Sejarah Pesantren Tebuireng yang Didirikan KH. Hasyim Asyari

12 hours ago 10

Sejarah Pesantren Tebuireng bermula dari keinginan KH. Hasyim Asyari untuk berdakwah di Tebuireng, Desa Cukir. Keinginannya yang mendorong sejarah pesantren ini muncul karena melihat gaya hidup masyarakat jauh dari nilai agama. Karena itu KH. Hasyim Asyari pun mendirikan pesantren Tebuireng yang masih berjaya hingga kini.

Baca Juga: Sejarah Pesantren Lirboyo, dari Tempat Ibadah Kecil Menjadi Pondok Besar

Sejarah Pesantren Tebuireng, Salah Satu Pesantren Terbesar di Kabupaten Jombang

Tebuireng sendiri merupakan nama dusun di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pada penghujung abad 19, di wilayah ini mulai muncul pabrik gula yang didirikan oleh pemerintah Belanda. Kemunculan pabrik tersebut tentunya memberikan dampak positif yaitu membuka lapangan kerja untuk masyarakat setempat.

Meskipun menguntungkan karena membuka lapangan kerja, namun hal tersebut juga memberikan dampak negatif tersendiri. Dampaknya yaitu masyarakat justru memanfaatkan upah untuk hal negatif seperti berjudi dan membeli minuman keras. Lama-kelamaan pun gaya hidup masyarakat sekitar juga semakin jauh dari nilai-nilai agama.

Buruknya gaya hidup dan masyarakat yang jauh dari nilai agama membuat KH. Hasyim Asyari merasa prihatin. Ia kemudian membeli sebidang tanah di Tebuireng yang menjadi sejarah awal berdirinya Pesantren Tebuireng. Lalu pada 3 Agustus 1899, KH. Hasyim Asyari kemudian mendirikan bangunan kecil sebagai rumah sekaligus pondok.

Bangunan yang didirikan KH. Hasyim Asyari sangat sederhana karena terbuat dari anyaman bambu seluas 6 x 8 meter. Bangunan tersebut terbagi menjadi 2 bagian yang mana bagian belakang sebagai tempat tinggal KH. Hasyim bersama istrinya. Sedangkan bagian depan menjadi mushola sekaligus tempat belajar santri yang saat itu jumlahnya masih sedikit.

Saat itu, masyarakat setempat tidak langsung menerima kehadiran KH. Hasyim Asyari dan pesantren Tebuireng. Masyarakat pun terus memberikan gangguan, baik berupa ancaman hingga fitnah untuk KH. Hasyim Asyari maupun santrinya. Namun KH. Hasyim Asyari dan para santri tidak pernah menyerah dan terus berupaya untuk bertahan.

Berkembangnya Pesantren Tebuireng

Kisah sejarah Pesantren Tebuireng selanjutnya, masyarakat mulai mengakui keberadaan pondok dan KH. Hasyim Asyari. Santri yang berguru pun semakin bertambah banyak dari berbagai wilayah seperti Jawa hingga Madura. Dari 28 santri pada tahun 1899, pada tahun 1910 santri bertambah hingga 200 orang.

Baca Juga: Jejak Pesantren Pasambangan Jati, Pusat Pendidikan Islam Tertua di Cirebon

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah santri, Pondok Tebuireng juga berkembang semakin pesat. Sekitar 10 tahun kemudian pun jumlah santri terus bertambah bahkan tercatat terdapat sekitar 2.000 santri. Pondok yang awalnya hanya menggunakan metode pengajian juga mulai menerapkan sistem klasikal mengajarkan pengetahuan umum.

Penerapan Sistem Pembelajaran Klasikal

Sistem pembelajaran klasikal dimulai ketika KH. Wahid Hasyim mulai terlibat di Pesantren Tebuireng. Saat itu berdirilah Madrasah Nizamiyah yang mulai mengajarkan berbagai pelajaran umum seperti Matematika dan sebagainya. Kemudian pada tahun 1975, pondok ini mulai mendirikan sekolah umum yaitu SMP dan SMA Wahid Hasyim.

Sejarah Pesantren Tebuireng selanjutnya pada tahun 2008 berdiri Madrasah Muallimin Hasyim Asyari yang khusus mengajarkan kitab kuning dan sebagainya. Beberapa tahun kemudian berdirilah unit pendidikan berbasis sains Al-Quran yaitu SMA Trensains dan SMP Sains. Hal tersebut semakin memperkuat posisi Pesantren Tebuireng sebagai pusat pendidikan keagamaan sekaligus pendidikan umum.

Tempat Lahirnya Partai dan Organisasi Besar Islam

Pondok Tebuireng bukan hanya menjadi pusat keagamaan Islam saja, namun juga menjadi pusat kegiatan politik. Sebab dari sinilah lahir berbagai partai dan organisasi besar Islam yang bahkan masih eksis hingga sekarang. Misalnya yaitu Nahdlatul Ulama (NU), Masyumi, Majelis Islam A’la Indonesia, hingga laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah.

Sukses Mencetak Banyak Ulama

Pesantren Tebuireng telah sukses mencetak ribuan ulama dari para santri yang datang dan berguru. Bahkan tidak sedikit alumni yang kemudian mendirikan pesantren baru di berbagai wilayah lainnya. Contohnya yaitu Pesantren Lasem di Rembang, Pesantren Lirboyo di Kediri, Pesantren Darul Ulum di Peterongan, dan lainnya.

Baca Juga: Sejarah Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Ponpes Tertua di Kota Soto

Sejarah Pesantren Tebuireng dari awal pendirian hingga masa kejayaannya memang sangat panjang. Pondok ini pun harus bertahan karena menghadapi banyak tantangan dari masyarakat sekitar maupun kolonialisme. Pesantren ini pun menawarkan unit pendidikan lengkap mulai dari Madrasah Diniah, MTs, MA, SMP, SMA, hingga Universitas. Hingga kini pun ribuan santri masih terus berdatangan untuk belajar di Pesantren Tebuireng yang memiliki sejarah panjang ini. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |