Kisah Masa Kepemimpinan Prabu Niskala Wastu Kancana Jaga Moral Masyarakat Rusak dari Judi Sabung Ayam

4 hours ago 2

harapanrakyat.com,- Sejarah Indonesia mencatat kebesaran dari sosok Prabu Niskala Wastu Kancana sebagai penguasa agung di tatar Sunda masa lampau. Tokoh ini merupakan putra kandung dari Prabu Maharaja Linggabuana yang sangat dicintai oleh seluruh rakyatnya. 

Pada masa lalu, ayahandanya gugur dengan sangat tangguh dan gagah berani dalam tragedi pilu bernama Perang Bubat. Karena pewaris tahta ini masih sangat kecil, pamannya yang bernama Hiyang Bunisora mengambil alih sementara pemerintahan kerajaan. 

Baca juga: Mengulas Keunikan Batu Kolenjer di Astana Gede Kawali Ciamis, Ada Simbol Telapak Tangan dan Kaki

Kemudian, sang paman senantiasa mendidik keponakannya tersebut dengan berbagai ilmu kenegaraan serta pemahaman nilai keagamaan yang luhur. Oleh karena itu, pangeran muda ini tumbuh besar menjadi sosok pemimpin yang sangat bijaksana dan juga cerdas.

Sesudah menginjak usia dewasa, barulah beliau resmi naik tahta untuk memimpin wilayah kekuasaan peninggalan sang ayahanda tercinta. Di samping itu, masa pemerintahannya sangat dikenal selalu mengutamakan tingkat kesejahteraan serta ketenteraman seluruh rakyat di pedesaan. Bahkan, ia sangat sukses memegang kendali pemerintahan kerajaannya selama seratus empat tahun lamanya tanpa terputus sama sekali.

Kebijakan Tegas Prabu Niskala Wastu Kancana Menjaga Moral Rakyat

Selama menjalani masa kepemimpinannya, sang prabu sangat menentang keras segala bentuk praktik kejahatan berupa perjudian sabung ayam. Aturan tegas ini sengaja dikeluarkan agar rakyatnya tidak terjerumus ke dalam sebuah jurang kesengsaraan hidup yang sangat panjang. Sebaliknya, ia selalu mendorong masyarakat luas untuk senantiasa membiasakan diri dalam berbuat suatu kebaikan pada setiap harinya.

Bukti nyata mengenai aturan tegas raja ini terekam dengan sangat jelas dalam prasasti peninggalannya di kawasan Astana Gede Kawali. Selain itu, pilar batu tersebut berisi pesan luhur bagi setiap generasi penerus agar selalu menjaga nilai moral kemanusiaan. Dengan demikian, tata kehidupan masyarakat di bawah naungan kerajaannya selalu berjalan harmonis dengan penuh rasa kedamaian yang abadi.

Baca juga: Jejak Peninggalan Kerajaan Galuh, Prasasti Mandiwunga Ciamis

Kebijakan ini rupanya terinspirasi secara langsung dari sebuah peristiwa kelam yang pernah menimpa kerajaannya pada masa lalu. Pada masa silam, leluhurnya pernah mempertaruhkan kekuasaan kerajaan yang amat besar hanya karena sebuah perjudian gelap sabung ayam. Karena alasan itulah, beliau sungguh tidak ingin kejadian memalukan tersebut terulang kembali di tengah masa pemerintahannya yang gemilang.

Peninggalan dan Akhir Hayat Prabu Niskala

Jejak kebesaran sang pemimpin tangguh ini juga dibuktikan dengan temuan enam buah prasasti batu di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Sementara itu, semua monumen tersebut sengaja ditulis menggunakan pahatan aksara serta tata bahasa Sunda kuno yang sangat khas. Tentu saja, peninggalan bersejarah ini menjadi saksi bisu atas tercapainya puncak kejayaan peradaban nenek moyang kita di nusantara.

Baca juga: Menguak Sejarah dan Mitos Mata Air Cikawali di Astana Gede Ciamis 

Bukan hanya sekadar membuat prasasti, ia juga turut menata sistem kalender kuno demi berbagai keperluan hidup rakyatnya sehari-hari. Kemudian, sang raja juga memperindah kawasan keraton Surawisesa agar menjadi pusat jalannya pemerintahan yang sangat megah dan nyaman. Lebih lanjut, ia gigih membangun parit pertahanan di sekeliling wilayahnya demi melindungi rakyat dari berbagai ancaman musuh.

Pada usia yang sudah sangat senja, sang raja terkemuka ini akhirnya memutuskan untuk melepaskan seluruh jabatan tahta kerajaan tersebut. Setelah itu, beliau lebih memilih untuk menarik diri dari keramaian dan menjalani sisa hidupnya sebagai seorang pertapa suci. Raja bijaksana yang terlahir dengan nama Prabu Niskala Wastu Kancana ini wafat lalu dipusarakan di kawasan Nusalarang. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |