Dampak Dolar Menguat, Harga Sembako di Pangandaran Naik dan Stok Mulai Menipis

3 hours ago 4

harapanrakyat.com,- Sebagai respons atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sejumlah harga kebutuhan pokok (sembako) di pasar tradisional Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mulai merangkak naik.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari pihak eksekutif dan legislatif yang menilai dampaknya sudah menyentuh kehidupan masyarakat hingga tingkat desa.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Industri Kabupaten Pangandaran, Tedi Garnida mengatakan, kenaikan harga beberapa komoditas telah terjadi sejak sepekan terakhir.

Baca Juga: Bawang Merah Rp 50 Ribu, Beras Naik, Minyakita Pun Menghilang di Pasar Banjar

Harga Sembako di Pangandaran Naik Dampak Dolar Menguat

Ia menyebutkan, meski belum tergolong drastis, namun perubahan harga mulai terlihat pada sejumlah bahan pangan yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Harga cabai keriting misalnya, naik dari Rp 45 ribu menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Cabai rawit yang sebelumnya berada di angka Rp 70 ribu per kilogram, kini menembus Rp 80 ribu,” kata Tedi, Selasa (9/6/2026).

Sementara cabai hijau naik dari Rp 26 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada bawang merah yang kini dijual Rp 45 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 43 ribu. Serta daging ayam broiler yang bergerak dari Rp 39 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

“Sebetulnya, pasokan kebutuhan pokok di pasar masih tersedia. Namun jumlahnya mulai berkurang dibandingkan kondisi normal. Kami menilai situasi tersebut perlu terus dipantau agar tidak memicu lonjakan harga yang lebih tinggi dalam waktu dekat,” papar Tedi.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai merasakan tekanan dari kenaikan harga minyak goreng kemasan. Warga Kecamatan Kalipucang, Aningsih (49), mengaku pengeluaran rumah tangganya bertambah akibat lonjakan harga produk tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Harga minyak goreng kemasan dua liter yang sebelumnya berkisar Rp 38 ribu, kini mencapai Rp 45 ribu. Sementara kemasan satu liter yang semula Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu, saat ini harganya sudah menyentuh Rp 23 ribu per liter.

“Kenaikannya cukup terasa untuk kebutuhan dapur sehari-hari. Belanja jadi lebih besar dari biasanya,” ungkap Aningsih.

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Daya Beli Masyarakat di Pedesaan

Fenomena kenaikan harga sembako di Pangandaran ini turut menjadi sorotan Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata.

Baca Juga: Harga Plastik di Kios Pamarican Ciamis Melonjak Drastis, Pedagang Mengeluh Modal Membengkak

Menurutnya, pelemahan rupiah yang disebut telah menembus Rp17.656 per dolar AS bukan hanya persoalan ekonomi makro atau pasar keuangan saja. Melainkan memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama warga di pedesaan.

Ida menegaskan, meskipun masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar AS, efek pelemahan rupiah tetap dirasakan melalui kenaikan harga sembako dan biaya hidup sehari-hari.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi menekan pelaku usaha kecil dan menengah yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Produsen tahu, tempe, roti, hingga produk olahan susu kini menghadapi beban biaya produksi yang lebih tinggi akibat meningkatnya harga bahan baku dan distribusi.

“Kenaikan biaya impor dan distribusi dapat memberikan tekanan besar terhadap UMKM, koperasi. Serta rantai distribusi pangan yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat desa,” papar Ida.

Dorong Penguatan Distribusi Pangan hingga Pelosok Daerah

Karena itu, pihaknya meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Ida mendorong penguatan distribusi pangan hingga pelosok daerah, perlindungan terhadap UMKM dan koperasi. Serta optimalisasi peran BUMN sektor pangan sebagai penyangga harga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca Juga: Ribuan Kios Tutup di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, Pedagang Keluhkan Sepinya Pembeli dan Infrastruktur Buruk

Menurut Ida, ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas strategis masih cukup tinggi. Gandum masih sepenuhnya didatangkan dari luar negeri. Sementara kedelai, bawang putih, susu, dan gula industri juga sebagian besar bergantung pada pasokan impor.

“Tentu, kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah langsung berdampak pada meningkatnya biaya pengadaan berbagai komoditas dalam waktu singkat,” tutupnya. (Kiki/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Berita Rakyat | Tirto News |