harapanrakyat.com,- Mempelajari kisah Ali Al Muwaffaq memberikan sebuah wawasan yang amat berharga bagi kita. Peristiwa ini merupakan bagian dari literatur sejarah Islam yang penuh dengan pesan moral sangat mendalam.
Selanjutnya, cerita kuno ini senantiasa mengajarkan kepada kita tentang hakikat keikhlasan di dalam menjalankan ibadah. Ulama besar bernama Abdullah bin Mubarak mengalami sebuah peristiwa gaib saat tertidur di Masjidil Haram.
Baca juga: Kisah Ummu Waraqah, Sahabat Perempuan Rasulullah yang Menjadi Imam Sholat
Pada mulanya, ia bermimpi mendengar percakapan antara dua malaikat mengenai ibadah orang-orang di tanah suci. Kemudian, malaikat tersebut menyatakan bahwa tidak ada satupun ibadah jamaah yang diterima oleh Sang Pencipta.
Namun demikian, ada satu orang yang mendapat pahala sempurna meski tidak berangkat menuju tanah suci. Orang tersebut adalah seorang tukang sol sepatu yang tinggal di wilayah Kota Damaskus masa itu. Oleh karena itu, sang ulama segera mencari keberadaan pria tersebut untuk mengetahui amalan sangat mulianya.
Siapa Ali Al Muwaffaq?
Setelah bertemu, pria sederhana itu mulai menceritakan perjuangannya mengumpulkan uang selama puluhan tahun sangat lamanya. Ia sungguh ingin berangkat menunaikan rukun kelima dengan tabungan yang telah dikumpulkan secara susah payah.
Suatu ketika, istrinya yang sedang hamil tua sangat mengidamkan masakan lezat dari arah tetangga sebelahnya. Ia kemudian pergi mendatangi rumah tetangganya demi meminta sedikit makanan untuk sang istri yang tercinta.
Baca juga: Membongkar Fakta Sejarah dan Kisah Raja Zulkarnain di Masa Lampau
Akan tetapi, tetangganya yang merupakan seorang janda miskin itu menangis tersedu saat menceritakan keadaan keluarganya. Janda tersebut terpaksa memasak daging keledai mati demi memberi makan anak-anaknya yang sedang kelaparan parah.
Perempuan malang itu menjelaskan bahwa makanan tersebut halal bagi keluarganya namun sungguh haram bagi tetangganya. Mendengar kenyataan pahit itu, sang pria merasa sangat terpukul dan hatinya pun hancur berkeping-keping seketika. Akhirnya, ia segera pulang untuk mengambil seluruh tabungan yang telah disiapkan demi perjalanan haji.
Pengorbanan Demi Kemanusiaan
Ia lalu memberikan semua uang itu kepada keluarga miskin tersebut agar mereka bisa membeli makanan. Dengan penuh rasa ikhlas, ia menetapkan di dalam hatinya bahwa sedekah itu adalah nilai ibadahnya. Ibnu Mubarak yang mendengarkan penjelasan tersebut langsung menyadari kebenaran mutlak dari mimpinya di tanah suci.
Baca juga: Menelusuri Biografi Imam Ibnu Majah dan Jejak Karyanya dalam Sejarah Islam
Kisah keteladanan ini termuat secara sangat terperinci di dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad. Di samping itu, literatur klasik ini senantiasa menjadi pengingat agar kita lebih mengutamakan bantuan kemanusiaan. Menolong orang miskin yang kelaparan kadang lebih diutamakan daripada sekadar memaksakan diri berangkat menuju Makkah.
Pengorbanan luar biasa ini menjadi puncak dari sejarah agung turunnya sebuah kisah mulia Ali Al Muwaffaq. Catatan sejarah masa lalu ini senantiasa mengingatkan kita mengenai pentingnya nilai kepedulian terhadap sesama manusia. Pada akhirnya, membantu para tetangga yang sedang menderita kelaparan memiliki derajat yang sangat luhur sekali. (Muhafid/R6/HR-Online)

4 hours ago
4

















































