harapanrakyat.com,- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menyebut dampak kekeringan akibat musim kemarau tahun ini kian meluas di berbagai wilayah. Hingga Selasa 28 Juli 2026, tercatat ada 15 daerah di Jawa Barat melaporkan krisis air bersih yang berdampak pada ratusan ribu jiwa.
Baca juga: AHY Ungkap Rencana Operasi Modifikasi Cuaca Lewat Teknologi Drone demi Hadapi El Nino
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat mengatakan, merujuk pada pemutakhiran data Pusdalops, terdapat 89 kecamatan serta 194 desa dan kelurahan yang mengalami kekeringan.
Total warga terdampak kekeringan mencapai 61.504 Kepala Keluarga (KK) atau setara 205.567 jiwa, lalu distribusi bantuan air bersih hingga mencapai 4.013.500 liter.
Kemarau Ekstrem Seperti Kondisi Tiga Tahun Silam
Dampak krisis air terbesar berpusat di tiga wilayah, yakni Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Tasikmalaya. “Tiga wilayah yang paling terdampak kekeringan. Pertama Kabupaten Bogor, lalu Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Tasikmalaya,” kata Hadi, Rabu (29/7/2026).
Hadi berujar, Kabupaten Bogor mencatat jumlah warga terdampak kekeringan terbanyak mencapai 107.109 jiwa atau 31.160 KK. Kekeringan yang melanda Kabupaten Bogor berada di 84 desa/kelurahan di 24 kecamatan. Namun, Kabupaten Bogor sudah memperoleh distribusi air bersih 847.500 liter.
Kemudian, 26.995 jiwa di 18 desa/kelurahan pada 9 kecamatan di Kabupaten Bekasi terdampak kekeringan. Meski begitu, Kabupaten Bekasi mendapat distribusi air paling besar di Jawa Barat yaitu, 2.232.000 liter.
Baca juga: Atasi Kekeringan Ekstrem di Cimahi, Kementerian PU Turunkan 40 Ribu Liter Air Bersih Sepekan
Sedangkan di Kabupaten Tasikmalaya ada 24.517 jiwa di 18 desa/kelurahan pada 12 kecamatan terdampak kekeringan. Saat ini warga yang terdampak sudah mendapat bantuan air bersih 219.000 liter.
Hadi menambahkan, kekeringan juga melanda Kota Sukabumi, Bogor, Banjar, Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Sukabumi, Purwakarta, Pangandaran, Karawang, Garut, Ciamis, dan Indramayu. “Tahun ini kondisi kemarau terasa lebih berat akibat fenomena El Nino yang membuat cuaca jauh lebih kering daripada tahun lalu,” ujarnya.
Hadi menuturkan, fenomena kemarau ekstrem tahun ini memiliki kemiripan dengan kondisi pada 2023. Selain karena cuaca, laju pertumbuhan jumlah penduduk juga mempengaruhi konsumsi air bersih.
Saat ini, BPBD Jawa Barat mengintensifkan koordinasi dengan PDAM hingga Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengatasi dampak kekeringan.
Seiring dengan upaya itu, Hadi mengimbau kepada masyarakat agar senantiasa menghemat penggunaan air bersih. “Kami mengimbau masyarakat agar bijak memanfaatkan air bersih dan segera melapor ke aparatur kewilayahan jika mengalami kesulitan air agar bantuan segera terdistribusikan,” tuturnya. (Reza/R6/HR-Online)

19 hours ago
16

















































