harapanrakyat.com,- Pemerintah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), menyiapkan strategi menyeluruh untuk mengembalikan kejayaan beras lokal melalui penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir.
Berbagai program disusun mulai dari optimalisasi lahan irigasi, efisiensi penggunaan pupuk, hingga penguatan varietas unggulan lokal.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Tono Suhartono mengatakan, penguatan sektor pertanian menjadi fokus utama guna meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Menurutnya, optimalisasi sawah irigasi teknis menjadi langkah penting untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan hasil produksi padi di Sumedang.
“Pemerintah daerah akan memprioritaskan rehabilitasi jaringan irigasi primer, sekunder, hingga tersier. Termasuk memperbaiki bangunan irigasi dan tata kelola distribusi air,” kata Tono dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: Ribuan Hewan Kurban di Sumedang akan Diberi Kalung Sehat, Ini Tujuannya
Selain itu, pola tanam berbasis ketersediaan air juga akan diterapkan agar pemanfaatan lahan lebih efektif. Peran kelembagaan petani pengelola air seperti P3A dan GP3A pun diperkuat dalam operasi serta pemeliharaan jaringan irigasi di tingkat usaha tani. Di sektor efisiensi input pertanian, Dinas Pertanian akan melakukan pemetaan kondisi lahan sebagai dasar penerapan pemupukan berimbang spesifik lokasi.
“Kebijakan itu menekankan ketepatan jenis, dosis, waktu, dan cara penggunaan pupuk sesuai kondisi lahan dan target produksi,” ucapnya.
Menurut Tono, pemutakhiran data kebutuhan pupuk bersubsidi melalui RDKK dan e-RDKK juga terus dilakukan agar distribusi pupuk tepat sasaran. Di sisi lain, penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah didorong untuk meningkatkan kesuburan tanah jangka panjang. Upaya ini juga sekaligus untuk menekan biaya produksi.
“Pemerintah daerah juga mulai memperluas penerapan mekanisasi pertanian, dan budidaya hemat input guna meningkatkan efisiensi usaha tani,” ujarnya.
Perkuat Identitas Beras Sumedang
Tono menuturkan, dalam upaya memperkuat identitas “Beras Sumedang”, pemerintah daerah mengembangkan varietas unggulan lokal. Varietis yang adaptif, produktif, serta sesuai dengan selera pasar, terutama karakter beras pulen dan beraroma khas.
“Penguatan sistem perbenihan dilakukan melalui pengembangan benih bermutu dan pembinaan penangkar benih di tingkat daerah,” tuturnya.
Baca Juga: Dinkes Sumedang Tingkatkan Edukasi Pencegahan DBD Hadapi Ancaman El Nino
Tak hanya itu, peningkatan kualitas pasca panen dan pengemasan juga dipersiapkan untuk memperkuat citra Beras Sumedang. Terutama sebagai produk unggulan bernilai tambah tinggi. Sejumlah wilayah di Sumedang dinilai memiliki potensi panen 2-3 kali dalam setahun karena didukung sawah irigasi teknis dan pasokan air yang relatif stabil.
Wilayah yang dinilai memiliki potensi panen 2-3 kali per tahun berada di sejumlah kecamatan dengan sawah irigasi teknis dan pasokan air stabil. Kecamatan Sumedang Selatan tercatat memiliki lahan IP 3 seluas 3.896,22 hektare, sementara Cimalaka mencapai 2.319,66 hektare.
“Potensi besar juga terdapat di Tanjungmedar 3.280,50 hektare, Conggeang 3.771 hektare, serta Buahdua yang mencapai 4.917,39 hektare untuk kategori IP 3,” tambahnya.
Berdasarkan data produksi tahun 2025, Kecamatan Buahdua menjadi daerah dengan hasil produksi terbesar mencapai 43,19 ton. Selanjutnya disusul Kecamatan Conggeang sebesar 32,18 ton, Ujungjaya 30,250 ton, Tanjungkerta 24,68 ton, dan Sumedang Selatan sebesar 23,912 ton.
“Beras Sumedang sendiri dikenal memiliki tekstur pulen dengan aroma sedang, yang sesuai dengan preferensi pasar lokal. Selain berpotensi surplus untuk memenuhi kebutuhan daerah, komoditas ini juga dinilai mampu menembus pasar luar daerah hingga berkembang menjadi beras premium maupun beras sehat rendah pestisida,” ucapnya.
Distribusi Gabah dan Beras
Distribusi gabah dan beras Sumedang saat ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mengalir ke sejumlah daerah lain seperti Bandung Raya, Majalengka, Subang, hingga Cirebon melalui jalur perdagangan antar daerah.
Sementara itu, tingkat serapan pupuk tertinggi pada tahun 2025 tercatat di Kecamatan Jatinunggal, disusul Ujungjaya, Buahdua, Jatigede, dan Tanjungmedar. Tingginya serapan pupuk tersebut dinilai sejalan dengan luas tanam dan intensitas pertanian di wilayah tersebut.
Baca Juga: Razia Gabungan di Lapas Sumedang, Petugas Sita Benda Berpotensi Jadi Senjata Tajam
“Jatinunggal Urea 1.794.682 NPK 1.475.253, Ujungjaya Urea 1.525.648 NPK 1.374.331, Buahdua Urea 1.062.920 NPK 716.846, Jatigede Urea 983.148 NPK 685.967, dan Kecamatan Tanjungmedar Urea 694.124 NPK 805.378,” pungkasnya. (Aang/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

5 hours ago
7

















































