harapanrakyat.com,- Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kekuatan politik tertua di Nusantara yang meninggalkan jejak peradaban melalui berbagai situs budaya. Salah satunya adalah prasasti Cidanghiang. Para peneliti telah melakukan banyak kajian mendalam. Dengan demikian, mereka berusaha mengungkap tabir sejarah dari peninggalan Raja Purnawarman melalui Prasasti Cidanghiang.
Baca juga: Sejarah Kerajaan Indraprahasta Cirebon yang Hancur dan Nyaris Terlupakan
Keberadaan tugu batu ini menjadi bukti autentik mengenai luasnya pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu tersebut hingga ke wilayah barat Pulau Jawa.
Penemuan dan Lokasi Situs Bersejarah Prasasti Cidanghiang
Keberadaan prasasti ini pertama kali dilaporkan oleh Toebagus Roesjan kepada pihak Dinas Purbakala pada tahun 1947 yang lalu. Walaupun sudah ditemukan sejak lama, penelitian secara ilmiah oleh para ahli epigrafi baru dilakukan tujuh tahun kemudian tepatnya pada 1954. Proses identifikasi awal ini sangat penting untuk menentukan keaslian serta keterkaitan benda tersebut dengan periode kepemimpinan Raja Purnawarman.
Situs bersejarah ini terletak secara insitu di tepi aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di wilayah Desa Lebak, Kabupaten Pandeglang. Sebagai sebuah benda arkeologi yang sangat berharga, batu andesit berukuran besar ini tetap dipertahankan pada posisi aslinya. Oleh karena itu, batu ini berada di tengah perkebunan warga.
Baca juga: Sejarah Panjang Benteng Fort Rotterdam dari Masa Kerajaan Gowa-Tallo
Akses menuju lokasi penemuan memang menantang karena pengunjung harus melewati jalan tanah dan jembatan bambu di antara kebun masyarakat setempat.
Batu prasasti ini memiliki dimensi fisik yang cukup besar dengan ukuran sekitar 3 x 2 x 2 meter serta dipahat dengan teknik yang sangat halus. Sayangnya, kondisi fisik batu tersebut saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda keausan akibat faktor usia. Selain itu, batu juga terpapar cuaca di alam terbuka. Bagian atas sebelah kanan batu bahkan diketahui telah pecah. Akibatnya, terdapat beberapa huruf kuno yang hilang dari baris tulisannya.
Makna Pesan dalam Ukiran Pallawa
Tulisan yang tertera pada permukaan batu terdiri dari dua baris kalimat yang disusun dalam bentuk puisi dengan metrum anustubh. Inskripsi ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta yang lazim digunakan pada masa kejayaan kerajaan Hindu di Indonesia. Melalui teknik pahat dengan kedalaman kurang dari 0,5 centimeter, penguasa zaman dahulu menyampaikan pesan simbolis mengenai otoritas kepemimpinan mereka.
Isi teks tersebut secara khusus memberikan sanjungan kepada Raja Purnawarman yang digambarkan sebagai penguasa dunia yang sangat gagah berani serta perkasa. Selain itu, prasasti ini berfungsi sebagai peringatan bagi siapapun agar tidak mencoba mengganggu kedaulatan wilayah perairan yang berada di bawah kendali Tarumanegara. Penerbitan maklumat ini berkaitan erat dengan keberhasilan sang raja dalam menumpas kawanan bajak laut. Bajak laut tersebut sering meresahkan para nelayan di Teluk Lada.
Baca juga: Sejarah Praja Mangkunegaran sebagai Bagian Penting Kerajaan Surakarta
Banyak ahli epigrafi mencatat adanya kemiripan yang sangat signifikan antara bentuk huruf di situs ini dengan tulisan pada Prasasti Tugu. Oleh karena itu, diperkirakan bahwa kedua benda bersejarah tersebut dibuat pada periode yang sama. Atau bahkan mungkin dipahat oleh juru tulis yang identik. Hal tersebut memperkuat asumsi bahwa wilayah Banten merupakan bagian integral dari Ranah Inti Tarumanegara. Kawasan ini dipimpin oleh raja yang memuja Dewa Wisnu.
Upaya pelestarian kini dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya dengan mendirikan bangunan cungkup terbuka untuk melindungi batu dari kerusakan lebih lanjut.
Mempelajari narasi panjang mengenai sejarah asli dari Prasasti Cidanghiang membantu generasi muda untuk menghargai kekayaan intelektual serta ketangguhan para leluhur Indonesia di masa silam. (Muhafid/R6/HR-Online)

12 hours ago
8

















































