harapanrakyat.com,- Tulisan Arab pegon memiliki peran yang sangat besar pada masa lampau nusantara. Peran luhur ini sangat terlihat jelas dalam lintasan sejarah Islam di tanah Jawa. Oleh karena itu, kita perlu mengenal warisan budaya bangsa ini secara lebih mendalam.
Baca juga: Sejarah Awal Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa dalam Catatan History of Java
Berdasarkan catatan sejarah, Sunan Ampel merupakan pencipta aksara unik ini pada abad kelima belas. Selanjutnya, beliau memadukan abjad hijaiyah dengan tata bahasa Jawa secara sangat indah. Tujuannya adalah untuk memudahkan penduduk lokal dalam memahami ajaran agama baru tersebut.
Sejarah Tulisan Arab Pegon dan Perannya di Pesantren Salaf
Secara bahasa, istilah pego ini memiliki arti sesuatu yang menyimpang atau tidak lazim. Hal ini karena penulisan teks bahasa Jawa menggunakan abjad hijaiyah dirasa cukup aneh diucapkan. Meskipun demikian, penggunaan aksara ini justru menyebar sangat luas ke berbagai pelosok wilayah nusantara.
Selama berabad-abad, karya intelektual banyak ditulis menggunakan abjad modifikasi yang sangat khas ini. Hal ini terbukti dengan banyaknya naskah kuno yang menyimpan pedoman tasawuf dan fikih. Kemudian, para pendidik menerjemahkan teks tersebut memakai metode makna gundul setiap harinya.
Baca juga: Jejak Pesantren Pasambangan Jati, Pusat Pendidikan Islam Tertua di Cirebon
Pada masa penjajahan, huruf ini berfungsi sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni kolonial Belanda. Bahkan, para pemuka agama menggunakannya sebagai kode rahasia dalam berkirim pesan surat penting. Akibatnya, aparat Belanda sama sekali tidak mampu memahami isi pesan rahasia para pejuang.
Salah satu bukti sejarah adalah penulisan naskah Resolusi Jihad pada masa perjuangan kemerdekaan. Naskah penting tersebut ditulis menggunakan abjad modifikasi ini demi menjaga kerahasiaan sebuah strategi. Sesudah itu, teks ini dibawa oleh para pejuang kemerdekaan menuju wilayah kota Surabaya.
Simbol Akulturasi Para Ulama Nusantara
Selain fungsi politik, abjad ini mencerminkan tingginya nilai akulturasi peradaban di nusantara. Ajaran agama mampu bersanding secara damai dengan tradisi kuno tanpa harus saling menghapus. Selain itu, abjad ini sering diadaptasi untuk menulis bahasa Melayu dan Sunda kuno.
Saat ini, penggunaan aksara tersebut lebih banyak ditemukan di dalam lembaga pendidikan tradisional. Mereka masih setia menggunakannya untuk memaknai berbagai literatur klasik yang dipelajari setiap hari. Di sisi lain, generasi muda zaman sekarang mulai jarang mengenali warisan luhur ini.
Baca juga: Temuan Manuskrip Kuno Abad ke-16 di Cilacap Jadi Bukti Otentik Sejarah Wali Songo
Oleh sebab itu, berbagai komunitas mulai gencar mengusulkan aksara ini kepada pihak UNESCO. Mereka sangat berharap abjad bersejarah ini diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda. Bersamaan dengan itu, program digitalisasi juga mulai dilakukan agar huruf ini bisa dilestarikan.
Upaya digitalisasi abjad ini sangat membantu proses pelestarian budaya lokal di era modern. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia saat ini terus berupaya mendaftarkan abjad luhur tersebut. Tujuannya agar aksara tradisional nusantara ini dapat diakses dengan mudah pada perangkat digital.
Upaya pelestarian warisan ini menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa kita. Karya sastra bernilai tinggi ini selalu menjadi bukti kekayaan sejarah Indonesia masa lalu. Pelestarian tulisan modifikasi Arab bernama pegon ini akan selalu menjaga identitas budaya bangsa. (Muhafid/R6/HR-Online)

14 hours ago
12

















































