Film Seni Merayu Tuhan, Drama Religi Indonesia dengan Cerita Coming-of-Age 

11 hours ago 8

Film Seni Merayu Tuhan hadir pada Kamis, 13 Agustus 2026 kemarin sebagai drama religi dengan sentuhan comingofage. Cesa David Luckmansyah menangani kursi sutradara dalam debut film panjangnya setelah lama berkarya sebagai editor. Ceritanya mengajak penonton mengikuti Hikmah saat menghadapkan kehilangan, keluarga, cinta, dan hubungan spiritual.

Baca Juga: Film Perumahan Laddaland, Horor Psikologis yang Tayang 13 Agustus 2026

Sinopsis Film Seni Merayu Tuhan

Hikmah, tokoh utama yang Ari Irham perankan, menjalani hidup sebagai editor konten dengan rutinitas cukup sibuk. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman dan kekasihnya, Sophia, yang Lutesha perankan. Hubungan Hikmah dengan sang ibu, Halimah, perlahan menjauh karena ia sering mengabaikan perhatian dan nasihat dari rumah.

Kehidupan Hikmah berubah drastis ketika Halimah meninggal dunia. Rasa kehilangan kemudian bercampur dengan penyesalan karena banyak pesan sang ibu yang dulu ia abaikan. Kehadiran Halimah dalam mimpi membuat Hikmah mulai mencari jawaban tentang ikhlas, doa, kematian, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam pencarian tersebut, Hikmah mendapat dukungan dari Hotib, sahabat masa kecil yang Teuku Ryzki perankan. Sophia juga menjadi bagian penting karena hubungan mereka menghadirkan persoalan cinta dengan perbedaan keyakinan. Perjalanan itu membuat Hikmah melihat kembali arti keluarga, persahabatan, cinta, serta keimanan.

Pemeran dan Detail Produksi

Jajaran pemeran utama terdiri atas Ari Irham jadi Hikmah, Lutesha menjadi Sophia, Teuku Ryzki memerankan Hotib, serta Rieke Diah Pitaloka jadi Halimah atau ibunya Hikmah. Pemeran pendukungnya mencakup Sita Nursanti sebagai Susi, Onadio Leonardo sebagai Geri, Alfie Alfandy sebagai Ustad Basir, dan Arie Kriting sebagai Marbot. 

Baca Juga: Film Ketok Mejik, Drama Komedi Fantasi tentang Bengkel Warisan yang Penuh Kejutan

Guzman Sige berperan sebagai Andri, Darren Rafid Khairan sebagai Yuda dan Miing Bagito sebagai Pak RT. Kemudian, Irgi Fahrezi berperan sebagai ayah Hikmah, Rania Putri Sari sebagai LC, Faudiyah Sari Chaniago sebagai Bu Asih, serta Husein Ja’far Al Hadar sebagai kameo dan Dimar Han sebagai Bouncer 2.

Produksi Wahana Kreator membawa film ini menuju durasi 115 menit atau sekitar 1 jam 55 menit. Salman Aristo dan Sigit Pratama tercatat sebagai produser, sedangkan Cesa David Luckmansyah mengarahkan keseluruhan cerita. Film Seni Merayu Tuhan mengambil inspirasi dari buku karya Habib Husein Ja’far Al Hadar dengan judul yang sama.

Jadwal Tayang

Seni Merayu Tuhan mulai hadir serentak pada Kamis, 13 Agustus 2026 di bioskop Indonesia. Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis Indonesia menjadi beberapa jaringan bioskop yang menyediakan film tersebut. Jadwal tiap kota dapat berbeda sehingga penonton perlu mengecek jam tayang sesuai lokasi masing-masing.

Film ini cocok bagi penonton yang menyukai drama religi dengan pendekatan personal. Ceritanya lebih banyak mengajak penonton memahami perasaan tokoh daripada menyodorkan nasihat secara langsung. Nuansa kontemplatif menjadi salah satu ciri yang paling terasa sepanjang cerita.

Review dan Kelebihan Film

Film Seni Merayu Tuhan memperoleh rating 3/5 berdasarkan melihat dari sejumlah ulasan. Salah satu kekuatan utamanya muncul dari cara cerita menggambarkan keresahan anak muda tanpa membuat tokoh utama terasa sempurna. Dialog tentang ibadah, kehilangan, dan hubungan dengan Tuhan terasa dekat dengan persoalan generasi muda.

Visual menjadi bagian lain yang menarik perhatian. Pengalaman Cesa David Luckmansyah sebagai editor terasa lewat penyusunan gambar yang perlahan membangun suasana emosional. Penggunaan seluloid 16mm pada beberapa bagian juga memberi tekstur yang personal dan intim.

Sound design serta scoring turut memperkuat perubahan emosi dalam sejumlah adegan. Musik tidak selalu muncul untuk memaksa penonton menangis, tetapi hadir mengikuti suasana cerita. Adegan azan di pemakaman menjadi salah satu momen sederhana yang punya daya emosional kuat. Meski begitu, ritme cerita terkadang terasa terlalu tenang.

Film Seni Merayu Tuhan tetap memiliki daya tarik karena berani menampilkan spiritualitas sebagai proses yang penuh pertanyaan. Cerita tidak menggambarkan hijrah sebagai perubahan instan menuju sosok manusia sempurna. Hikmah justru harus jatuh, merasa kecewa, mencari jawaban, lalu perlahan belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Baca Juga: Film Toko Perlengkapan Mayat, Kisah Penglaris Berujung Petaka Keluarga 

Bagi penonton yang mencari tontonan dengan suasana reflektif, film Seni Merayu Tuhan ini menawarkan pengalaman cukup personal. Kekuatan visual, musik, serta akting para pemain membantu menjaga emosi cerita sampai akhir. Film Seni Merayu Tuhan akhirnya hadir bukan untuk memberi semua jawaban, melainkan untuk mengajak penonton memikirkan kembali arti kehilangan dan jalan pulang kepada Tuhan. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |