhur tetap dijaga dengan sangat baik oleh pemerintah dan penduduk lokal. Oleh karena itu, menghargai seluruh muatan mitos Telaga Sarangan merupakan langkah bijak bagi kita semua untuk melestarikan warisan budaya nusantara yang bernilai sangat tinggi. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |