Menjaga Akar, Memeluk Zaman: Inovasi Pemuda di Penglipuran Village Festival XIII

9 hours ago 12

Desa Wisata Penglipuran kembali mengukuhkan eksistensinya di kancah internasional melalui gelaran Penglipuran Village Festival (PVF) XIII yang resmi dibuka pada Kamis (9/7/2026).

Mengusung tema besar “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif,” festival tahun ini menandai pencapaian membanggakan dengan menembus daftar 100 Kharisma Event Nusantara (KEN) untuk keempat kalinya.

Baca Juga: Festival Budaya Lembah Baliem 2026: Lokasi Pindah ke Walesi, Simak Jadwal dan Panduan Lengkapnya!

Ada yang berbeda pada pembukaan PVF kali ini. Panitia memutuskan untuk memusatkan prosesi pembukaan di Taman Makam Pahlawan Penglipuran. Selain untuk mengakomodasi jumlah pengunjung yang lebih besar, pemilihan lokasi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan lokal. Khususnya mengenang jasa pahlawan Anak Agung Anom Mudita yang gugur di kawasan heroik tersebut.

Mengawali prosesi dengan menggelar tradisi Peed Aya, sebuah iring-iringan budaya melibatkan ratusan perempuan desa yang menjunjung gebogan atau sesajen hasil bumi.

Menariknya, yang ikut dalam parade ini tidak hanya warga lokal, tetapi juga melibatkan pejabat daerah serta tokoh puri yang berjalan beriringan menuju pusat kegiatan.

Salah satu keunikan utama Penglipuran Village Festival XIII adalah keterlibatan penuh generasi muda. Pengerjaan seluruh konsep dan operasional festival oleh pemuda-pemudi Desa Penglipuran.

Langkah ini sebagai strategi estafet kepemimpinan untuk melahirkan inovasi pariwisata yang relevan dengan perkembangan zaman (up-to-date). Namun tetap menjaga akar nilai luhur desa adat.

Baca Juga: Eksplorasi Budaya Pesisir: Karangbolong Culture Festival 2026 Siap Digelar di Kebumen

Kelian Adat Desa Penglipuran, I Wayan Budiarta, menegaskan bahwa Penglipuran Village Festival XIII ini adalah wujud tanggung jawab moral desa untuk terus berkreasi di dunia pariwisata.

“Kami ingin menunjukkan bahwa kesadaran kolektif masyarakat tetap fokus pada pelestarian adat dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan predikat Penglipuran sebagai salah satu desa terbersih di dunia,” ungkapnya.

Dampak Ekonomi dan Apresiasi Pemerintah

Pemerintah pusat melalui Kemenparekraf memberikan apresiasi tinggi terhadap model pariwisata berbasis budaya dan konsep Tri Hita Karana yang diterapkan Penglipuran.

Asisten Deputi Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono, menyebut festival ini sebagai contoh ideal yang patut ditiru oleh daerah lain di Indonesia.

Baca Juga: Wisata Berkualitas: Liburan Sambil Melestarikan Bumi di Penglipuran Village Festival Juli 2026

Secara ekonomi, Penglipuran Village Festival XIII mampu memberikan dampak instan bagi masyarakat lokal. Target kunjungan pada event ini 4.000 hingga 5.000 wisatawan per hari. Serta perputaran modal bagi perajin UMKM dan pelaku kuliner lokal.

Festival tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 9 hingga 11 Juli 2026. Dengan keberhasilan masuk dalam jajaran The Best Tourism Village tingkat dunia, harapannya festival ini menjadi katalisator bagi kebangkitan pariwisata Bali yang lebih hijau. Sekaligus berdampak positif bagi lingkungan. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |