Tradisi Gebug Ende, Ritual Pemanggil Hujan di Desa Seraya Bali

6 hours ago 10

Tradisi Gebug Ende merupakan permainan rakyat sekaligus ritual dari Bali khususnya Desa Seraya Kabupaten Karangasem. Permainan ini merupakan tradisi menarik dengan sejarah panjang dari masa lalu yang bertujuan memanggil hujan. Berikut akan kita bahas lebih lanjut mengenai tradisi ini termasuk sejarah dan bagaimana permainannya.

Baca Juga: Tradisi Panjang Mulud dan Semangat Berbagi di Bulan Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Mengenal Tradisi Gebug Ende di Desa Seraya

Bali selain terkenal akan keindahannya juga terkenal akan kebudayaan dan tradisinya yang sangat beragam. Contoh tradisi populernya seperti Upacara Ngaben, Melukat, Melasti, Nyepi, Mepandes atau Potong Gigi dan lain sebagainya. Contoh lainnya yang akan kita bahas secara lebih dalam kali ini adalah Gebug Ende.

Gebug Ende atau yang memiliki nama lain Perang Rotan merupakan permainan unik di Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Masyarakat telah melaksanakan tradisi ini secara turun menurun dan masih berlanjut hingga kini. Pelaksanaannya sendiri yaitu pada saat Sasih Kapat menurut penanggalan Bali atau sekitar bulan Oktober-November.

Masyarakat Desa Seraya menyelenggarakan tradisi ini dengan tujuan untuk meminta turunnya hujan. Biasanya mereka menggelar acara ini sepulang dari ladang, pada siang atau sore hari menjelang musim tanam. Lokasi permainan harus di ladang terbuka dengan luas minimal 6 meter persegi.

Baca Juga: Filosofi Mendalam di Balik Tradisi Nyaneut Khas Sunda

Tradisi Gebug Ende merupakan pertandingan menggunakan pemukul rotan dan alat penangkis bulat dari anyaman kulit sapi. Pertandingan juga akan diiringi dengan alat musik tradisional seperti gamelan, suling, kempul, dan lainnya. Permainan ini pun menjadi tontonan yang menarik banyak perhatian masyarakat termasuk pengunjung dari berbagai wilayah.

Sejarah Gebug Ende

Tradisi unik ini bermula ketika terjadi pertempuran antara Kerajaan Karangasem dan Kerajaan Selaparang. Warga dari Desa Seraya, Desa Bubug, dan Desa Angantelu maju sebagai pasukan dari Kerajaan Karangasem. Mereka berhasil memenangkan pertempuran karena terjadi hujan lebat yang dianggap sebagai bantuan dari Hyang Widhi.

Setelah masa perang berakhir, pasukan dari ketiga desa pun kembali ke desa masing-masing. Saat itu, desa tersebut kemudian mengalami masalah kekeringan yang terus-terusan terjadi. Karena itu masyarakat pun mulai mengadakan upacara meminta hujan dan berlanjut dengan permainan peperangan.

Sejak saat itulah tradisi Gebug Ende ini tercipta dan masyarakat terus melestarikannya hingga kini. Gebug Ende pun bukan hanya menjadi permainan spiritual untuk meminta hujan dari Hyang Widhi. Akan tetapi juga menjadi budaya bernilai tinggi yang harus terus dilestarikan agar tidak hilang tergerus waktu.

Persiapan Permainan

Untuk memulai permainan ini perlu menyiapkan dua alat utama yaitu gebug dan ende. Gebug merupakan alat pemukul yang terbuat dari rotan dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2 meter. Sementara itu ende merupakan alat untuk menangkis serangan yang terbuat dari kulit sapi kering berbentuk lingkaran.

Permainan ini akan dilakukan oleh anak-anak laki-laki kemudian berganti giliran dengan pria dewasa. Kostum pesertanya sangat sederhana karena bertelanjang dada namun menggunakan beberapa aksesoris khas Bali. Peserta perlu menggunakan ikat kepala warna merah sebagai simbol keberanian, kain/kamben, dan saput hitam putih.

Tradisi Gebug Ende juga memiliki pengiring musik atau Tabuh Bebondangan yang akan meramaikan permainan. Selain itu ada pula dua orang wasit pertandingan atau juru kembar yang bertugas mengawasi pertandingan. Juru kembar tersebut juga bertugas menjelaskan cara bermain serta batasan yang harus pemain ikuti.

Cara Bermain dan Aturannya

Cara bermain Gebug Ende yaitu dengan memukul lawan dan bertahan dengan menangkis pukulan. Namun aturannya pemain hanya boleh memukul dari bagian kepala hingga di atas pinggang saja. Karena itu pemain tidak boleh memukul bagian bawah pinggang hingga kaki pemain lawan.

Permainan usai ketika salah satu dari kedua pemain sudah terdesak. Umumnya permainan ini pun tidak berlangsung terlalu lama yaitu hanya sekitar 10 menit per pertandingan. Dalam menentukan pemenangnya, tidak ada pernyataan resmi dari juru kembar dan hanya penonton yang bisa menilainya.

Baca Juga: Blok Kupat Bandung; Tradisi Turun-Temurun Menjelang Lebaran yang Tak Lekang oleh Zaman

Tradisi Gebug Ende menjadi permainan rakyat sekaligus warisan budaya yang sangat menarik. Bukan hanya sebagai pemanggil hujan, tradisi ini pun menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Bahkan permainan ini pun telah menarik perhatian banyak wisatawan dari berbagai wilayah. Karena itu masyarakat Desa Seraya harus terus menjaga dan melestarikan tradisi permainan Gebug Ende ini. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |