Sejarah Kerajaan Indraprahasta Cirebon yang Hancur dan Nyaris Terlupakan

16 hours ago 14

harapanrakyat.com,- Sejarah awal mula kerajaan indraprahasta Cirebon selalu menarik untuk dipelajari lebih dalam oleh masyarakat nusantara masa kini. Keberadaan kekuasaan kuno ini menjadi tonggak terpenting dari sejarah Indonesia yang kaya akan kisah masa lampau. Oleh karena itu, kita sungguh wajib menggali fakta peninggalan tersebut dengan baik mulai dari sekarang.

Selanjutnya, letak utama pusat pemerintahan ini diperkirakan berada di daerah Cirebon Girang pada sekitar lereng Gunung Ciremai. Maharesi Sentanu secara langsung mendirikan wilayah kekuasaan baru ini pada sekitar tahun 398 Masehi dari wilayah India.

Baca juga: Sejarah Panjang Benteng Fort Rotterdam dari Masa Kerajaan Gowa-Tallo

Kedatangannya ke bumi nusantara tersebut sangat dipicu oleh peperangan akibat serangan brutal pasukan Samudra Gupta di tanah kelahirannya. Ia memilih bermukim secara tenang di wilayah Kecamatan Talun dan perlahan mulai membangun struktur pemerintahannya sendiri.

Kerajaan Indraprahasta Cirebon di Bawah Naungan Tarumanegara

Pada mulanya, mandala yang dipimpin oleh tokoh pelarian India ini berstatus sebagai bawahan resmi dari Kerajaan Salakanegara. Kondisi ini berlanjut setelah Maharesi Sentanu menikahi Permaisuri Indari yang merupakan seorang putri istana dari penguasa Salakanegara.

Sang mertua merupakan pemimpin ternama dengan gelar kehormatan Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bertakhta di sana. Akan tetapi, status bawahan mandala ini berubah total saat putranya bernama Jayasatyanagara mulai menduduki tampuk kekuasaan tertinggi.

Kemudian, mulai masa suksesi kepemimpinan Jayasatyanagara inilah wilayah tersebut berubah secara politis menjadi bagian dari taklukan kekuasaan Tarumanegara. Ikatan politik berjenjang ini sukses mengantarkan mereka mencapai titik perkembangan pesat di seluruh batas wilayah selatan Cirebon.

Baca juga: Menilik Sejarah Kerajaan Singasari dari Awal Berdiri hingga Puncak Kejayaan Nusantara

Bahkan, corak kerajaan Hindu-Buddha kuno ini mampu bertahan melintasi berbagai gejolak besar selama kurun waktu empat abad. Data kuno mencatat dengan jelas kehadiran empat belas orang penguasa yang pernah mengatur pemerintahan wilayah secara bergiliran. Para pemimpin tersebut sempat mengenyam indahnya masa keemasan panjang sebelum perlahan terbawa arus konflik berdarah secara tragis.

Serangan Pasukan Sanjaya

Sementara itu, malapetaka kehancuran pada akhirnya menghantam kedaulatan wilayah makmur ini karena kesalahan hitung dalam strategi perpolitikan. Menjelang periode akhir keruntuhannya, pemimpin ke-14 dengan nama resmi Prabu Wiratara bertekad kuat membantu gerakan pasukan Purbasora.

Barisan militer Purbasora pada waktu itu sedang menyusun kekuatan besar guna merebut kembali singgasana di wilayah Galuh. Campur tangan perang mematikan ini berujung bencana memilukan yang menyulut api kemarahan besar dari kubu penguasa lain.

Akibatnya, langkah pengiriman batalyon bala bantuan ini langsung memancing murka dahsyat dari Raja Sanjaya selaku pemimpin Mataram Kuno. Pemimpin perkasa dari Mataram tersebut segera mengutus kekuatan militernya untuk menggempur seluruh sekutu dekat Purbasora tanpa ampun.

Baca juga: Mengulas Seputar Sejarah Kerajaan Kendan di Jawa Barat

Tragedi pembalasan mematikan ini sontak mengakibatkan kedaulatan wilayah tersebut runtuh seketika sekaligus terbakar merata dengan debu tanah. Misi pembumihangusan dari Mataram itu berhasil mengubur catatan panjang perjalanan salah satu kebudayaan paling kuno di Nusantara. Sisa kebesaran istana mereka di kawasan asri pegunungan raib terbawa perputaran waktu tanpa menyisakan batuan utuh sama sekali.

Di sisi lain, minimnya temuan bangunan fisik membuat pakar sejarah terus berusaha keras mencari lokasi pasti keratonnya. Meskipun keraton besarnya musnah, sisa jejak kerajaan indraprahasta Cirebon masih terlacak melalui sumur kuno di kawasan Blok Krapyak, Desa Sarwadadi, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |