harapanrakyat.com,- Dua dusun di Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat yang dihuni sekitar 1.200 jiwa, kini bernapas lega. Puluhan tahun mereka terisolasi di tepi Waduk Saguling, harus bertaruh nyawa menyeberang perahu atau memutar jauh berjam-jam lewat jalur darat. Kini, Jembatan Gantung Saguling di atas Sungai Cicadas menjadi penyelamat yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.
Sebelumnya, perjalanan ke pusat kesehatan, kantor desa, atau sekadar beraktivitas ke desa tetangga selalu menjadi perjuangan berat. Jalur darat memakan waktu dua kali lipat lebih lama dibanding menyeberangi air. Ke Puskesmas Cililin saja bisa butuh waktu satu hingga dua jam, ke Puskesmas Pembantu pun harus menempuh jarak 16-20 kilometer. Padahal lewat jalur air, perjalanan cukup sepertiga waktu itu saja.
Baca Juga: Sambut Libur Sekolah, Disparbud Bandung Barat Perketat Pengawasan Objek Wisata
Dampak Positif Jembatan Gantung Saguling bagi Aktivitas Warga
Kepala Desa Karanganyar Asep Hermawan mengaku, sejak Jembatan Gantung Saguling dibangun setahun lalu, hidup warga berubah jauh lebih mudah. Tak lagi takut naik rakit, tak lagi harus berputar jauh.
“Alhamdulillah, sekarang warga tidak lagi kesulitan mengakses kesehatan maupun bepergian. Jembatan ini sangat membantu kami,” ujarnya, Senin (23/8/2026).
Baca Juga: Jembatan Gantung di Pajaten Pangandaran yang Ambruk Mulai Diperbaiki
Jembatan itu hadir setelah kisah anak-anak yang harus menyeberang naik rakit demi sekolah viral di media sosial. Dibangun oleh pihak swasta, jembatan ini bahkan menghubungkan dua kecamatan sekaligus Cililin dan Cipongkor. Meski begitu, kapasitasnya terbatas, hanya tiga orang dan satu motor yang boleh melintas secara bergantian demi alasan keselamatan.
“Memang harus bergantian, pejalan kaki maupun pengendara motor. Tapi kami tetap bersyukur, setidaknya sudah ada jembatan yang aman untuk menyeberang,” tambah Asep. Namun di syukur itu, terselip harapan yang lebih besar kedepan ingin ada jembatan permanen yang lebih lebar dan kokoh.
Baca Juga: Nenek yang Jatuh dari Jembatan Gantung di Garut Ditemukan Tewas
Asep sudah berulang kali mengajukan permohonan pembangunan jembatan permanen ke pemerintah daerah. Lokasinya berada di lahan Indonesia Power, sehingga IP menyarankan surat dikirim ke Kecamatan dan Dinas PUTR KBB. Namun hingga kini, belum ada tanggapan apa pun.
“Kami menginginkan jembatan permanen, agar lebih aman, lebih luas, dan motor bisa leluasa melintas tanpa harus bergantian. Jembatan yang ada ini kan bantuan swasta, jadi harapan ke pemerintah tetap ada,” ungkapnya.
Warga di tepi Saguling kini punya harapan di atas jembatan gantung yang bergoyang itu. Namun mimpi mereka sederhana yaitu suatu hari, jembatan kokoh berdiri di sana, tak lagi harus bergantian, tak lagi bergoyang cukup lewat, aman, dan sampai tujuan dengan tenang. (Eri/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

9 hours ago
9

















































